UNTUK INDONESIA
Yusuf Ahmad Ghazali Setelah Diviralkan Hotman Paris
Yusuf Ahmad Ghazali, bayi berusia 4 tahun ditemukan tak bernyawa di selokan. Organ tubuhnya hilang. Kasusnya diviralkan Hotman Paris Hutapea.
Hotman Paris Hutapea (kanan) menerima pengaduan Melisari, ibunda Yusuf Ahmad Ghazali, bayi berusia 4 tahun ditemukan tak bernyawa dengan organ tubuh hilang. (Foto: Screenshot video @hotmanparisofficial)

Samarinda - Yusuf Ahmad Ghazali, bayi berusia 4 tahun ditemukan tak bernyawa di selokan. Organ tubuhnya hilang. Melisari, ibunda Yusuf menangis di depan pengacara Hotman Paris Hutapea, mengadukan nasib tragis anaknya.

Hotman mengunggah video pertemuannya dengan ibunda Yusuf di Instagram @hotmanparisofficial, Sabtu, 15 Februari 2020.

"Bapak Kapolda Kalimantan Timur, Bapak Kapolres Samarinda, Bapak Kapolsek Samarinda Hulu. Ibu Meli anaknya masih umur 4 tahun, sekolah PAUD, tiba-tiba ditemukan jasadnya di selokan dalam keadaan seluruh organ tubuhnya hilang. Padahal itu di suatu kota. Sampai sekarang belum ditemukan siapa pelaku pembunuhnya, dan kemungkinan besar ada dugaan ini ada jual beli organ tubuh. Sengaja anak ini dibunuh untuk diambil organ tubuhnya untuk dijual," kata Hotman Paris dalam video tersebut.

Saya minta tolong banget. Sampai saat ini kasus anak saya cuma statusnya kelalaian.

Selasa, 18 Februari 2020, Hotman Paris kembali mengunggah sebuah video di akun Instagram, memperingatkan orang tua agar berhati-hati. "Halo semua orang tua, agar benar-benar menjaga anaknya, khususnya anak-anak dari PAUD sampai TK. Karena sekarang ini sudah beberapa kejadian, sesudah anaknya hilang, beberapa hari kemudian ditemukan isi perutnya hilang, ada yang dijahit, ada yang menganga. Diduga semakin banyak beredar pencuri organ tubuh anak-anak untuk diperjualbelikan. Hati-hati semua semua orang tua."

Dalam video lain, Hotman menunjukkan curahan hati Meli yang kecewa kasus anaknya hanya dianggap kelalaian. "Saya minta tolong banget. Sampai saat ini kasus anak saya cuma statusnya kelalaian," Meli menangis sambil memeluk bingkai foto Yusuf Ahmad Ghazali. "Saya minta keadilan buat anak saya, Bang. Ini anak saya satu-satunya laki-laki," Meli menatap penuh harap kepada Hotman.

Hotman juga merekam catatan berupa daftar organ tubuh Yusuf yang hilang. Kepala hilang, seluruh organ tubuh hilang bagian depan, kaki kanan hilang, putus, kaki kiri sampai paha hilang.

Titik Terang

Kasus kematian Yusuf Ahmad Ghazali menunjukkan titik terang setelah pihak kepolisian setempat menerima hasil pemeriksaan DNA dari Puslabfor Mabes Polri. Dari hasil tersebut, dua orang berinisial SY (52) dan ML (26) ditetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Samarinda Ulu, dengan dakwaan lalai hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, berdasarkan pasal 359 KUHP dengan ancaman kurungan di atas 5 tahun penjara.

Melisari tidak bisa menerima status kelalaian, karena itulah ia mengadu kepada Hotman Paris.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Kota Besar Samarinda, Kalimantan Timur, mendatangkan tim Forensik dari Mabes Polri untuk melakukan autopsi jasad Yusuf Ahmad Ghazali, untuk memastikan penyebab kematiannya.

Kepala Polresta Samarinda Komisaris Besar Arief Budiman, Senin, 17 Februari 2020 seperti diberitakan Antara, mengatakan makam Yusuf Ahmad Ghazali dibongkar untuk autopsi. Ini proses autopsi lanjutan untuk mendalami lagi penyebab kematian. Sebelumnya pihak kepolisian sudah melakukan proses pemeriksaan forensik, dibantu tim Dokter RSUD AW Sjahranie Samarinda. 

Arif mengatakan tim Forensik Mabes Polri ini merupakan tim terbaik, dan keputusan autopsi telah disepakati pihak kepolisian dan keluarga. "Mungkin dari tulang saja mereka, tim forensik, bisa mengetahui penyebab kematian. Mereka ahlinya."

Makam Dibongkar

Ahmad Yusuf Ghazali dimakamkan di Pemakaman Umum (TPU), Jalan Damanhuri, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda, Kalimantan Timur. Makam ini dibongkar pada Selasa, 18 Februari 2020, karena penyebab kematian masih simpang siur.

Pembongkaran makam berlangsung selama kurang lebih dua jam. Berikutnya aparat kepolisian bersama Tim Inafis Mabes Polri dipimpin Komisaris Besar Sumy Hastry mengautopsi jenazah Yusuf. Setelah selesai, jenazah Yusuf dikembalikan ke makam.

Anjing Pelacak

Selasa, 18 Februari 2020, Kepolisian Resor Kota Samarinda menurunkan anjing pelacak di PAUD Jannatul Athfaal, Jalan A.W. Sjahranie Samarinda Ulu atau tempat penitipan balita. Di sinilah Yusuf Ahmad Ghazali bersekolah atau dititipkan.

Anjing pelacak tersebut berjenis german shepherd bernama Tappy, diturunkan untuk memastikan penyebab kematian Yusuf. Dikawal pelatihnya, Briptu Kornelius, Tappy bekerja dengan penjagaan Satreskrim Polresta Samarinda. Tappy dibiarkan mengendus barang bukti sepatu yang digunakan terakhir oleh Yusuf sebelum hilang.

Setelah mengenal bau dari target yang harus dicari, Tappy perlahan berjalan mengendus menyusuri arah yang membawanya ke luar lingkungan PAUD. Tanpa diarahkan, Tappy terus mengendus ke arah parit sejauh kurang lebih 500 meter hingga keluar Jalan A.W. Syahranie.

Polisi meminta Tappy bekerja sampai dua kali untuk mendapatkan kepastian. Hasilnya, Tappy selalu mengendus ke arah parit atau selokan. Kornelius mengatakan jika dugaan kematian Yusuf menguat pada indikasi penculikan, anjing terlatih milik kepolisian ini akan menjurus ke arah jalan umum. Namun, pada kenyataannya, Tappy justru terus mengarah ke saluran air atau drainase atau parit atau selokan. []

Berita terkait
Diprotes Hotman Paris, Komisioner KPI Merespon
Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea melayangkan protes terbuka kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lantaran programnya kena surat teguran.
Programnya Kena Teguran, Hotman Paris Nasihati KPI
Hotman Paris Hutapea memberikan nasihat pedas kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lantaran program yang dipandunya kena surat teguran.
Bantu Nikita Mirzani, Hotman Paris Disebut Germo
Dalam pesan suara yang diunggah Nikita Mirzani, seorang pria menyebut Hotman Paris Hutapea sebagai germo yang kerap melakukan pelecehan anak-anak.
0
Diskon untuk Dosen dan Guru di Pameran Buku Tangsel
Diskon bagi guru, dosen, dan pelajar untuk buku fiksi di pamaran buku Big Bad Wolf (BBW) Kota Tangsel, Banten