story 3 · episode 5
Kuburan yang Belum Digali
06 menit membaca
Pemakaman Sumberejo terletak di ujung jalan tanah, di balik waduk tua yang airnya tidak pernah surut sejak bendungan jebol puluhan tahun lalu.
Aku menggali liang di sana sejak umur dua puluh lima. Dua puluh tiga tahun. Cangkul, linggis, dan sepasang sarung tangan kain yang sudah mengeras oleh tanah.
Orang menyebutku Pak Wardi. Aku tidak pernah protes. Aku hanya menggali.
Dan malam ini, aku menggali liang untuk jenazah yang akan dikubur besok siang.
* * *
Tanah di Sumberejo berat. Liat, lembap, dan selalu dingin — bahkan di musim kemarau, bahkan saat matahari baru terbenam dan uap masih naik dari jalan aspal.
Aku mulai pukul sembilan malam. Sendirian. Aku selalu sendirian. Tidak ada yang mau menemani orang menggali kubur, katanya bikin sial.
Kedalaman standar: satu meter delapan puluh. Aku sudah hafal iramanya. Cangkul. Angkat. Buang. Cangkul. Angkat. Buang.
Pukul sebelas, aku sudah sedalam satu meter.
Dan linggisku menghantam sesuatu.
Bukan batu biasa. Bunyinya beda — lebih padat, lebih rata, seperti logam yang lama terkubur.
Aku berjongkok. Aku membersihkan tanah dengan tangan.
Sebuah batu nisan. Miring. Setengah tenggelam. Bukan nisan baru — batu ini tua, permukaannya berlumut, ukirannya sudah aus dimakan air.
Aku membersihkannya lebih jauh. Aku mengangkatnya sedikit, membalikkannya ke cahaya lampu minyak yang aku gantung di pohon jambu dekat situ.
Dan aku berhenti bernapas.
Di batu itu, terukir satu nama.
WARDI.
Namaku.
Aku tertawa kecil. Pasti kebetulan. Banyak orang bernama Wardi di Sumberejo. Kakekku juga Wardi. Mungkin ini nisannya, pikirku, nisan yang lama hilang, yang dulu tenggelam waktu waduk naik dan tidak pernah ditemukan.
Lalu aku membaca baris berikutnya.
Tanggal lahir. Dua belas Maret lima puluh delapan.
Tanggal lahirku.
Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.
Dan di bawahnya, terukir tanggal lain. Tanggal kematian.
Empat hari dari sekarang.
* * *
Aku duduk di tepi liang itu lama sekali.
Angin malam lewat, membawa bau air waduk yang tidak pernah kering. Di kejauhan, kodok berhenti bersuara, seperti ada yang memerintahkan mereka diam.
Aku menatap batu itu. Aku menatap namaku sendiri terukir di batu yang sudah tua, berlumut, seperti sudah ada di situ sejak sebelum aku lahir.
Aku berdiri. Aku mengambil linggis.
Dan aku menghantamkannya ke batu itu.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Batu itu pecah. Tidak keras — seperti kapur yang sudah lama lapuk. Kepingan-kepingannya berhamburan ke dalam liang yang belum selesai aku gali.
Aku mengumpulkan semuanya. Aku membuang pecahan itu jauh-jauh, ke balik pagar pemakaman, ke semak-semak yang tidak pernah dibersihkan siapa pun.
Lalu aku melanjutkan menggali. Sampai selesai. Sampai liang itu dalam dan rapi, siap menerima jenazah besok.
Pulang, aku mengunci pintu dua kali. Tiga kali. Kebiasaan yang tidak pernah aku tinggalkan sejak istriku meninggal.
Aku tidur pukul dua. Aku tidak bermimpi.
* * *
Pagi harinya, aku kembali ke pemakaman untuk memeriksa liang itu sebelum jenazah datang.
Matahari baru naik. Embun masih menempel di rumput. Bau tanah basah.
Aku berjalan ke liang yang aku gali semalam.
Dan aku berhenti di bibirnya.
Batu itu ada di sana.
Utuh. Tidak retak. Tidak berlumut. Bersih, seperti baru saja dipahat dan diletakkan di atas tanah, tepat di samping liang yang aku gali.
Aku menunduk. Kakiku lemas.
Namaku masih terukir di situ. Tanggal lahirku masih sama.
Tapi tanggal kematiannya sudah berubah.
Hari ini.
* * *
Aku menjatuhkan cangkulku.
Aku mundur. Satu langkah. Dua. Punggungku menyentuh pohon jambu tempat aku menggantung lampu minyak semalam.
Batu itu tidak mungkin ada di sini. Aku sudah menghancurkannya. Aku sudah membuang pecahannya. Aku melihat sendiri kepingan-kepingannya jatuh ke semak-semak di balik pagar.
