story 1 · episode 6
Suara dari Rekaman Baru
05 menit membaca
Rumah itu terlalu sunyi, dan aku baru menyadarinya pada malam ketiga setelah pulang — atau malam keempat, aku sudah tidak yakin lagi menghitung.
Sejak kembali dari Hutan Sirewang, aku memang sengaja mematikan semua yang berbunyi.
Radio. Televisi. Notifikasi ponsel. Bahkan jam dinding di ruang tengah yang selalu berdetak seperti orang mengetuk pelan dari dalam lemari — baterainya kucabut, dan jarumnya kubekukan di angka dua belas lewat empat.
Aku butuh sunyi. Bukan karena aku suka sunyi.
Karena setiap suara sekarang terdengar seperti langkah kaki.
* * *
Malam itu aku duduk di lantai ruang tengah, punggung menempel ke sofa, lutut ditarik ke dada. Lampu hanya satu — yang kecil di sudut, yang cahayanya tidak sampai ke pintu. Aku sengaja begitu. Kalau ada yang berdiri di ambang pintu, aku tidak ingin melihatnya.
Di pangkuanku, kamera itu.
Kamera kecil yang sejak awal perjalanan kugantung di leherku. Yang merekam setiap langkahku menaiki jalur sempit di Hutan Sirewang. Yang lampu rekamnya menyala sendiri di dalam tenda, malam itu, padahal aku belum menekan tombol apa pun.
Aku belum pernah membukanya sejak pulang.
Tiga malam. Empat malam. Entah.
Dan malam ini, entah kenapa, tanganku bergerak sendiri. Aku menekan tombol daya.
Layar itu menyala. Biru. Dingin. Cahayanya jatuh ke wajahku, dan untuk sesaat ruang tengah yang gelap itu terasa seperti tenda — kain oranye, lilin yang bergetar, napas di balik dinding.
Aku mengusir pikiran itu dan membuka folder rekaman.
* * *
Ada tiga puluh dua berkas. Semuanya kukenal. Tanggal, jam, durasi — semuanya cocok dengan perjalananku. Hari pertama, siang. Hari pertama, sore. Jalur menanjak. Pohon-pohon. Tanah lembap.
Lalu, di paling bawah daftar, ada satu berkas yang tidak kukenal.
Tidak ada tanggal. Tidak ada jam. Hanya satu kata sebagai nama.
PULANG.
Aku menatapnya lama sekali. Jari telunjukku menggantung di atas tombol putar, dan aku bisa mendengar jantungku sendiri, keras, memukul tulang rusuk dari dalam.
Kamera ini tidak pernah kurekam di rumah.
Aku belum pernah menyalakannya sejak keluar dari hutan.
Jadi siapa yang merekam ini?
Aku menekan putar.
* * *
Layar itu menampilkan ruangan yang kukenal.
Ruang tengah ini. Sofa. Meja kayu. Lampu sudut yang menyala redup. Sudut gambar sedikit miring ke kanan, seperti kamera diletakkan di atas lemari, menghadap ke pintu depan.
Aku menoleh ke lemari itu.
Kamera itu tidak ada di sana.
Tapi di layar, kamera itu ada. Sudut pandangnya dari atas lemari, dan di bingkai itu, aku bisa melihat sofa, meja, dan pintu depan yang tertutup rapat.
Dan aku bisa melihat diriku sendiri.
Duduk di lantai. Punggung menempel ke sofa. Lutut ditarik ke dada. Menatap ke arah pintu.
Rekaman itu menunjukkan punggungku.
Aku menahan napas.
Tanggal di sudut kanan bawah layar: malam ini. Pukul 21.47. Tiga menit sebelum aku menyalakan kamera ini.
Aku belum duduk di posisi itu tiga menit lalu. Aku baru saja berpindah ke situ — setelah mengambil kamera dari meja, setelah mematikan lampu besar, setelah memutuskan untuk memeriksa rekaman.
Tapi di layar, aku sudah duduk di sana.
Dan aku tidak bergerak.
Selama dua menit penuh, punggung itu diam. Tidak ada gerakan bahu. Tidak ada gerakan kepala. Seperti patung yang dipasang di lantai, menghadap pintu.
Lalu pintu depan itu terbuka.
* * *
Pelannya.
Tidak ada suara kunci. Tidak ada tangan yang memutar kenop. Pintu itu hanya bergerak, satu inci demi satu inci, dan celah gelap mulai menganga di antara kusen dan daun pintu.
Aku menoleh ke pintu asli di depanku.
Masih tertutup. Masih terkunci. Rantainya masih terpasang.
Aku menoleh kembali ke layar.
Di rekaman itu, pintu sudah terbuka setengah.
Dan di ambang pintu, berdiri seseorang.
Bukan manusia. Bukan juga bukan-manusia. Sesuatu di antaranya — tubuh yang kurus, terlalu kurus, dengan bahu miring sedikit ke kiri dan kaki kanan yang menyeret pelan di lantai. Jaket hijau tua. Sobekan kecil di lengan kanan.
Aku mengenal jaket itu.
Aku mengenal cara berjalan itu.
Pria di tikungan jalur. Pria yang menepi untuk memberiku jalan. Pria yang tersenyum dan bilang, hati-hati, jangan mendirikan tenda terlalu dekat sungai.
Pria yang tidak meninggalkan jejak kaki.
Di rekaman itu, ia melangkah masuk ke ruang tengahku.
Pelan. Santai. Seperti orang yang pulang ke rumahnya sendiri.
* * *
Aku menekan jeda.
Napasku keluar pendek-pendek, dan tanganku gemetar sampai kamera itu hampir jatuh dari pangkuanku. Aku menekan putar lagi, dan rekaman itu berjalan terus — tanpa suara, tanpa gerakan kasar, hanya pria itu yang berjalan mendekat ke arah punggungku yang duduk di lantai.
Ia berhenti di belakangku.
Tepat di belakang punggungku.
Lalu ia berjongkok.
Dan ia menempelkan wajahnya ke telingaku.
Aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak mendengar apa-apa. Di ruangan ini, aku masih duduk di lantai dengan kamera di pangkuan, dan tidak ada siapa-siapa di belakangku.
Tapi di layar, pria itu sudah membuka mulutnya.
Aku memperbesar gambar. Aku memperlambat putarannya. Aku menonton gerakan bibir itu berulang-ulang — dua kali, lima kali, sepuluh kali — dan di setiap putaran, kalimat itu sama.
Satu kalimat. Pendek.
Sudah sampai rumah, ya?
Aku menutup kamera itu dengan telapak tangan.
Layarnya masih menyala di balik jemariku. Lampu rekamnya berkedip merah — sekali, dua kali, tiga kali — padahal aku sudah menekan tombol mati.
Dan di dalam keheningan ruang tengah yang terlalu sunyi itu, aku mendengar sesuatu yang membuat seluruh tubuhku dingin.
Suara langkah kaki.
Pelan. Berat. Menyeret kaki kanan.
Dari arah pintu depan.
Di belakangku, di lantai kayu yang baru kusapu pagi tadi, aku mendengar bunyi sesuatu yang basah menempel pada papan — seperti telapak kaki yang baru saja keluar dari tanah hutan.
Dan bersamaan dengan itu, hidungku menangkap bau yang tidak seharusnya ada di rumah ini.
Bau tanah basah.
Bau lumut tua.
Bau Hutan Sirewang.