Editor : Syaiful W Harahap
Kutu Hyalomma lebih menyukai kondisi hangat dan kering, dan berkat perubahan iklim, kutu ini makin banyak ditemukan di wilayah utara. (Foto: dw.com/id - Fabian Sommer/dpa/picture alliance)
Jerman dan Kosovo Bersatu Lawan Kutu Pembawa Virus Mematikan
9 September 2026 | 7:07

TAGAR.id - Jerman punya lab berkeamanan tinggi, sementara Kosovo memiliki kutu Hyalomma dan pengalaman menghadapi demam Krimea-Kongo yang mematikan. Para ilmuwan Jerman dan Kosovo berupaya melawan penyakit ini serta vektornya. Julia Vergin* melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 8/9/2026).

Kutu ini dapat mendeteksi mangsanya dari jarak hingga 200 meter. Namun, berbeda dengan banyak jenis kutu lainnya yang menunggu di rerumputan hingga korbannya mendekat, kutu ini justru mengejar mangsanya. Baik hewan maupun manusia bisa menjadi targetnya.

Kutu Hyalomma, yang sering disebut sebagai "kutu pemburu besar", sebelumnya banyak ditemukan di Afrika, Asia, dan Eropa Selatan. Namun, akibat perubahan iklim, kutu ini kini mampu bertahan hidup lebih jauh ke utara. Kutu tersebut telah ditemukan di Jerman dan berbagai negara Eropa Timur. Kosovo, yang terletak di Eropa Tenggara, sudah lama menjadi wilayah dengan populasi kutu Hyalomma dengan jumlah besar.

Kutu Hyalomma juga merupakan pembawa virus penyebab demam berdarah Krimea-Kongo (Crimean-Congo Hemorrhagic Fever/CCHF), yaitu penyakit yang sangat berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi. Gejala penyakit ini mirip dengan Ebola atau virus Marburg. Penyakit-penyakit tersebut dapat merusak pembuluh darah dan sistem limfatik, yang dapat menyebabkan pendarahan dalam serta kematian.

Kurtesh Sherifi pertama kali membaca tentang demam berdarah Krimea-Kongo di surat kabar pada tahun 2005, saat ia sedang menyelesaikan studi kedokteran hewannya di Berlin. Artikel tersebut melaporkan bahwa 11 orang di tanah kelahirannya, Kosovo, telah tertular penyakit itu dan lima di antaranya meninggal dunia.

Artikel Asli