TAGAR.id, Jakarta - Maskapai penerbangan di Asia Tenggara baru saja melewati salah satu periode tersibuk dalam sejarah. Di Indonesia saja, lebih dari 1,53 juta penumpang tercatat melakukan perjalanan melalui bandara dalam kurun tiga hari selama periode Lebaran Idul Fitri kemarin. Berdasarkan berbagai indikator, periode tersebut dapat dianggap sukses. Namun menurut Gautam Shekar, Senior Vice President and Head of the Asia Pacific Region di IBS Software, tantangan terbesar bagi industri justru mungkin muncul setelah musim puncak berakhir.
Biaya bahan bakar tetap tinggi dan berfluktuasi, sebagian dipengaruhi oleh ketegangan yang berkepanjangan di Timur Tengah. IATA telah memperingatkan bahwa proses normalisasi dapat memakan waktu berbulan-bulan. Cathay Pacific bahkan memangkas sejumlah penerbangan dari pertengahan Mei hingga akhir Juni untuk menghindari lonjakan biaya bahan bakar.
Di saat yang sama, musim ibadah Haji kini menambah tekanan melalui lonjakan permintaan yang terkonsentrasi dan sangat sensitif terhadap waktu, pada jaringan penerbangan yang belum sepenuhnya pulih dari periode puncak sebelumnya. Tekanan yang dihadapi industri kini berubah bentuk, dan bagi maskapai di seluruh kawasan Asia Tenggara mulai dari Bangkok hingga Manila dan Kuala Lumpur tantangan pengelolaan yang lebih besar mungkin justru masih berada di depan mata.
Maskapai yang memanfaatkan periode di antara musim puncak ini untuk memperkuat fondasi operasional mereka akan memiliki keunggulan dibandingkan mereka yang menunggu gangguan berikutnya untuk memicu perubahan. Pola ini sudah mulai terlihat dan menjadi pembeda antara operator paling tangguh di kawasan Asia Tenggara dengan yang lainnya.
Terdapat tiga titik kerentanan utama yang terus muncul. Ketiganya bukanlah isu baru, namun di tengah tingginya harga bahan bakar dan volatilitas permintaan saat ini, biaya yang harus ditanggung akibat mengabaikannya menjadi jauh lebih besar.