story 2 · episode 6
Bau Tanah Basah
05 menit membaca
Bau itu tidak datang pelan.
Ia datang seperti seseorang yang membuka pintu dan melepas mantelnya. Sekali, langsung, memenuhi ruang tengah — tanah basah, lumut tua, air yang menggenang di bawah akar. Bau yang kukenal sampai ke dalam tulang, bau yang tidak mungkin ada di rumah ini, di kota ini, di lantai yang baru kusapu pagi tadi.
Aku masih duduk di lantai. Punggung menempel ke sofa. Kamera di pangkuan, layarnya masih menyala di balik telapak tanganku.
Langkah itu berhenti.
Di belakangku.
Tepat di belakang kepalaku.
Aku tidak menoleh. Aku belajar satu hal di Hutan Sirewang, dan pelajaran itu sekarang terasa seperti satu-satunya hal yang pernah kupelajari dengan benar: jangan menoleh. Jangan menjawab. Jangan memberi tahu apa pun yang berdiri di belakangmu bahwa kau tahu ia ada di sana.
Napas.
Panjang. Basah. Jeda yang terlalu lama di antara tarikan dan embusan.
Aku menutup mata.
Kalau aku tidak bergerak, mungkin ia akan mengira aku tidur. Kalau aku tidak bergerak, mungkin ia akan pergi. Kalau aku tidak bergerak, mungkin—
Ada yang menyentuh tengkukku.
Dingin. Basah. Seperti ujung jari yang baru saja diangkat dari lumpur, dan sekarang menempel di kulitku, tepat di bawah garis rambut, tanpa menekan, tanpa mencakar. Hanya menempel. Hanya mengukur.
Aku menahan napas sampai dadaku terbakar.
Sentuhan itu turun.
Pelan. Menyusuri tulang belakangku, satu per satu, seperti seseorang yang menghitung ruas. Satu. Dua. Tiga.
Lalu berhenti.
Dan tiba-tiba — tidak ada apa-apa lagi.
Napas itu hilang. Bau itu masih ada, tapi sumbernya sudah tidak menempel di belakangku. Aku membuka mata, dan ruang tengah itu kosong. Sofa. Meja. Lampu sudut. Pintu depan yang masih tertutup rapat, rantainya masih terpasang.
Aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada.
Aku berdiri dengan kaki yang hampir tidak bisa menopang beratku. Kamera masih kugenggam. Aku menyalakan lampu besar — lampu yang tadi sengaja kumatikan — dan ruangan itu langsung berpendar putih, terlalu terang, terlalu jujur.
Dan di lantai, di depan pintu, aku melihatnya.
Jejak.
Bukan jejak kaki manusia. Bukan cetakan sepatu. Ini jejak basah — tapak yang menempel di papan kayu, lebar, panjang, dengan lima tonjolan di ujungnya yang terlalu panjang untuk disebut jari. Warnanya cokelat kehitaman. Mengkilap. Masih basah.
Jejak itu bermula dari pintu.
Dan menuju ke sofa.
Ke tempat aku duduk.
Lalu berhenti. Tidak ada jejak yang kembali.
Sama seperti di tenda.
Aku mundur satu langkah. Lalu satu lagi. Kakiku menabrak meja, dan sesuatu di atasnya jatuh — ponselku, yang sejak pulang kutinggalkan di sana, layarnya menghadap ke bawah, baterainya habis karena aku tidak pernah mengisinya.
Ponsel itu jatuh, dan layarnya menyala.
Aku membeku.
Bukan karena ponsel itu menyala. Bukan karena baterainya yang katanya habis. Tapi karena di layar itu, sebelum aku sempat menyentuhnya, sebelum aku sempat menekan apa pun, sebuah aplikasi sudah terbuka sendiri.
Galeri foto.
Dan di galeri itu, di bagian paling atas, ada satu album yang tidak pernah kubuat.
Namanya satu kata, huruf kapital, sama seperti berkas di kamera tadi.
PULANG.
Aku berjongkok, meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Jari-jariku meninggalkan noda di kacanya. Aku baru sadar tanganku kotor — bukan kotor biasa. Cokelat. Basah. Bau lumut.
Aku menoleh ke tanganku.
Di telapak kananku, di antara garis-garis kulit yang kukenal seumur hidup, ada tanah.
Tanah basah.
Tanah Hutan Sirewang.
Aku mengusapnya ke celana. Tidak hilang. Aku menggosoknya lebih keras, sampai kulitku merah, sampai rasanya terbakar — dan tanah itu tetap di sana, menempel seperti tinta yang sudah meresap, seperti sesuatu yang bukan sekadar kotoran, tapi bagian dari diriku sekarang.
Di layar ponsel, album itu masih terbuka.
Di dalamnya ada sembilan foto.
Aku tidak berani menekan salah satunya. Tapi jempolku bergerak sendiri — atau mungkin bukan jempolku, mungkin sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah lama menunggu di dalam sana — dan foto pertama terbuka.
Dan aku menutup mulutku dengan telapak tangan yang masih bernoda tanah.
Karena foto itu bukan foto lama. Bukan foto dari internet. Bukan foto yang pernah kuambil.
Foto itu diambil malam ini.
Dari sudut atas lemari. Menghadap ke sofa. Menghadap ke tempat aku duduk dengan lutut ditarik ke dada, punggung menempel ke sofa, kamera di pangkuan.
Dan di belakangku, dalam foto itu, ada seseorang.
Berjongkok. Bahu miring ke kiri. Jaket hijau tua dengan sobekan di lengan kanan.
Wajahnya menempel ke telingaku.
Dan ia tersenyum.
Aku menekan foto kedua.
Foto ketiga.
Keempat.
Semuanya sama. Semuanya malam ini. Semuanya diambil dari sudut yang berbeda-beda — dari atas lemari, dari balik pintu, dari luar jendela, dari langit-langit — seolah ada sembilan kamera yang dipasang di rumahku tanpa aku tahu, dan semuanya mulai merekam pada detik yang sama.
Pada foto terakhir, tidak ada aku di dalamnya.
Hanya pintu depan. Terbuka. Dan di ambangnya, seseorang berdiri membelakangi kamera, menatap ke dalam rumah.
Punggung itu punggungku.
Jaket itu jaketku.
Dan di bawah foto itu, ada keterangan yang tidak pernah kutulis.
Sudah sampai rumah, ya?
Ponsel itu mati di tanganku. Layarnya menghitam, dan ruang tengah kembali sunyi — sunyi yang terlalu rapat, sunyi yang menahan napas.
Aku berdiri di sana, di tengah lantai yang penuh jejak basah, dan untuk pertama kalinya sejak pulang, aku menyadari sesuatu yang seharusnya kusadari sejak malam pertama.
Rumah ini tidak pernah kosong.
Rumah ini menungguku pulang, sama seperti tenda merah itu menungguku di tengah lingkaran tanah yang terlalu bersih. Sama seperti desa mati itu menungguku di balik bukit. Sama seperti sumur tanpa dasar itu menungguku di ujung jalan.
Dan sekarang, di dalam rumahku sendiri, di kota yang katanya jauh dari hutan itu, aku mendengar sesuatu yang membuat bulu tengkukku berdiri lagi.
Bukan langkah. Bukan napas.
Suara ritsleting.
Pelan. Sabar. Kriiik.
Dari arah kamar tidurku.
Padahal aku belum pernah memasang tenda di dalam rumah ini.