UNTUK INDONESIA
Trump, Belajarlah dari Al Gore untuk Gentleman
Donald Trump marah dan Tak terima hasil Pemilu AS. Kemarahan Trump ini sepertinya merusak tradisi gentlemen dalam menyikapi hasil Pemilu di AS.
Presiden Donald Trump berkampanye di Bandara Phoenix Goodyear, Arizona, Rabu, 28 Oktober 2020. (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Jakarta - Presiden Donald Trump marah dan tak terima hasil Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020. Ia menyebut Pilpres tersebut penuh dengan kecurangan walau tak pernah memberikan bukti. Kemarahan Trump ini sepertinya merusak tradisi gentlemen dalam menyikapi hasil Pemilu di AS yang selama ini diakui oleh dunia.

Perkembangan ini bisa memicu kekacauan dan bahkan kerusuhan

Tradisi gentlemen dalam menyikapi hasil Pemilu adalah tradisi yang sudah sejak lama ada di Amerika Serikat. Biasanya pihak yang kalah menelepon pemenang atau presiden terpilih. Yang kalah akan mengatakan, “Tuan Presiden, selamat atas kemenangan Anda. Saya siap menyerahkan diri Saya untuk bersama-sama Anda mengabdi kepada negara agar negara berjalan dengan baik.”

Setelah telepon tersebut, biasanya pihak yang kalah akan menyampaikan pidato pengakuan (concession speech) di hadapan pendukungnya. Yang kalah akan mengajak pendukungnya untuk membantu presiden terpilih.

Namun tradisi itu tampaknya tak ada dalam benak Trump. Lihat saja, dalam beberapa pidatonya, Trump bahkan tak mengakui hasil Pemilu dan menyebut Pemilu penuh dengan kecurangan. Ironisnya, Trump tak pernah memberikan bukti dimana letak kecurangannya. 

Bahkan beberapa stasiun televisi di AS, Kamis, 5 November 2020 malam, menghentikan siaran langsung Donald Trump dari Gedung Putih setelah menyimpulkan bahwa Trump menyebarkan disinformasi. Trump juga mengamuk di Twitter dengan membuat semua huruf kapital menunjukan kemarahannya.

trum klaim bbcPresiden Trump mengklaim kemenangan pada 4 November 2020 pukul 02:30 waktu setempat (Foto: bbc.com/Indonesia – EPA)

Trump mengamuk dengan mengatakan kebohongan demi kebohongan tentang pemilihan yang dicuri, tanpa bukti, dan hanya tuduhan-tuduhan. 

Beberapa negara Eropa pun menjadi khawatir dengan sikap Trump tersebut. Mantan Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk menyebut Donald Trump sebagai "anak nakal yang pemarah".

Tusk mengatakan Trump menggunakan kebohongan dan konflik untuk tetap berkuasa. Tusk, mantan perdana menteri Polandia, mengatakan upaya Trump untuk menghentikan penghitungan suara setelah pemilihan presiden AS adalah pukulan bagi demokrasi negaranya. 

Media di Cina juga menganalisis kemungkinan terjadinya sengketa dan kerusuhan di AS akibat sikap Trump tersebut. 

Kantor berita resmi China Xinhua mengatakan banyak media dan rakyat khawatir jika terjadi sengketa pemilu. "Perkembangan ini bisa memicu kekacauan dan bahkan kerusuhan," tulis Xinhua.

Bahkan sebenarnya, seusai pemilihan, telah terjadi bentrokan antar-pendukung Trump dan Biden di berbagai wilayah di AS, hal yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam pemilihan presiden AS.

Pengunjuk rasa anti-Trump baku hantam dengan polisi departemen New York ( NYPD) pada Rabu, 4 November 2020 malam. Ketegangan juga meningkat antara pendukung Trump dan Biden di Philadelphia. 

Ada baiknya Trump belajar dari Al Gore, calon presiden dari Partai Demokrat yang ketika itu bersaing melawan George Bush Jr, tahun 2000.

Ketika itu, Al Gore yang menjabat wakil presiden dinyatakan kalah. Dia lantas menelepon Bush dan memanggilnya Tuan Presiden terpilih dan menyatakan kekalahannya dan siap membantu presiden.

Namun, ternyata ada persoalan besar dalam penghitungan suara di negara bagian Florida yang bisa mengubah hasil akhir. Persoalan itu kemudian menjadi sengketa yang berlarut selama berminggu-minggu. 

Al GoreAl Gore (Foto: axios.com)

Sengketa itu bergulir dari Pengadilan Florida hingga Mahkamah Agung Amerika (the Supreme Court of United States of America). Oleh Mahkamah Agung AS,  perkara ini dihentikan dan tidak boleh dilanjutkan karena memecah belah bangsa. 

Setelah putusan MA itu, Al Gore kembali menelepon Bush. “Tuan Presiden selamat atas kemenangan Anda. Saya pastikan saya tidak akan menelepon Anda kembali untuk mempertanyakan hasil Pemilu.”

Telepon Gore itu menjadi salah satu sejarah yang paling dikenang oleh bangsa Amerika. Ada baiknya Trump meniru sikap Al Gore tersebut. []


Berita terkait
Salip Trump di Georgia, Joe Biden di Ambang Kemenangan
Joe Biden hampir pasti menjadi Presiden Amerika ke-46 setelah dalam penghitungan suara terbaru menyalip Donald Trump di negara bagian Georgia.
Kalah Pilpres Donald Trump Lancarkan Serangan ke Jalur Hukum
Upaya Presiden Trump untuk terpilih kembali dalam bahaya sehingga dia lancarkan serangan yang dapat sebabkan pertempuran hukum yang berlarut-larut
Donald Trump Lanjutkan Hasil Pilpres ke Mahkamah Agung
Pemenang Pilpres AS belum tunjukkan hasil sehingga belum ada capres dengan suara mayoritas yang diperkirakan bisa berujung di Mahkamah Agung
0
Trump, Belajarlah dari Al Gore untuk Gentleman
Donald Trump marah dan Tak terima hasil Pemilu AS. Kemarahan Trump ini sepertinya merusak tradisi gentlemen dalam menyikapi hasil Pemilu di AS.