TAGAR.id, Jakarta - Gangguan pendengaran sering kali disalahpahami sebagai kondisi yang hanya dialami oleh lansia. Kenyataannya, gangguan pendengaran pada anak merupakan isu serius yang memerlukan perhatian segera. Kondisi ini dapat bersifat bawaan sejak lahir (kongenital) maupun muncul di masa pertumbuhan.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi tersebut dapat berdampak signifikan terhadap kemampuan bicara, perkembangan bahasa, serta keterampilan sosial anak.
Di tengah-tengah kebiasaan masyarakat Indonesia di mana interaksi sosial dan acara kumpul keluarga memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, mengatasi gangguan pendengaran pada anak sejak dini jadi langkah krusial demi kesejahteraan emosional dan kualitas hidup anak di masa depan.
Meskipun demikian, tingkat pemanfaatan solusi medis masih tergolong rendah. Data menunjukkan bahwa hanya 4,1% penyandang disabilitas pendengaran di Indonesia yang saat ini menggunakan alat bantu dengar.
Sementara itu, studi terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2026 menunjukkan bahwa prevalensi Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise-Induced Hearing Loss/NIHL) di Indonesia telah mencapai 4,6%, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Menyadari semakin tingginya kebutuhan akan intervensi dini dan perawatan khusus, Mount Elizabeth Hospitals dan Gleneagles Hospital, yang merupakan bagian dari jaringan IHH Healthcare Singapore, terus memperkuat posisinya sebagai pusat layanan Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) komprehensif bagi pasien asal Indonesia yang membutuhkan diagnosis maupun pengobatan medis mutakhir.
"Pendengaran memegang peranan krusial dalam tumbuh kembang anak, karena hal ini membentuk cara mereka belajar, berkomunikasi, dan terhubung dengan dunia di sekitar mereka," ungkap Dr. Barrie Tan, Spesialis Bedah THT di Gleneagles Hospital. "Sayangnya, banyak pasien yang baru datang kepada kami ketika kondisinya sudah terlambat dari waktu ideal, padahal intervensi yang lebih awal dapat memberikan perubahan yang sangat berarti," kata Dr Barrie Tan.
Saat ini, dengan kemajuan teknologi pendengaran dan perawatan spesialis THT, tujuan penanganan dini jauh lebih dari sekadar memulihkan pendengaran, "Kami ingin membantu pasien kami merasa percaya diri, mengekspresikan diri dengan mudah, membangun hubungan yang bermakna, dan dapat berpartisipasi penuh dalam momen-momen paling berharga—baik itu di sekolah, di tempat kerja, atau sekadar menikmati kehidupan sehari-hari bersama keluarga dan teman."
Masa Krusial untuk Intervensi Dini
Berbagai studi klinis secara konsisten menunjukkan bahwa operasi implan koklea (rumah siput) memberikan hasil pengobatan terbaik jika dilakukan secepatnya. Tindakan implan dini, khususnya sebelum anak berusia 12 bulan, memanfaatkan masa kritis neuroplastisitas, yakni kemampuan otak anak yang sedang berkembang untuk beradaptasi dan membentuk koneksi saraf baru. Langkah ini memberikan manfaat tambahan yang signifikan terhadap proses penerimaan suara di otak, serta mengoptimalkan pemerolehan kemampuan bicara dan bahasa jangka panjang.
Secara spesifik, intervensi dini menghasilkan peningkatan yang nyata pada penguasaan kosakata, kejelasan bicara, serta kemampuan bahasa ekspresif dan reseptif anak. Pada akhirnya, hal ini memungkinkan mereka untuk mencapai fase tumbuh kembang (developmental milestones) yang setara dengan teman-teman sebaya mereka yang memiliki pendengaran normal.
Di Indonesia, operasi implan koklea umumnya dilakukan mulai dari usia 1 hingga 2 tahun ke atas. Namun, untuk memajukan tindakan intervensi pada bayi yang jauh lebih muda, diperlukan tim dengan pendekatan multidisiplin yang sangat khusus, yang mencakup keahlian di bidang otologi anak, anestesi, perawatan intensif, dan rehabilitasi.
