story 2 · episode 5
Pasien Tanpa Nama
05 menit membaca

Rumah Sakit Umum Daerah itu sudah berdiri sejak zaman kolonial, dan bagian sayap timurnya belum pernah direnovasi sejak zaman itu juga.
Aku mulai bekerja di sana sebagai perawat shift malam bulan lalu. Tiga malam seminggu. Pukul sembilan sampai pagi.
Orang-orang bilang sayap timur itu sepi. Aku baru tahu artinya sepi yang seperti apa setelah malam ketiga.
Seperti ruangan yang menahan napas.
* * *
Pasien itu sudah ada di kamar 4B saat aku mulai jaga pertama kali.
Laki-laki tua. Kurus. Kulitnya seperti kertas yang lama disimpan di lemari. Rambutnya putih seluruhnya, tipis, dan kedua tangannya tergelatak di atas selimut, tidak bergerak.
Di papan nama kamar, tidak ada tulisan apa pun.
Aku memeriksa komputer jaga. Aku menelusuri daftar pasien sayap timur. 4A kosong. 4C kosong. Tidak ada 4B.
Aku menelepon kepala ruang. Tidak diangkat.
Aku bertanya pada Pak Hendra, satpam yang sudah dua puluh tahun bekerja di situ.
"Kamar 4B?" Dia mengangkat kepala dari koran. "Itu kamar lama. Sudah nggak dipakai."
"Tapi ada pasien di situ."
Dia menatapku lama. Lalu dia kembali membaca korannya.
"Mungkin kamu salah lihat, Mbak."
* * *
Aku tidak salah lihat.
Setiap malam, pukul sebelas, aku masuk ke kamar 4B untuk memeriksa tanda vitalnya. Tekanan darahnya rendah. Nadinya lemah. Suhu tubuhnya dingin — lebih dingin dari yang seharusnya.
Tapi dia selalu membuka mata saat aku masuk.
Dan selalu mengucapkan hal yang sama.
"Jangan matikan lampunya."
Suaranya serak, seperti keluar dari tenggorokan yang sudah lama tidak dipakai.
"Lampu di kamar ini, Mbak. Jangan dimatikan. Sampai pagi."
Aku mengangguk. Aku menyalakan lampu nakas. Aku meninggalkan lampu utama menyala.
Setiap malam, sama.
* * *
Malam kelima, aku memberanikan diri bertanya.
"Pak, nama Bapak siapa? Untuk catatan saya."
Dia menatapku dari atas bantal. Matanya bening. Terlalu bening untuk orang setua itu.
"Nggak perlu dicatat," katanya.
"Tapi prosedurnya—"
"Kalau dicatat," potongnya pelan, "nanti ada yang datang jemput."
Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.
"Jemput? Maksud Bapak keluarga?"
Dia menggeleng. Perlahan.
"Bukan keluarga," katanya. "Yang datang jemput orang-orang di sini bukan keluarga, Mbak."
Lampu nakas itu berkedip sekali.
"Makanya lampunya jangan dimatikan."
* * *
Malam ketujuh, aku mulai mencatat sendiri.
Aku membawa buku tulis kecil di saku seragam. Setiap kali aku masuk ke 4B, aku menulis: jam, tekanan darah, nadi, suhu, dan apa yang dia katakan.
Malam itu dia tidak bicara.
Dia hanya menatap langit-langit, dan bibirnya bergerak-gerak seperti orang yang sedang menghitung sesuatu.
Aku mendekat.
"Pak?"
Dia menoleh. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ada sesuatu di matanya yang membuat tanganku dingin.
Bukan takut.
Lelah.
Lelah seperti orang yang sudah menunggu terlalu lama.
"Mbak," katanya. "Kamu sudah berapa lama kerja di sini?"
"Sebulan."
"Sebulan." Dia mengulang kata itu pelan, seperti mencicipinya. "Berarti kamu belum tahu."
"Tahu apa?"
Dia menutup mata.
"Kamar ini," bisiknya, "dulu bukan kamar. Dulu bangsal."
* * *
Pagi harinya, aku pergi ke ruang arsip di lantai bawah.
