story 2 · episode 1
Papan Penunjuk yang Dipaku Terbalik
05 menit membaca

Aku tidak menjawab.
Sepanjang malam suara itu memanggil dari balik dinding tenda — suara ayahku, persis, sampai ke serak napasnya yang dulu selalu terdengar sebelum ia mengeluh soal punggungnya. Aku menggigit lengan jaketku, menahan diri agar tidak membuka resleting, dan membiarkan suara itu mengikis kesabaranku sampai subuh. Ketika cahaya akhirnya menyusup lewat celah kain, suara itu berhenti seperti ada yang memutus talinya.
Pesan lelaki tua di warung terakhir masih terasa menempel di telingaku. Jangan dijawab, apalagi kalau suaranya mirip orang yang kaukenal. Aku baru sadar artinya pagi itu: yang dipakai bukan suara orang asing, tapi suara yang paling sulit kubantah.
Aku melipat tenda dengan tangan gemetar dan memutuskan satu hal — aku tidak akan menunggu malam kedua. Dua malam rencanaku, tapi Hutan Sirewang tidak ada di peta mana pun, dan akal sehatku bilang tidak ada gunanya bertahan di tempat yang bahkan tidak mau mengakui bahwa ia ada.
Jalur yang Tidak Pernah Kususuri
Masalahnya, aku tidak tahu jalan keluar.
Jalur yang tadi kudaki kemarin sore sudah hilang. Bukan tertutup semak, bukan tertimbun daun — benar-benar hilang, seperti ada yang menggulungnya dari bawah kakiku. Yang tersisa hanya tanah lembap, akar melintang, dan pohon-pohon yang berdiri dengan jarak terlalu rapi, seperti sengaja ditanam oleh seseorang yang punya selera buruk soal keteraturan.
Aku berjalan lurus, mengikuti kompas yang jarumnya berputar santai tanpa pernah mau berhenti. Matahari tidak muncul. Langit di atas sana putih susu, tanpa arah, tanpa jam. Aku menghitung langkah supaya punya sesuatu untuk dipegang: seratus, dua ratus, tiga ratus. Pada hitungan keempat ratus tujuh puluh, aku melihatnya.
Sebuah papan kayu tua, dipaku pada sebatang pohon yang diameternya sebesar pinggang. Papan itu melengkung karena lapuk, warnanya hitam kehijauan, ditumbuhi lumut yang menyerupai sidik jari raksasa. Tulisan di permukaannya nyaris hilang, tergores sesuatu yang tajam dan tidak rapi — bukan ukiran pabrik, bukan cat, melainkan bekas pisau yang menekan kayu sampai berserat.
Aku mendekat, mengusap lumutnya dengan lengan jaket.
Sebuah panah. Dan di sebelahnya, dua kata yang masih bisa kubaca meski hurufnya sudah menganga: JALAN PULANG.
Panahnya menunjuk ke belakang. Ke arah yang baru saja kutinggalkan. Ke arah tenda yang sudah kulipat, ke arah suara ayahku yang memanggil sepanjang malam.
Aku tertawa kecil. Tawa yang keluar tanpa izin, pendek dan kering. Papan penunjuk tua, pikirku. Sisa dari zaman ketika hutan ini masih punya jalur, masih punya pendaki, masih punya nama di peta. Papan yang dipaku puluhan tahun lalu oleh orang yang sudah lama mati atau sudah lama lupa. Tidak ada gunanya.
Dan lagi, panah itu jelas salah. Jalanku menuju utara, dan papan itu menyuruhku balik ke selatan. Kalau aku menurutinya, aku akan kembali ke tempat suara itu menungguku.
Aku melanjutkan perjalanan ke utara, meninggalkan papan itu di belakang tanpa menoleh.
Kembali ke Tempat yang Sama
Empat menit. Mungkin lima. Aku masih bisa merasakan hangat di telapak tanganku dari lumut yang kusentuh ketika aku melihat pohon itu lagi.
