story 1 · episode 1
Jalan Terakhir Sebelum Hutan
05 menit membaca

Peta digital di ponselku sudah mati sejak dua kilometer tadi. Bukan sinyal yang hilang — sinyal memang hilang, tapi ini berbeda. Jalan beraspal yang tadinya rapi perlahan menyempit jadi jalan tanah, lalu berubah menjadi dua jejak roda yang ditumbuhi rumput di tengahnya, seperti bekas luka lama yang mencoba menutup diri.
Aku menamai perjalanan ini "solo camping". Terdengar keren di caption Instagram. Kenyataannya aku cuma lelaki tiga puluh tahun yang baru saja kehilangan pekerjaan dan butuh alasan untuk menghilang selama beberapa hari tanpa ada yang bertanya.
Hutan itu bernama Hutan Sirewang. Kata orang, tempat itu tidak ada di peta resmi. Aku sudah membuktikannya — tidak ada satu pun aplikasi yang mengenali nama itu. Tapi ada forum kecil di internet, tempat orang-orang aneh berkumpul, dan di sanalah aku menemukan koordinatnya. Sebuah angka yang ditulis seseorang dengan huruf kapital, diakhiri kalimat: "Kalau kamu nekat, jangan lewat warung Bu Sari setelah magrib."
Aku lewat setelah magrib.
Warung Terakhir
Warung itu muncul tiba-tiba di tikungan, seperti sengaja menunggu. Bangunan kayu kecil dengan atap seng berkarat, satu lampu minyak yang menyala di depan, dan papan kayu bertuliskan "Kopi & Rokok" dengan huruf yang sudah nyaris tak terbaca. Tidak ada listrik. Tidak ada pengeras suara. Hanya bunyi jangkrik yang terlalu rapat, terlalu berisik, seolah mereka sedang mengawasi.
Aku memarkir motor dan masuk. Di dalam ada satu meja, tiga kursi plastik, dan seorang lelaki tua yang duduk di belakang meja seolah sudah menunggu sejak lama. Kulitnya gelap dan berkerut seperti kayu bakar. Matanya kecil, tapi tidak pernah berkedip saat menatapku.
"Mau ke hutan?" tanyanya. Bukan sapaan. Bukan tawaran. Sebuah pernyataan.
"Iya. Sirewang."
Ia tidak terkejut. Ia hanya menuang kopi hitam ke gelas kaca yang retak di bibirnya, mendorongnya ke arahku, lalu bertanya dengan suara pelan, "Berapa malam?"
"Dua malam," jawabku. "Masuk besok pagi, keluar lusa sore."
Dan wajah lelaki itu berubah.
Bukan perubahan besar. Bukan seperti di film horor. Hanya rahangnya yang mengeras, dan kerutan di dahinya berlipat lebih dalam, seperti ada sesuatu di dalam kepalanya yang baru saja bangun dan menempelkan wajah ke dinding tengkoraknya. Ia menunduk, menutup gelas kopinya dengan telapak tangan, seolah isinya tiba-tiba berbahaya.
"Satu malam," katanya akhirnya. "Kalau kamu bisa, satu malam saja."
"Sudah jauh-jauh—"
"Dua malam itu batas," potongnya, dan suaranya kali ini lebih keras, lebih tua, seperti berasal dari tempat yang lebih dalam dari tenggorokannya. "Lewat dari itu, kamu bukan lagi tamu. Kamu jadi bagian dari hutan."
Aku tertawa. Setengah. Karena separuh diriku tidak bisa.
Aturan yang Tidak Diminta
Lelaki tua itu tidak menagih uang kopi. Ia malah berdiri, berjalan ke pintu, dan menatap ke arah hutan yang gelap di kejauhan. Pohon-pohon pinus di sana berdiri terlalu rapat, terlalu tinggi, seperti barisan orang yang berdesakan untuk melihat sesuatu.
"Dengar baik-baik," katanya tanpa menoleh. "Kalau nanti ada yang memanggil dari luar tenda, jangan dijawab. Apalagi kalau suaranya mirip orang yang kamu kenal."
Aku menunggu kelanjutannya. Tidak ada.
"Maksud Bapak—"
"Jangan dijawab," ulangnya. "Jangan buka resleting. Jangan nyalakan lampu. Jangan bilang 'iya'. Sekali saja kamu bilang 'iya', dia tahu kamu mendengarnya. Dan kalau dia tahu kamu mendengarnya, dia akan mengira kamu mengundangnya."
Aku menelan ludah. "Itu kalau saya mendengar suara."
Lelaki itu akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang salah dari wajahnya — sesuatu yang tidak bisa kujelaskan, seperti bayangannya bergerak sepersekian detik terlambat dari gerakan kepalanya.
"Kamu akan mendengar suara," katanya. "Semua orang mendengar. Yang membedakan hanya yang menjawab dan yang tidak."
Ia kembali ke meja, mengambil gelas kopiku yang belum kusentuh, dan menumpahkannya ke lantai tanah. Cairan itu meresap dengan cepat, terlalu cepat, seperti tanah di bawah warung itu sedang haus.
"Satu hal lagi," katanya. "Kalau kamu lihat tenda orang lain di dalam hutan — jangan dekati. Jangan sapa. Jangan bertanya siapa di dalamnya."
"Kenapa?"
"Karena tidak pernah ada yang berkemah di sana." Ia menatapku lurus. "Kamu akan jadi orang pertama. Atau setidaknya, kamu akan jadi orang yang mengira dirinya yang pertama."
Gerbang Hutan
Aku keluar dari warung dengan tangan dingin, meski kopinya tidak pernah kuminum. Di luar, udara terasa lebih berat, seperti ada yang menekan dadaku dari dalam. Aku menyalakan motor dan melirik ke belakang sekali lagi. Warung itu masih di sana. Lampunya masih menyala. Tapi lelaki tua itu sudah tidak terlihat.
Di atas papan kayu "Kopi & Rokok", ada tulisan kecil yang tadi tidak kuperhatikan. Bukan ditulis dengan spidol. Bukan dipaku. Tapi seperti tergores dari dalam kayunya sendiri, dari sisi yang seharusnya tidak bisa disentuh siapa pun.
DUA MALAM. DUA WAJAH.
Aku menelan ludah dan memacu motor menuju mulut hutan. Di belakangku, entah mengapa, aku mendengar suara jangkrik itu berhenti — serentak, seperti ada yang memberi komando.
Dan di dalam keheningan itu, samar-samar, aku mendengar seseorang memanggil namaku.
Dari arah hutan.
Dengan suara yang sangat kukenal.
Suara ayahku, yang sudah meninggal tujuh tahun lalu.
Besok pagi aku akan mendirikan tenda di sana, di bawah pohon pinus tertinggi, tepat di tengah lingkaran tanah yang gundul tanpa rumput. Aku belum tahu apa artinya lingkaran itu. Aku belum tahu kenapa tidak ada satu pun hewan yang berani melintasinya. Dan aku belum tahu, bahwa malam pertama bukanlah yang paling berbahaya — tapi malam ketika aku mulai terbiasa mendengar suara itu, dan mulai lupa kenapa aku dilarang menjawab.