Bagi pasien yang mengalami gangguan pendengaran tingkat berat hingga sangat berat, implan koklea dianggap sebagai standar terbaik (gold standard) dalam perawatan. Berbeda dengan alat bantu dengar yang sekadar memperkeras suara, implan koklea melewati struktur telinga dalam yang rusak untuk langsung merangsang saraf pendengaran, sehingga sinyal suara dapat dikirimkan ke otak.
Teknologi mutakhir ini mampu membawa perubahan transformatif, memberikan anak akses terhadap suara pada masa-masa kritis perkembangan bicara dan bahasa, serta memberikan kesempatan bagi penderita gangguan pendengaran berat untuk terhubung lebih utuh dengan dunia di sekitar mereka.
Meskipun sistem implan mutakhir seperti Cochlear™ Nucleus® Nexa™ kini telah tersedia di Indonesia, Singapura sejak lama telah menjadi destinasi utama bagi pasien asal Indonesia yang mencari penanganan medis untuk kasus-kasus yang sangat kompleks.
Dalam bidang THT anak (paediatric ENT), tingkat akurasi diagnosis maupun tindakan bedah sangatlah krusial. Oleh karena itu, Mount Elizabeth Hospitals dan Gleneagles Hospital menyediakan alur pelayanan yang terpadu dan efisien, dirancang khusus untuk memaksimalkan waktu pasien selama berada di Singapura, dengan dukungan teknologi pemulihan pendengaran termutakhir.
Perjalanan Pasien Menuju Pemulihan Pendengaran
Untuk memahami dampak nyata dari intervensi dini yang ditangani oleh ahlinya, kita dapat berkaca pada sebuah kasus terobosan medis di tahun lalu. Dr. Barrie Tan berhasil melakukan operasi implan koklea bilateral (pada kedua sisi telinga) untuk pasien anak termuda di Asia Tenggara, yakni seorang bayi yang baru berusia enam bulan.
Keluarga bayi tersebut berobat dari Filipina ke Singapura untuk mencari perawatan khusus. Mengingat berat badannya yang baru mencapai 8,4 kg pada saat operasi, ukuran anatomi sang bayi yang masih kecil menghadirkan tantangan teknis dan klinis yang signifikan, yang makin rumit dengan adanya keputusan untuk menanamkan implan pada kedua telinga sekaligus dalam satu kali operasi. Kesuksesan prosedur ini dapat terwujud berkat keahlian tim multidisiplin yang sangat spesialis, termasuk dokter spesialis anestesi anak, Dr. Tan Geok Mui. Kasus-kasus kompleks semacam ini membutuhkan perencanaan yang cermat serta kolaborasi erat antara dokter bedah, ahli anestesi, audiolog, spesialis perawatan intensif, dan tenaga profesional rehabilitasi untuk memastikan standar keselamatan dan perawatan tertinggi bagi pasien yang masih sangat belia ini.
Operasi tersebut diselesaikan dengan aman dan sukses, dan bayi tersebut sudah diperbolehkan pulang setelah dirawat inap selama satu malam saja di rumah sakit. Hasil pencitraan medis saat operasi (intraoperative) mengonfirmasi bahwa kedua implan koklea telah berada pada posisi optimal, sementara pengujian pasca-operasi menunjukkan bahwa seluruh elektroda berfungsi sebagaimana mestinya.
Hasil yang sukses ini memberikan sang anak akses paling awal terhadap suara pada masa kritis perkembangan pendengaran, bicara, dan bahasanya, yang menjadi fondasi kuat untuk komunikasi dan pembelajarannya di masa depan.
Dalam kasus anak kompleks lainnya, Dr. Barrie Tan menangani seorang anak berusia 7 tahun bernama Susy Wijaya (nama samaran), yang didiagnosis mengalami gangguan pendengaran sensorineural (sensorineural hearing loss) bilateral, dengan tingkat kerusakan yang lebih parah pada telinga kirinya. Setelah melalui penilaian multidisiplin dan konseling yang komprehensif, Dr. Barrie Tan berhasil melakukan operasi implan koklea pada telinga kiri di bulan Agustus 2025 menggunakan sistem Cochlear™ Nucleus® Nexa™.