Ruangan itu penuh lemari besi tua, berdebu, dan bau kertas yang lembap. Petugas arsipnya, Bu Retno, sedang menyusun berkas dan tidak terlalu senang aku datang.
"Arsip sayap timur?" Dia mengerutkan dahi. "Itu sudah lama. Sebelum aku masuk kerja."
"Boleh saya lihat?"
Dia menunjuk ke rak paling belakang.
"Kotak biru. Tapi jangan lama-lama. Aku mau pulang."
Aku menarik kotak itu keluar. Debu mengepul. Di dalamnya ada berkas-berkas lama, kertasnya kuning, tulisan tangannya pudar.
Dan di dasar kotak itu, ada satu map tebal bersampul cokelat.
Di halaman depannya, tertulis: BANGSAL C — DOKUMENTASI, 1979–2019.
* * *
Bangsal C.
Aku membuka map itu. Di dalamnya ada puluhan lembar dokumentasi — laporan pasien, catatan dokter, dan beberapa foto.
Foto-foto itu hitam putih. Sudutnya kuning. Ada yang retak di tengah.
Foto pertama: bangsal panjang dengan deretan tempat tidur. Lampu di langit-langit. Perawat berdiri di ujung lorong.
Foto kedua: sekelompok pasien duduk di kursi roda, menghadap kamera.
Foto ketiga: seorang pasien di tempat tidur, menghadap ke samping.
Aku memperbesar foto itu dengan lampu ponselku.
Laki-laki tua. Kurus. Rambutnya putih seluruhnya.
Matanya terbuka. Bening. Terlalu bening.
Dia menatap tepat ke arah kamera.
Persis seperti dia menatapku setiap malam.
* * *
Aku membalik foto itu.
Di belakangnya, dengan tinta biru yang hampir hilang, ada tulisan tangan kecil.
Bangsal C. 1981. Pasien tanpa nama.
Tanganku mulai dingin sampai ke siku.
Aku membaca lembaran berikutnya. Laporan penutupan bangsal C. Tanggalnya: November 2019.
Alasan: bangsal dibongkar. Diganti dengan kamar-kamar perawatan baru.
Kamar 4A. 4B. 4C.
Aku menutup map itu. Aku menatap rak arsip yang penuh kotak-kotak biru, dan untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.
Bangsal C dibongkar tahun 2019.
Aku mulai bekerja di rumah sakit ini tahun lalu.
Tapi aku sudah mengenal wajah pasien di kamar 4B.
Seperti aku pernah melihatnya jauh sebelum aku menginjak gedung ini.
Seperti aku pernah melihatnya di suatu tempat yang tidak bisa aku ingat.
* * *
Malam itu aku masuk ke kamar 4B pukul sebelas, seperti biasa.
Lampu nakas menyala. Lampu utama menyala.
Pasien itu duduk di tepi tempat tidur. Kakinya tergelatak di lantai. Dia tidak pernah duduk sebelumnya. Selama seminggu, dia selalu berbaring.
Dia menoleh ke arahku, dan di tangannya ada sesuatu.
Sebuah foto. Kertasnya kuning. Sudutnya terlipat.
"Ini kamu, ya?" katanya.
Aku mendekat. Aku mengambil foto itu dengan tangan gemetar.
Hitam putih. Sebuah bangsal panjang. Deretan tempat tidur. Lampu di langit-langit.
Di ujung lorong, berdiri seorang perawat. Seragam putih. Rambut diikat ke belakang.
Wajahnya aku.
Di belakang foto itu, dengan tinta biru yang hampir hilang, ada satu baris tulisan tangan.
Bangsal C. 1981.
Aku mengangkat kepala.
Pasien itu tersenyum. Tipis. Sedih.
"Kamu sudah lama di sini, Mbak," katanya. "Kamu cuma lupa."
Lampu nakas itu berkedip sekali.
Lalu mati.
Dan dari lorong di luar kamar 4B — lorong yang seharusnya kosong sejak pukul sembilan — aku mendengar suara langkah kaki.
Pelan. Teratur.
Mendekat.
Lalu, tepat di depan pintu, langkah itu berhenti.
Tok.
Tok.
Tok.