UNTUK INDONESIA

Waspada Virus Nipah, Khususnya Sumatera Utara, Tingkat Kematian Tinggi

Virus Nipah jadi ancaman baru. Tingkat kematian akibat virus ini sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari virus corona. Kalong dan Babi pembawa virus.
Kelelawar. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Pandemi Covid-19 belum usai, kini virus Nipah menjadi ancaman baru. Tingkat kematian akibat virus ini sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari virus corona. Di Indonesia, Sumatera Utara dikhawatirkan menjadi pintu masuk virus ini dari Malaysia dan Singapura.

Karena dari beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya kelelawar buah bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaysia ke Pulau Sumatera khususnya Sumatera Utara yang dekat dengan Malaysia

Virus Nipah (NiV) merupakan virus zoonosis yang bisa menular dari hewan seperti kelelawar dan babi ke manusia. Tingkat kematian virus Nipah mencapai 75% dan sampai saat ini belum ada vaksinnya.

Sebenarnya virus ini bukan virus baru. Penyakit ini pertama kali muncul di sebuah desa di Malaysia bernama Sungai Nipah pada tahun 1998, menyebabkan wabah respirasi pada babi, yang kemudian menyerang manusia.

Indrawati Sendow dari Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor bersama para peneliti dari Australia dalam jurnal ilmiahnya menyebut mewabahnya penyakit ini di Malaysia, dimulai dari kalong kemudian babi dan selanjutnya ke manusia, yang menyebabkan kematian. Dengan demikian maka penyakit ini dapat menjadi ancaman bagi peternakan babi dan masyarakat di Indonesia.

KelelawarKelelawar. (Foto: Pixabay/Salmar)

Penyakit Nipah disebabkan oleh virus Nipah, dari genus Morbilivirus,
famili Paramyxoviridae. Babi dan kalong (Pteropus spp.) telah terbukti memainkan peranan yang sangat penting dalam kejadian wabah
Nipah di Malaysia. Kelelawar bertindak sebagai induk semang reservoir, sedangkan babi bertindak sebagai pengganda yang mampu mengamplifikasi virus Nipah (amplifier host), yang siap ditularkan ke hewan lain atau manusia. 

Kementerian Kesehatan meminta masyarakat di Indonesia mewaspadai ancaman virus ini yang dikhawatirkan menjadi pandemi baru. Mengutip CNN Indonesia, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Didik Budijanto, mengatakan Indonesia harus selalu waspada terhadap potensi penularan virus nipah dari hewan ternak babi di Malaysia melalui kelelawar pemakan buah.

"Karena dari beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya kelelawar buah bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaysia ke Pulau Sumatera khususnya Sumatera Utara yang dekat dengan Malaysia," kata Didik. 

Meski demikian, Didik memastikan hingga saat ini belum ada temuan kasus virus Nipah di Indonesia. "Sampai saat ini kejadian infeksi virus nipah belum pernah dilaporkan di Indonesia," ujarnya.

Cara Penularan

Berdasarkan laporan di Bangladesh dan India, cara penularan virus Nipah yakni melalui konsumsi buah maupun produk olahan buah yang terkontaminasi dengan urin maupun air liur kelelawar yang terinfeksi.

Peneliti virus ternama dari Thailand, Supaporn Wacharapluesadee, mengaku khawatir terhadap ancaman virus ini dan dapat menjadi pandemi baru.  Wacharapluesadee adalah pemburu virus kelas wahid. Ia memimpin Thai Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre, lembaga penelitian yang meneliti penyakit-penyakit infeksi baru (emerging), di Bangkok. 

"Ini (virus Nipah) sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya dan tingkat kematian yang disebabkan virus ini tinggi," kata Wacharapluesadee. 

Ia mengatakan tingkat kematian virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung lokasi terjadinya wabah. Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat virus Nipah begitu mengancam. Periode inkubasinya yang lama, bisa sampai 45 hari, berarti ada banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi, tidak menyadari bahwa mereka sakit, untuk menyebarkannya. Dapat menginfeksi banyak jenis hewan, menambah kemungkinan penyebarannya. Dapat menular baik melalui kontak langsung maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi. 

Beberapa laporan kasus virus Nipah, berdasarkan catatan WHO: 

- 1998 di Malaysia, 265 kasus dilaporkan, 105 pasien meninggal dunia (angka kematian 40 persen).

- Februari 2001, di Siliguri, India, 66 kasus dilaporkan, 45 orang dinyatakan meninggal (angka kematian 68 persen).

- Januari hingga Maret 2005 Tangail, Bangladesh, 12 kasus dilaporkan, 11 orang dinyatakan meninggal (angka kematian hingga 92 persen).

- April 2007, India, 5 kasus dilaporkan dan mereka semua meninggal dunia (100 persen kematian).

Sepanjang penyebaran virus Nipah di dunia sejak 1998 hingga 2008, WHO mencatat ada 477 kasus dan 248 orang meninggal.

Gejala Virus Nipah dan Pencegahan

Mengutip dari berbagai sumber, gejala virus Nipah pada umumnya muncul dalam 4-14 hari usai terinfeksi. Ada gejala awal yang muncul termasuk demam dan sakit kepala, yang bisa berlangsung 3-14 hari.

Namun, di beberapa kasus gejala virus Nipah bisa memburuk hingga pasien mengalami koma dalam rentang wkatu 24-48 jam.

Beberapa gejala ringan jika terinfeksi virus ini adalah demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan muntah. Jika masuk pada gejala berat yakni sulit bernapas, kejang, koma, pembengkakan otak (ensefalitis), dan kematian.

Agar terhindar dari virus ini beberapa ahli menyarankan beberapa tindakan pencegahan yakni cuci tangan teratur dengan sabun dan air, menghindari kontak dengan kelelawar atau babi yang sakit, menghindari area tempat kelelawar biasanya bertengger, hindari konsumsi kurma mentah, dan hindari konsumsi buah-buahan yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar. 

Hingga kini belum ada pengobatan efektif untuk mengatasi infeksi virus Nipah. Begitu pun dengan vaksin untuk pencegahannya. Karenanya, langkah terbaik mencegah penyakit ini adalah dengan menghindari kontak dengan kelelawar di daerah endemik dan babi yang sakit. []



Berita terkait
Kematian Karena Virus Corona di Inggris Lebih 100 Ribu
Inggris laporkan jumlah kematian terkait virus corona lebih dari 100.000 sehingga Inggris jadi negara kedua di Eropa dengan kematian lebih 100 ribu
Aceh Zero Kasus Virus Corona, Pahami Gejalanya
Pencegahan kasus baru perlu dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat dengan cara memahami gejala infeksi virus corona dan menangkalnya.
Jumlah Kasus Virus Corona di Indonesia Tembus 1 Juta
Penyebaran virus corona di Indonesia terus terjadi dengan kasus harian yang banyak sehingga secara kumulatif menembus angka 1 juta yaitu 1.012.350
0
Waspada Virus Nipah, Khususnya Sumatera Utara, Tingkat Kematian Tinggi
Virus Nipah jadi ancaman baru. Tingkat kematian akibat virus ini sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari virus corona. Kalong dan Babi pembawa virus.