UNTUK INDONESIA

Upaya Industri Wisata Kapal Pesiar Bangkit dari Krisis

Wisata kapal pesiar berusaha bangkit dari krisis karena terpaaan pandemi virus corona global, upaya yang dilakukan dengan vaksinasi
Ilustrasi: Kapal pesiar (dw.com/id)

Jakarta - Industri wisata kapal pesiar mewah sedang mengalami booming, sebelum dihentikan total oleh pandemi virus corona. Bisakah industri kapal pesiar pulih tahun ini, dan perubahan apa yang akan terjadi dalam jangka panjang? Felix Schlagwein menuliskannya untuk dw.com/id.

Bisnis wisata kapal pesiar selama beberapa tahun terakhir berkembang pesat: makin banyak penumpang dan kapal-kapal baru makin modern dan makin besar. Sampai tiba-tiba pandemi Covid-19 muncul dan menghentikan total semuanya tahun 2020.

Sejak itu, sebagian besar dari 400 kapal pesiar raksasa di seluruh dunia hanya bisa menunggu di pelabuhan. Banyak model tua sudah dijual atau bahkan dijadikan besi tua untuk menghemat biaya. Karena ongkos pemeliharaan kapal pesiar cukup mahal, apalagi pendapatan perusahaan wisata pelayaran selama berbulan-bulan hampir nol.

kapal pesiarSingapura meluncurkan program kapal pesiar tanpa tujuan setelah industri pelayaran terkena dampak hebat virus corona (Foto: voaindonesia.com - AP/Kin Cheung)

Kelompok perjalanan wisata terbesar Eropa, TUI, menyebut 2020 sebagai "tahun bencana". Di Eropa saja, menurut Cruise Lines International Association (CLIA), lebih dari 200.000 pekerjaan yang bergantung secara langsung atau tidak langsung pada industri ini telah hilang sejak Maret 2020. Puluhan ribu karyawan yang masih bekerja harus dikurangi jam kerjanya, dengan pembayaran lebih sedikit.

1. Konsep Kesehatan dan Aturan Higienis Baru

Memasuki tahun 2021, sudah mulai ada sedikit optimisme. "Seperti sektor industri lainnya, industri pelayaran wisata menggantungkan harapan mereka pada vaksin dan vaksinasi luas", kata konsultan dan analis industri kapal pesiar Thomas Illes dalam wawancara dengan DW.

Agar semuanya berjalan lancar, industri dan perusahaan telah mengembangkan konsep higienis yang ketat. Pada awal pandemi, kapal pesiar sempat menjadi salah satu hot spot penularan Covid-19- Hal itu tidak boleh terjadi lagi dan harus dihindari.

Itu sebabnya, siapa pun yang ingin naik kapal pesiar harus melakukan tes Covid-19 lebih dulu. Sebagian besar biaya tes akan ditanggung oleh perusahaan penyedia kapal pesiar. Selain itu ada protokol kesehatan yang ketat di dalam kapal. Semua penumpang dan staf wajib memakai masker.

Sistem tertutup di sebuah kapal pesiar yang dulu menjadi "kutukan", sekarang menjadi keuntungan dan "berkah". Tidak seperti tamu di hotel di darat, penumpang di atas kapal pesiar tidak bisa datang dan pergi sesuka mereka. Jadi mereka bisa dipantau dan diawasi selama bergerak di atas kapal. Pemantauan dilakukan dengan sistem digital dan pelacakan kontak di atas kapal bisa dilakukan dengan cepat.

ratusan kapalRatusan kapal pesiar hanya bisa "parkir" di pelabuhan selama puncak pandemi Covid-19 (dw.com/id)

"Di atas kapal, pengawasan sifatnya hampir total, tanpa langsung disadari oleh penumpang," kata Thomas Illes lebih lanjut. "Ahli epidemiologi di darat akan sangat senang memiliki kemampuan pengawasan dan pelacakan seperti itu."

2. Tanpa Vaksinasi, Tidak Ada Pemulihan

Apakah industri kapal pesiar benar-benar dapat pulih pada tahun ini, akan sangat bergantung pada kemanjuran vaksinasi. Hingga saat ini, para investor masih tetap bertahan, karena mereka tahu bisnis wisata kapal pesiar dalam situasi normal sangat menguntungkan. Selain itu, pelanggan wisata kapal pesiar termasuk pelanggan setia. "Sampai sekarang masih tetap ada permintaan untuk wisata kapal pesiar," kata TUI kepada DW.

Jadi semua masih menunggu gelombang vaksinasi di berbagai negara. Hingga kini, beberapa negara yang menjadi tujuan utama, Yunani, AS, dan Spanyol, masih memblokir pelabuhan mereka untuk kapal pesiar sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Hanya Kepulauan Canary, yang termasuk wilayah Spanyol, yang saat ini terbuka untuk kapal pesiar. Tetapi angka penularan Covid-19 di sana belakangan juga meningkat. Apalagi, situasi politik belum mendukung, sebab di daratan, kebanyakan negara Eropa masih memberlakukan lockdown dan pembatasan ketat.

Secara politis, kata analis industri kapal pesiar Thomas Illes, sulit membayangkan untuk mengizinkan wisata kapal pesiar dengan ribuan orang, "sementara orang lain di darat tidak bisa menginap di hotel atau makan di restoran." (hp/as)/dw.com/id. []

Berita terkait
5 Tempat Wisata Hits di Surabaya, Ada Resto di Kapal Pesiar
Selain mall dan monumen militer, Surabaya menyimpan banyak destinasi wisata yang tak kalah hits lho.
Keliling Dunia Pakai Kapal Pesiar Selama 119 Hari Rp 217 Juta
Selama 199 hari melintasi 53 pelabuhan di 33 negara, kenyamanan lain untuk keliling dunia lewat kapal pesiar.
Kasus Positif Turun, Wisata Pakai Kapal Pesiar Banjir Pesanan
Kasus positif virus corona yang mulai turun memicu traveler ramai-ramai berwisata menggunakan kapal pesiar.
0
Upaya Industri Wisata Kapal Pesiar Bangkit dari Krisis
Wisata kapal pesiar berusaha bangkit dari krisis karena terpaaan pandemi virus corona global, upaya yang dilakukan dengan vaksinasi