Prosedur tersebut berjalan sukses, memungkinkan Susy untuk memulai perjalanannya dalam mendengar dan beradaptasi dengan suara, berkat dukungan teknologi implan mutakhir serta rehabilitasi berkelanjutan.
Kasus ini tercatat sebagai salah satu prosedur pediatrik (anak) pertama di Singapura yang menggunakan sistem implan pintar Cochlear™ Nucleus® Nexa™.
Dirancang dengan teknologi yang siap menyambut masa depan (future-ready) serta fitur konektivitas yang disempurnakan, implan ini mewakili kemajuan signifikan dalam inovasi implan koklea, yang menawarkan berbagai peluang baru bagi anak-anak dengan gangguan pendengaran berat, sekaligus mendukung perkembangan pendengaran jangka panjang serta kualitas hidup mereka.
Orang tua Susy membagikan pandangan mereka terkait keputusan besar ini: "Awalnya, kami sempat merasa ragu untuk melakukan operasi implan koklea, mengingat kemampuannya beraktivitas sehari-hari masih cukup baik, kesehatannya secara umum juga bagus, dan ia merupakan anak yang sangat aktif. Namun, kami menyadari betapa pentingnya intervensi pendengaran sejak dini, kemampuan otak untuk beradaptasi (neuroplastisitas), serta upaya mengoptimalkan kemampuan bicara dan bahasanya dalam jangka panjang, terutama sebagai persiapannya untuk masuk sekolah dasar."
Bagi Susy dan keluarganya, prosedur medis ini menandai awal dari babak baru, yang membuka jalan untuk pendengaran yang lebih jelas dan peluang komunikasi yang lebih besar. Sistem Cochlear™ Nucleus® Nexa™ memang dirancang untuk masa depan, sehingga penggunanya dapat tetap merasakan manfaat dari berbagai kemajuan teknologi yang ada tanpa harus sering melakukan intervensi bedah tambahan. Desainnya yang ringkas dan ringan juga mengedepankan kenyamanan dan kemudahan penggunaan, yang membantu anak-anak seperti Susy beradaptasi dengan mulus dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di ruang kelas, maupun di taman bermain seiring mereka bertumbuh dan berkembang.
Dukungan yang Lebih dari Sekadar Pengobatan bagi Pasien Indonesia dan Keluarga
Baik Mount Elizabeth Hospitals maupun Gleneagles Hospital sangat menyadari bahwa banyak pasien asal Indonesia kerap berangkat berobat dengan didampingi oleh anggota keluarga. Kehadiran keluarga ini memegang peranan yang sangat penting di sepanjang proses pengobatan hingga pemulihan.
Untuk mengakomodasi kebutuhan anggota keluarga pendamping dengan lebih baik selama masa pemulihan, berbagai fasilitas di kedua rumah sakit ini dirancang secara khusus untuk menghadirkan ruangan yang lebih luas serta lingkungan yang berpusat pada kenyamanan pasien (patient-centric).
Untuk memberikan dukungan dan kenyamanan lebih bagi pasien asal Indonesia, Mount Elizabeth maupun Gleneagles Hospitals menyediakan layanan pendampingan pasien yang komprehensif. Mulai dari pengaturan jadwal konsultasi, bantuan penerjemah bahasa, hingga koordinasi perjalanan medis, layanan ini dirancang untuk membantu pasien beserta keluarga menjalani seluruh proses pengobatan dengan lebih nyaman, tanpa terbebani oleh urusan logistik yang rumit.
Dengan deteksi dini dan penanganan medis yang tepat, gangguan pendengaran tidak seharusnya menjadi hambatan bagi anak maupun siapa pun untuk tetap aktif bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang-orang tercinta. Mount Elizabeth Hospitals dan Gleneagles Hospital senantiasa berkomitmen untuk terus mendukung masyarakat Indonesia dalam menjaga kesehatan THT mereka dalam jangka panjang. []