Aku berlari ke balik pagar itu.
Semaknya masih utuh. Rumputnya belum tersentuh. Tidak ada pecahan batu. Tidak ada jejak apa pun.
Seperti batu itu tidak pernah aku hancurkan.
Seperti batu itu tidak pernah aku temukan.
Seperti batu itu baru saja muncul di sana, pagi ini, untuk aku baca.
* * *
Aku kembali ke liang itu. Aku berjongkok di depan batu nisan yang menuliskan namaku sendiri.
Aku mengeluarkan ponselku. Aku memotretnya. Aku ingin bukti. Aku ingin sesuatu yang bisa aku tunjukkan ke orang lain, supaya aku tahu aku tidak gila.
Layar ponselku menyala.
Jam di sudut kanan atas menunjukkan satu angka.
03.17.
Padahal matahari sudah setinggi pohon kelapa.
Aku menoleh ke arah jalan masuk pemakaman.
Dan di sana, di bawah gapura batu yang sudah miring, ada seseorang berdiri.
Membelakangi aku. Punggung membungkuk. Tangan tergantung di sisi badan.
Dia memegang sesuatu. Cangkul.
Cangkulku.
Cangkul yang tadi aku jatuhkan di bibir liang.
Dia tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, menghadap ke arah jalan, seperti orang yang baru saja selesai menggali dan sedang menunggu jenazahnya datang.
Aku menoleh ke liang di depanku.
Liang itu — liang yang semalam aku gali untuk jenazah besok — sekarang sudah tertutup.
Tanahnya rata. Padat. Seperti sudah lama dipadatkan hujan dan matahari.
Di atasnya, tidak ada batu nisan. Tidak ada tanda. Tidak ada nama.
Hanya tanah kosong, yang entah kenapa, terasa lebih dingin dari tanah di sekitarnya.
Aku melangkah mundur. Kakiku menyentuh sesuatu.
Aku menunduk.
Sebuah papan kayu kecil, ditancapkan miring ke tanah. Papan sementara yang biasa kami pakai untuk menandai liang sebelum nisan batu dipasang.
Di papan itu, ada tulisan tangan dengan spidol hitam.
Bukan tulisan tanganku.
Tapi namaku.
WARDI. Dikuburkan hari ini.
* * *
Aku menarik papan itu dari tanah. Aku membawanya ke kantor pemakaman, ke Pak Sukron yang mengurus administrasi.
"Pak," kataku, suaraku serak. "Liang yang saya gali semalam sudah ketutup. Dan ada ini."
Aku meletakkan papan itu di mejanya.
Pak Sukron menatap papan itu lama. Lalu dia menatapku. Wajahnya teduh, keriput, seperti orang yang sudah mengurus pemakaman ini sejak sebelum aku lahir.
"Wardi," katanya pelan. "Kamu hari ini nggak ada jadwal gali."
Aku mengerutkan dahi.
"Ada, Pak. Jenazah yang mau dikubur siang ini. Saya gali semalam."
Dia menggeleng. Perlahan.
"Nggak ada jenazah yang mau dikubur hari ini, Wardi."
Dia membuka buku besar di mejanya. Jari telunjuknya menyusuri halaman demi halaman. Berhenti.
"Yang ada," katanya, dan suaranya turun sampai hampir tidak terdengar, "jenazah yang belum mau dikubur."
Aku menelan ludah.
"Maksud Pak?"
Dia menatapku lama. Lalu dia menutup buku itu, dan di balik tangannya, di atas meja, aku melihat sesuatu yang membuat darahku berhenti di leher.
Sebuah foto lama. Kertasnya kuning. Sudutnya terlipat.
Di dalam foto itu, seorang laki-laki berdiri di depan liang kubur yang masih terbuka. Cangkul di tangan. Sarung tangan kain yang sudah mengeras.
Wajahnya aku.
Di belakangnya, di bibir liang, ada batu nisan.
Dan di batu nisan itu, terukir satu nama.
Namaku.
Di belakang foto itu, dengan tinta biru yang hampir hilang, ada satu baris tulisan tangan.
Sumberejo, 1981. Penggali yang menggali kuburnya sendiri.
Aku mengangkat kepala.
Dan dari luar kantor, dari arah pemakaman, aku mendengar suara cangkul menghantam tanah.
Pelan. Teratur.
Cangkul. Angkat. Buang.
Seperti seseorang yang baru saja mulai menggali.
Dan di antara suara itu, ada suara lain — suara kayu yang berderit, seperti peti jenazah sedang diangkat dari keranda.
Pelan.
Menuju liang yang belum selesai.