TAGAR.id – Industri senjata Jerman berkembang pesat berkat program investasi besar-besaran yang dijalankan negara. Apakah belanja militer bisa mendorong pertumbuhan ekonomi? Sabine Kinkartz melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 10 Juli 2025).
Pertengahan Maret 2025, parlemen Jerman sepakat meloloskan paket investasi infrastruktur bernilai ratusan miliar euro. Tujuannya adalah untuk menyediakan dana yang diperlukan untuk membuat Jerman dan angkatan bersenjatanya, Bundeswehr, "siap berperang," seperti yang berulang kali dituntut Menteri Pertahanan Boris Pistorius.
Tak lama setelah menjabat sebagai kanselir awal tahun ini, Friedrich Merz mengatakan ia ingin menjadikan Bundeswehr sebagai tentara konvensional terkuat di Eropa. Membengkaknya anggaran militer adalah berita baik bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertahanan.
Selama puluhan tahun, sektor ini telah kehilangan peran ekonominya. Kebijakan baru pemerintah Jerman ibarat durian runtuh Pada tahun 2020, saham Rheinmetall, produsen senjata terbesar di Jerman, dijual seharga 59 euro setara dengan Rp 1.118.227 — pada Juni 2025, harganya sudah diperdagangkan antara 1.700 euro setara dengan Rp 32.220.100 dan 1.800 euro setara dengan Rp 34.115.400 per saham. Bank Swiss UBS memperkirakan, saham Rheinmetal bisa mencapai 2.200 euro setara dengan Rp 41.696.600 pada tahun ini.
Paket stimulus 'raksasa' untuk perekonomian?