story 1 · episode 4
Lemari Milik Penghuni Lama
05 menit membaca

Rumah itu dijual setengah harga pasar. Agen properti bilang pemilik sebelumnya buru-buru pindah ke luar Jawa, tapi kunci-kuncinya masih lengkap, katanya, masih digantung rapi di papan kayu dekat pintu dapur.
Sekar menyukainya sejak pandangan pertama. Sembilan puluh meter persegi, dua kamar, halaman kecil dengan pohon mangga yang rimbun. Adit tidak begitu yakin, tapi dia lelah menyewa. Mereka menandatangani surat-surat itu di atas meja makan yang belum mereka miliki.
Tiga hari setelah pindah, mereka menemukan lemari itu.
Bukan di kamar utama. Bukan di kamar belakang. Tapi di ruang tengah, di sudut yang menghadap ke pintu depan, seperti sengaja diletakkan di tempat orang pertama kali masuk akan melihatnya.
Kayunya jati tua. Tingginya hampir menyentuh langit-langit. Pintunya dua, dengan ukiran sederhana di tengah, dan gagang kuningan yang sudah menghitam karena terlalu banyak disentuh tangan.
"Ini bagus," kata Sekar. "Bisa buat simpan selimut."
Adit membuka pintunya. Bau kapur barus menyeruak keluar, bercampur sesuatu yang lebih tua — bau kayu yang lama tidak dibuka.
Di dalamnya kosong. Rak-raknya bersih. Tidak ada satu pun benda.
Mereka memutuskan memindahkannya ke kamar belakang, supaya ruang tengah terasa lebih lega.
Tidak bisa.
* * *
Empat orang tukang datang hari Sabtu. Mereka mendorong, mengangkat, menggeser dengan linggis kecil. Lemari itu tidak bergerak satu senti pun.
"Beratnya bukan main, Mas," kata tukang paling tua, sambil mengelap keningnya. "Seperti ada yang nahan dari dalam."
Adit tertawa. Tukang itu tidak.
Mereka pergi sore itu dengan upah penuh dan kening berkerut.
Malam itu, pertama kali mereka tidur di rumah baru. Kasur masih di lantai. Kardus belum dibuka. Lampu kamar belakang belum dipasang, jadi mereka tidur di kamar depan, dengan pintu terbuka, supaya udara masuk.
Pukul 03.17, Sekar terbangun.
Bukan karena suara. Karena sesuatu yang lain. Seperti ada yang berubah di udara — lebih dingin, lebih padat, seperti ruangan yang tiba-tiba diisi orang banyak.
Dia menoleh ke pintu kamar.
Di ruang tengah, lemari itu berdiri di sudut. Gelap. Diam.
Pintunya terbuka sedikit.
Dua senti. Tidak lebih.
Dia membangunkan Adit. Adit menutupnya, mengunci gagangnya dengan potongan karet, lalu tidur lagi.
Pagi harinya, pintu itu terbuka lagi. Lebih lebar. Lima senti.
* * *
Hari ketiga, Sekar mulai mencatat.
Dia menggambar garis tipis di lantai, tepat di bawah pintu lemari, dengan pensil. Setiap pagi, dia mengukur jarak antara garis itu dan ujung pintu yang terbuka.
Dua senti. Lima. Delapan. Sebelas.
Seperti sesuatu di dalam sana sedang mendorong pintunya pelan-pelan. Tidak terburu-buru. Sabar. Seperti seseorang yang tahu dia punya seluruh waktu di dunia.
"Mungkin kayunya susut," kata Adit. "Rumah lama, udara lembap."
Sekar tidak menjawab. Dia sedang menempelkan telinganya ke kayu lemari itu.
Dan di dalamnya, dia mendengar sesuatu.
Langkah kaki.
* * *
Bukan langkah di lantai rumah mereka. Langkah di dalam lemari. Di atas papan kayu yang seharusnya tidak cukup luas untuk dipijak.
Pelan. Teratur. Dari kiri ke kanan. Dari kanan ke kiri.
Seperti orang yang mondar-mandir di ruangan sempit, menunggu sesuatu.
Malam itu, Sekar tidak tidur. Dia duduk di sofa, berselimut, menghadap lemari itu. Adit tidur di kamar, lelah habis mengangkat kardus seharian.
Pukul 03.17, suara itu mulai lagi.
Tapi kali ini, bukan cuma langkah.
Ada suara kursi diseret. Suara piring diletakkan di meja. Suara air dituang ke gelas.
Suara rumah.
Suara rumah yang sedang dihuni.
Dan di antara semua suara itu, Sekar mendengar sesuatu yang membuat darahnya berhenti di leher.
Suara perempuan.
Suaranya sendiri.
"Dit," katanya dari dalam lemari, pelan, sayang, seperti sedang membangunkan suami. "Bangun. Sudah pagi."
Sekar menoleh ke jam dinding. 03.18.
Lalu suara laki-laki menjawab. Suara Adit.
"Sebentar. Lima menit lagi."
Persis seperti yang Adit selalu katakan setiap pagi. Persis dengan nada yang sama, jeda yang sama, bahkan desahan kecil di akhir kalimat yang sama.
Dari dalam lemari.
* * *
Dia menceritakannya ke Adit keesokan pagi. Adit mendengarkan, mengangguk, lalu pergi ke dapur dan menuang kopi.
"Kamu kecapekan," katanya. "Rumah baru, tidur kurang."
"Dit, aku dengar suaramu."
"Aku tidur di sebelahmu sepanjang malam."
"Aku tahu."
Adit menatapnya lama. Lalu dia tersenyum, dan senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Kalau begitu," katanya pelan, "besok pagi kita dengar sama-sama."
* * *
Malam itu mereka berdua duduk di sofa. Lampu ruang tengah dimatikan. Hanya lampu kamar yang menyala, memancarkan cahaya tipis lewat pintu yang setengah terbuka.
Lemari itu berdiri di sudut, gelap, dengan pintunya yang sekarang terbuka sejengkal.
Pukul 03.17.
Suara itu datang lagi. Langkah. Kursi. Piring. Air.
Adit menggenggam tangan Sekar. Tangannya dingin.
Lalu suara perempuan itu berbicara lagi.
Suara Sekar.
"Dit," katanya. "Ada yang salah. Pintu depan kebuka semalam."
Adit menoleh ke pintu depan. Terkunci. Rantai terpasang.
Di dalam lemari, suara laki-laki menjawab.
Suara Adit.
"Bukan pintu depan," katanya. "Lemarinya."
Sunyi.
Lalu suara itu — suara mereka berdua, bersamaan, dari dalam kayu — berbisik.
"Dia sudah mulai keluar."
Sekar menoleh ke lemari.
Pintunya terbuka lebih lebar dari semalam.
Dan di dalam kegelapan itu, di antara rak-rak kosong, ada sesuatu yang berdiri.
Membelakangi mereka.
Punggungnya membungkuk. Tangannya tergantung di sisi badan.
Di rak paling atas, tempat yang seharusnya kosong, ada sebuah bingkai foto.
Kuning. Retak di sudut. Menghadap ke bawah.
Adit melangkah maju. Satu langkah. Dia mengulurkan tangan ke bingkai itu —
dan dari dalam lemari, suara itu berbisik lagi. Tapi kali ini bukan suara mereka.
Suara anak kecil.
"Jangan," katanya. "Itu foto aku."
Adit menarik tangannya seperti tersengat.
Pintu lemari itu menutup sendiri.
Pelan.
Sampai rapat.