story 4 · episode 2
Desa Tanpa Penduduk
05 menit membaca
Desa itu bernama Ngadirejo. Di peta digital, namanya masih tercetak kecil, dengan angka di sebelahnya: penduduk 214.
Aku jurnalis. Tugasku sederhana — liputan human interest tentang desa-desa yang mulai ditinggalkan anak mudanya. Aku bawa kamera, buku catatan, dan termos kopi yang sudah dingin sejak kilometer kedua.
Perjalanan masuk butuh tiga jam dari jalan provinsi. Aspalnya berhenti di tengah hutan pinus, lalu berubah jadi tanah yang licin. Tidak ada papan penunjuk. Tidak ada pos ronda.
Tapi desanya ada.
Dan desanya sunyi.
* * *
Aku tiba pukul sebelas siang. Matahari tepat di atas kepala, panas menyengat aspal yang tidak ada.
Tapi tidak ada satu pun orang di jalan.
Aku melewati warung. Pintunya terbuka. Di atas meja, nasi masih mengepul di piring — sambal, tempe, ikan asin, dan segelas teh yang uapnya masih tipis-tipis naik.
Aku menyentuh kursinya. Hangat.
"Permisi!"
Suaraku jatuh di antara rumah-rumah dan tidak kembali.
Aku melangkah lebih jauh. Rumah-rumah itu bersih. Sapu bersandar di dinding. Jemuran penuh baju basah. Sepeda terparkir rapi, roda belakangnya masih berputar pelan, seperti baru saja ditinggalkan seseorang yang bergegas.
Tapi tidak ada siapa-siapa.
Aku menengok ke jendela rumah kedua. Di ruang tamunya, televisi menyala.
Rumah ketiga. Televisi menyala.
Rumah keempat, kelima, keenam. Semuanya menyala. Layar biru, gambar bergetar, suara pelan — seperti siaran yang tertinggal di saluran mati.
Setiap rumah menyala. Tidak ada satu pun yang dinyalakan oleh manusia.
* * *
Aku berjalan sampai ujung desa. Sepuluh rumah. Dua puluh. Lima puluh. Semua sama.
Nasi hangat. Televisi menyala. Pintu terbuka.
Di depan salah satu rumah, aku berhenti. Di terasnya ada kursi goyang yang masih bergerak. Pelan. Naik-turun. Naik-turun. Seperti baru saja ditinggalkan.
Aku menunggu kursi itu berhenti.
Butuh empat menit.
Dan selama empat menit itu, aku tidak mendengar satu pun burung. Tidak satu pun jangkrik. Tidak ada angin yang menggerakkan daun pisang di belakang rumah.
Hanya televisi. Puluhan televisi. Bergumam bersamaan, seperti doa yang tidak selesai.
* * *
Kantor desa ada di tengah, bangunan putih kecil dengan bendera yang sudah pudar. Pintunya juga terbuka.
Di dalam, meja-meja rapi. Papan jadwal posyandu masih terpasang. Ada kopi yang belum diminum di meja kepala desa, permukaannya sudah berkerak.
Dan di atas meja pelayanan, terbuka sebuah buku besar bersampul cokelat.
Buku tamu.
Aku mendekat. Halaman-halamannya penuh. Nama demi nama, tanggal demi tanggal, tulisan tangan yang berbeda-beda. Tanda tangan. Kadang ada keterangan: urusan KTP, surat tanah, pindah domisili.
Aku membalik ke halaman terakhir yang terisi.
Tanggalnya hari ini.
Dan di baris paling bawah, dengan tinta hitam yang masih basah — aku bisa melihat kilaunya di bawah lampu — tertulis satu nama.
Namaku.
Lengkap. Nama depan, nama tengah, nama belakang. Bahkan gelar yang tidak pernah kupakai di dokumen resmi.
Tanda tangannya persis tanda tanganku. Goresan yang sama, miring ke kanan, dengan ekor panjang di huruf terakhir.
Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.
Di kolom keterangan, ada tulisan kecil.
Penduduk. Meninggal 17 tahun lalu.
* * *
Aku menutup buku itu. Tanganku dingin sampai ke siku.
Aku duduk. Aku tidak tahu kenapa aku duduk. Kakiku lemas seperti habis lari jauh.
Aku menoleh ke jendela kantor desa. Dari sini, aku bisa melihat seluruh jalan utama. Kosong. Sepi. Puluhan pintu terbuka. Puluhan televisi menyala.
Dan di ujung jalan, di depan rumah terakhir, kursi goyang itu masih bergerak.
Naik-turun.
Naik-turun.
Aku membuka ponsel. Tidak ada sinyal. Tidak ada jam — layarnya beku di satu angka, seperti ponsel yang baru saja mati dan belum sempat menyala kembali.
Angka itu: 03.17.
Padahal matahari masih di atas kepalaku.
* * *
Aku berdiri. Aku harus keluar dari sini.
Tapi saat aku melangkah ke pintu, aku mendengar sesuatu.
Suara televisi di seberang jalan berubah. Bukan lagi gumaman. Bukan lagi siaran mati.
Ada suara pembaca berita. Perempuan. Pelan. Datar.
"...dan hingga kini, desa Ngadirejo masih tercatat berpenghuni. Dua ratus empat belas jiwa. Seluruh warga dinyatakan hilang dalam satu malam, tujuh belas tahun lalu, tanpa jejak. Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada yang kembali."
Aku menoleh ke televisi itu.
Di layarnya, ada foto. Foto udara desa ini. Tampak dari atas, seperti diambil dari drone.
Dan di tengah jalan utama, di depan kantor desa, ada satu sosok berdiri.
Menghadap kamera.
Kaus oblong abu-abu. Rambut berantakan. Tangan memegang kamera.
Aku.
* * *
Aku berlari keluar. Aku tidak peduli arah. Aku hanya ingin keluar dari jalan ini, dari rumah-rumah ini, dari layar-layar yang menyala.
Tapi aku berhenti di ujung jalan.
Karena jalan itu — jalan tanah yang tadi membawaku masuk — sudah tidak ada.
Yang ada hanya hutan pinus. Rapat. Gelap. Seperti tidak pernah ada jalan yang melewatinya.
Aku menoleh ke belakang.
Dan di sepanjang jalan desa, di depan setiap pintu yang terbuka, kini berdiri seseorang.
Diam. Menghadapku. Tua, muda, perempuan, anak-anak. Dua ratus empat belas orang. Semuanya berdiri di ambang pintu masing-masing, seperti baru saja keluar dari rumah, seperti baru saja selesai makan siang.
Tidak ada yang bergerak.
Lalu, bersamaan, mereka semua menoleh ke arahku.
Dan dari dalam kantor desa, dari buku tamu yang masih terbuka di atas meja, aku mendengar suara pena menulis.
Pelan. Tenang.
Menambahkan satu nama lagi.
Tok.
Tok.
Tok.