UNTUK INDONESIA

Jakarta - Ketua KPK Firli Bahuri diadukan Masyarakat AntiKorupsi Indonesia (MAKI) karena diketahui menggunakan helikopter dalam perjalanan pribadinya ke Baturaja, Sumatera Selatan, 20 Juni lalu. MAKI menilai tindakan Firli ini melanggar kode etik. Tidak hanya menyiratkan gaya hidup mewah, hedonis, tapi juga karena helikopter yang membawa Firli itu diduga berafiliasi milik perusahaan raksasa. Fasilitas semacam ini dinilai masuk ranah gratifikasi. ICW menyatakan bahwa seharusnya Firli tidak menerima fasilitas dari siapapun seperti Helikopter maupun mobil Alphard apalagi jika pemilik Heli tersebut memiliki kasus di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Selama 7 bulan kepemimpinan Firli Bahuri, ICW menilai kinerja KPK mengalami kemunduran dan kemerosotan, dan hal ini sudah diprediksi dari awal bahwa memang KPK secara sengaja diperlemah oleh pihak pihak tertentu.

Yang anehnya lagi, pembahasan kenaikan gaji dari pimpinan KPK justru yang terus bergulir, sementara hingga saat ini tidak ada lagi kasus korupsi besar yang berhasil diungkap. Silahkan disimak video wawancara Tagar bersama koordninator ICW Adnan Topan Husodo.