UNTUK INDONESIA

Jakarta - Wawancara khusus Tagar dengan Mohamad Guntur Romli atau Gun Romli, intelektual muda Nahdlatul Ulama, politikus Partai Solidaritas Indonesia, Senin, 6 Juli 2020. Gun Romli menyebutkan ada kelompok kritis dan kelompok provokator dalam kontroversi Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Negara (RUU HIP).

Kelompok kritis di antaranya adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj yang mengajukan agar RUU HIP ditarik, diganti dengan RUU BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila). Ini merupakan jalan tengah yang ditempuh Said Aqil, upaya untuk mengakhiri polemik RUU HIP.

Sementara kelompok provokator di antaranya adalah Novel Bamukmin dari Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang tak lain adalah FPI (Front Pembela Islam). Gun Romli mengatakan Novel Bamukmin sudah biasa menunggangi agama, kali ini menunggangi Pancasila. Sok-sokan membela Pancasila.

Gun Romli secara khusus mengecam Novel Bamukmin yang telah melecehkan Said Aqil Siradj dan Nahdlatul Ulama. Sebelumnya Novel Bamukmin mengatakan Said Aqil dan RUU BPIP tidak mewakili seluruh umat Islam, Said Aqil juga sudah tidak didengar lagi di kalangan Nahdliyin (sebutan kaum Nahdlatul Ulama).

Novel Bamukmin, kata Gun Romli, kalau tidak setuju dengan Said Aqil ya bilang saja tidak setuju.

"Kiai Said itu hanya menyampaikan pendapat, mencari jalan tengah, dan itu sebuah sikap yang arif dari seorang ulama dan seorang pemimpin ormas. Kalau kamu tidak setuju ya bilang tidak setuju, tidak perlu melecehkan seperti itu, enggak mewakili umat Islam lah, enggak didengar di NU lah. Novel Bamukmin itu tahu apa tentang Kiai Said, tentang NU," kata Gun Romli.

"Wong dia itu FPI kok, wong dia itu PA 212, yang enggak pernah ngaji, enggak pernah ke pesantren, enggak mengerti tentang kiai, tentang ulama. Dia kurang ajar sekali, menyatakan pendapat seperti itu," kata Gun Romli lagi.

Ia mengatakan FPI berteriak-teriak anti komunis, tapi tidak pernah berkata anti teroris. Sementara Nahdlatul Ulama jelas anti komunis dan anti teroris.

Gun Romli juga mengatakan Rizieq Shihab, Imam Besar FPI, mendorong FPI untuk mendukung kelompok teroris ISIS. Bagaimana mungkin yang seperti ini berteriak-teriak bela Pancasila. Juga adanya anasir-anasir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang pura-pura bela Pancasila. Mereka yang tidak setuju RUU Pancasila, mereka lah penolak Pancasila yang sebenarnya.