Pohon yang sama. Papan yang sama. Melengkung, hitam kehijauan, lumut menyerupai sidik jari raksasa.
Aku berhenti begitu keras sampai tumitku terasa nyeri. Aku tidak berbalik. Aku tidak mengambil jalur memutar. Aku berjalan lurus, satu arah, dan tidak pernah sekali pun menengok ke belakang — aku bersumpah begitu pada diriku sendiri, karena aku tahu betul apa yang terjadi pada orang yang menoleh di hutan seperti ini.
Tapi pohon itu ada di depanku. Lagi.
Dan tulisannya sudah berubah.
Panahnya sekarang menunjuk ke utara — arah langkahku. Aku menelan ludah yang rasanya seperti pasir. Mungkin aku salah baca tadi. Mungkin lumut yang menutupi sebagian goresan membuatku keliru. Mungkin mataku yang lelah, mungkin malam yang tidak kuselesaikan dengan tidur.
Aku menggosok permukaan papan itu lebih keras, sampai serpihan kayu menempel di kulit tanganku.
Di bawah panah itu, ada goresan baru. Bukan goresan lama yang kusapu lumutnya. Ini goresan segar, serat kayunya masih pucat, dan di ujungnya masih ada serbuk halus yang belum tersentuh hujan.
KAU SUDAH LEWAT DUA KALI.
Aku mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Kakiku menemukan sesuatu yang keras di balik daun.
Sebuah paku. Panjang, berkarat, kepala paku menghadap ke atas seperti jamur kecil yang tumbuh dari tanah. Aku menunduk, dan di sekitar kakiku ada lebih banyak lagi — tujuh, delapan, sembilan paku berserakan, semuanya dengan kepala menghadap ke arah yang sama. Ke arah papan.
Baru kusadari hal yang seharusnya kusadari sejak awal.
Papan itu dipaku terbalik.
Bukan salah pasang. Bukan lapuk. Sisi yang bertulisan itu menghadap keluar, tapi paku-pakunya ditancapkan dari arah sebaliknya — dari dalam pohon, menembus keluar. Seperti ada sesuatu di dalam batang pohon itu yang memaku papan ini dari sisi yang tidak seharusnya. Seperti papan ini bukan dipasang untuk dibaca oleh orang yang lewat.
Papan ini dipasang untuk menutup sesuatu.
Aku berdiri terlalu lama. Ketika akhirnya aku berbalik untuk pergi — ke arah mana pun, aku tidak peduli lagi — aku mendengar suara itu.
Bukan suara ayahku.
Suara ketukan. Pelan, teratur, berirama. Seperti palu kayu memukul paku. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Dari belakang papan itu.
Dari dalam pohon.
Dan di antara ketukan-ketukan itu, seseorang membaca tulisan di papan itu dengan suaraku sendiri — suaraku, persis, sampai ke nada tawa kecil yang tadi keluar tanpa izin.
"Papan penunjuk tua," katanya. "Tidak ada gunanya."
Ketukan itu berhenti. Lalu satu paku baru menembus kayu dari dalam, menganga di antara dua huruf, dan tulisan di papan itu berubah sekali lagi.
SATU KALI LAGI, KAU TINGGAL DI SINI.
Aku berlari. Aku tidak tahu berapa lama, tidak tahu ke arah mana. Yang kutahu, ketika aku berhenti karena paru-paruku terbakar, aku berdiri di depan sebuah pohon sebesar pinggang, dengan papan kayu lapuk yang menunjuk ke arahku.
Panahnya menunjuk tepat ke dadaku.
Dan di bawah panah itu, ada satu baris yang belum pernah kubaca sebelumnya, ditulis dengan goresan yang sangat rapi — rapi seperti tulisan tanganku sendiri.
SELAMAT DATANG DI MALAM KEDUA.
Aku belum pernah bilang pada siapa pun bahwa aku berencana dua malam.
Kecuali pada lelaki tua di warung terakhir. Dan pada sesuatu di dalam pohon itu, yang sepertinya sudah menunggu sejak jauh sebelum aku menginjak hutan ini.