TAGAR.id – Populasi yang menyusut, calon serdadu yang kian langka, dan tuntutan agar kesetaraan sosial juga berlaku dalam wajib militer membuat Korea Selatan perlahan membuka kembali tabu lama: perempuan di garis depan. Julian Ryall* melaoprkannya untuk Deutsche Welle (DW, 31 Agustus 2026).
Hampir 60 persen warga Korea Selatan kini mendukung perempuan menjalani wajib militer bersama laki-laki, menurut survei terbaru. Angka ini menunjukkan perubahan signifikan terhadap pandangan yang selama ini cendrung menganggap prajurit perempuan sebagai hal yang tabu.
Saat ini pun, ribuan perempuan bertugas di angkatan bersenjata Korea Selatan secara sukarela. Namun, perdebatan mengenai wajib militer bagi perempuan selalu menjadi perkara sensitif.
Tapi, angka kelahiran yang terus menurun dan menyusutnya jumlah calon prajurit, serta pandangan bahwa kesetaraan sosial berarti perempuan juga harus menjalani wajib militer, kembali mencuatkan isu tersebut. Perdebatan terutama menghangat jelang reformasi pertahanan nasional yang dijadwalkan dirilis musim gugur ini.
Namun, masih ada pihak yang bersikeras perempuan sebaiknya dijauhkan dari garis depan. Menurut mereka, Korea Selatan justru harus lebih banyak berinvestasi pada drone dan teknologi canggih lainnya.