TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 4

Anak di Foto Keluarga

05 menit membaca

Anak di Foto Keluarga

Foto-foto itu disimpan di dalam kardus sepatu, di rak paling atas lemari ibuku yang baru saja kami kosongkan.

Aku yang menemukannya, sore itu, sambil bersila di lantai ruang tengah. Tiga album. Satu bungkus plastik berisi foto-foto lepas. Bau kapur barus dan kertas tua.

Ibuku meninggal bulan lalu. Rumah ini akan dijual. Dan tugasku — sebagai anak satu-satunya — adalah memilah mana yang dibuang, mana yang disimpan.

Aku mulai dari album paling tua.

Hitam putih. Sudut-sudutnya sudah menguning, ada yang sobek, ada yang permukaannya bergaris karena terlalu lama dipegang. Foto pernikahan buyutku. Foto rumah ini waktu masih beratap sirap. Foto keluarga besar di depan pohon mangga yang sekarang sudah tumbang.

Aku tidak mengenal setengah dari orang-orang di dalamnya.

Tapi ada satu wajah yang aku kenal.

Seorang anak kecil. Laki-laki. Kaus oblong abu-abu. Rambut berantakan. Berdiri di barisan belakang, di antara kaki-kaki orang dewasa, seperti anak yang menyelip karena tidak dapat tempat.

Di foto pernikahan buyutku, tahun lima puluhan.

Aku tertawa kecil. Mungkin anak tetangga. Mungkin keponakan jauh. Aku membalik halaman.

Anak itu ada lagi.

Di foto tahun enam puluhan. Di foto tahun tujuh puluhan. Di foto tahun delapan puluhan. Selalu di barisan belakang. Selalu kaus abu-abu. Selalu rambut berantakan.

Dan selalu — selalu — di alis kanannya ada bekas luka kecil.

Aku menutup album itu. Tanganku dingin.

Aku membukanya lagi. Perlahan.

Empat generasi. Buyutku. Kakekku. Ibuku. Dan di setiap generasi, anak itu ada. Tidak menua. Tidak berubah. Tidak tumbuh.

Seperti dia baru saja dipasang di setiap foto oleh seseorang yang lupa mengambilnya kembali.

* * *

Aku menelepon tanteku sore itu.

"Tante, di foto-foto keluarga lama, ada anak kecil. Kaus abu-abu. Rambut berantakan. Tante tahu siapa?"

Sunyi di ujung sana. Lama.

"Anak siapa?" tanyanya akhirnya.

"Itu yang aku tanya, Tan."

"Aku nggak ingat ada anak kecil di foto keluarga kita."

Aku menelepon omku. Sama. Menelepon sepupuku yang paling tua. Sama.

Tidak ada satu pun dari mereka yang mengenalnya.

Padahal dia ada di setiap foto. Di setiap pernikahan. Di setiap lebaran. Di setiap acara keluarga besar yang pernah diadakan di rumah ini.

Seperti anggota keluarga yang selalu hadir, tapi tidak pernah diundang.

* * *

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku duduk di ruang tengah, lampu menyala, album-album itu terbuka di lantai. Aku menghitung. Aku mencatat tahun. Aku mencari pola.

Anak itu selalu di barisan belakang. Selalu di sisi kanan. Selalu menghadap ke arah kamera.

Dan di setiap foto, dia berdiri tepat di belakang seseorang.

Di foto buyutku, dia di belakang buyutku.

Di foto kakekku, dia di belakang kakekku.

Di foto ibuku — dia di belakang ibuku.

Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.

Lalu aku menemukan album terakhir. Album kecil, bersampul plastik biru, yang paling jarang dibuka. Di dalamnya, foto-foto masa kecilku.

Aku membuka halaman pertama.

Aku umur lima tahun. Ulang tahunku. Kue tart kecil, lilin satu batang, wajahku penuh krim.

Di belakangku, di balik bahuku, ada seseorang.

Anak kecil. Kaus abu-abu. Rambut berantakan.

Bekas luka di alis kanan.

Berdiri tepat di belakangku.

* * *

Aku menjatuhkan album itu.

Jantungku berdebar sampai terasa di leher. Aku mundur, punggung menempel sofa, mata tidak lepas dari foto itu.

Aku ingat ulang tahun itu. Aku ingat kuenya. Aku ingat ibuku memotret. Aku ingat tidak ada siapa-siapa di belakangku.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku merangkak maju. Aku mengambil album itu lagi. Aku memperbesar foto dengan lampu ponsel, menempelkan cahaya ke kertas.

Anak itu jelas. Terlalu jelas. Tidak buram seperti foto lama yang lain. Seperti dia baru saja berdiri di sana, sepuluh menit sebelum aku membuka album ini.

Di wajahnya ada senyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

Aku membalik foto itu.

Di belakangnya, dengan tinta biru yang hampir hilang, ada tulisan tangan.

Bukan tulisan ibuku. Bukan tulisan siapa pun yang aku kenal.

Hanya satu baris, kecil, di sudut kanan bawah.

Sekarang giliranmu menjaganya.

* * *

Aku duduk di lantai itu lama sekali.

Lampu ruang tengah berkedip. Sekali. Dua kali. Seperti lampu di rumah-rumah tua yang kabelnya sudah lelah.

Aku menoleh ke pintu kamar ibuku. Tertutup. Seperti sejak beliau pergi.

Aku menoleh ke lorong menuju dapur. Gelap.

Dan aku menoleh ke pintu kecil di bawah tangga — pintu yang tidak pernah kubuka seumur hidupku di rumah ini, karena ibuku selalu bilang di situ cuma gudang, cuma tumpukan kardus, tidak ada apa-apa.

Pintu itu sekarang terbuka sedikit.

Sejengkal.

Cukup untuk aku melihat bahwa di dalamnya bukan tumpukan kardus.

Cukup untuk aku melihat bahwa di dalamnya ada rak-rak kayu, rapi, seperti rak foto.

Dan di rak paling bawah, menghadap ke luar, ada sebuah bingkai.

Kuning. Retak di sudutnya.

Aku belum pernah melihat bingkai itu.

Tapi aku tahu — dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan — bahwa di dalam bingkai itu ada foto.

Foto seorang perempuan dewasa. Duduk di kursi. Tangan di pangkuan.

Dan di belakangnya, berdiri seorang anak kecil berkaus abu-abu, dengan bekas luka di alis kanan.

Di bawah tangga, dari dalam ruangan yang seharusnya kosong, aku mendengar sesuatu.

Langkah kaki.

Pelan. Teratur.

Menuju pintu.

kembali ke daftar story episode 4