JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Senin (21/9/2026). Berdasarkan data pasar spot, kurs rupiah ditutup di level Rp17.847 per dolar AS, terdepresiasi 89 poin atau sekitar 0,50 persen dibandingkan penutupan Jumat (18/9/2026) yang berada di posisi Rp17.758 per dolar AS.

Pelemahan serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Senin, JISDOR berada di level Rp17.813 per dolar AS, melemah 0,38 persen dari posisi sebelumnya Rp17.745 per dolar AS.

Sentimen yang Menekan Rupiah

Bank Indonesia (BI) menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga minyak bertahan tinggi di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi itu meningkatkan risiko inflasi global dan memberi tekanan pada outlook fiskal.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangannya di Jakarta.

Dari eksternal, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia menguat 0,11 persen ke level 100,334 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan dolar AS berlanjut setelah kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pekan lalu, ditambah risiko pelepasan posisi yen carry trade yang menambah tekanan pada mata uang negara berkembang.

Langkah Stabilisasi BI

BI menegaskan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Upaya itu dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market.

Selain itu, BI memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas lewat transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif. Intervensi disebut akan dilakukan secara konsisten melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT)," ujar Erwin.

Cadangan Devisa dan Agenda BI

BI mencatat pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter to date (qtd) sebesar 0,37 persen. Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.

Ke depan, pelaku pasar mencermati keputusan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan pada Rabu (23/9/2026), setelah rupiah kembali melemah pada perdagangan awal pekan. Perkembangan nilai tukar, inflasi, serta arah kebijakan bank sentral di berbagai negara menjadi faktor yang akan menentukan arah rupiah dalam beberapa hari mendatang.

Ringkasan Kurs

  • Kurs spot rupiah: Rp17.847 per dolar AS (penutupan Senin, 21/9/2026)
  • JISDOR BI: Rp17.813 per dolar AS
  • Perubahan harian: melemah 0,50 persen (spot) / 0,38 persen (JISDOR)
  • Indeks dolar AS (DXY): 100,334