Indonesia
Trik Dulang Suara Dalam Pemilu 2019 Dengan Teknik Pemasaran
Sejurus dengan prediksi IMA terkait tren pemasaran yang bergerak sepanjang tahun 2019.
Kiri ke kanan: Ketua IMA Periode 2015-2017/Managing Director Airfast Indonesia, Arif Wibowo, Ketua IMA periode 2017-2019, De Yong Adrian, dan Sekjen IMA 2017-2019, Profesor Adrianto Widjaja. (Foto: Tagar/Suratno Wongsodimedjo)

Jakarta, (Tagar 9/1/2019) - Tahun baru merupakan babak anyar yang menantang dalam dunia bisnis dan pemasaran. Menanggapi hal ini, Indonesia Marketing Association (IMA) memprediksi akan ada 9 tren pemasaran yang bergerak sepanjang tahun 2019. 

Sejumlah tersebut digadang-gadang akan jadi antisipasi paling efektif bagi para pelaku dunia usaha.

Meski IMA secara khusus menggelontorkan 9 tren tersebut untuk pelaku dunia usaha, namun beberapa poin dari tren-tren tersebut sejatinya bisa diadaptasi menjadi teknik pemasaran dalam dunia politik.

Presiden IMA, De Yong Adrian, memandang dominasi oleh teknologi digital akan menjadi salah satu paling signifikan dalam tren pemasaran di tahun 2019.

"Tentu saja karena beberapa tahun terakhir faktor teknologi semakin pesat dan tidak terpisahkan dari marketing. Namun tetap jangan melupakan faktor offline, yang justru harus dikombinasikan dengan online," papar Adrian dalam acara IMA Media Gathering 2019 di Philip Kotler Theatre Class, Jakarta Selatan, Selasa (8/1).

Adrian juga memaparkan poin ke-6 dan ke-7 dari 9 tren yang menjadi pembahasan. 2 poin tersebut dinilai bisa diadaptasi ke dunia pemasaran politik jelang Pemilu 2019 pada april mendatang.

Poin 6 antara lain membahas perihal pentingnya konektivitas produk berdasarkan generasi, sedangkan poin 7 berteori tentang membesarnya sebuah produk yang memiliki efek sosial tertentu.

Menurut IMA, semakin beratnya merek yang memihak kepada milenial menimbulkan konsekuensi: ketika brand tidak sanggup bersaing merebut milenial, generasi lain menjadi opsi. Baik itu generasi X, baby boomer, maupun silent generation.

Konsumen atau pemilih yang selalu terkoneksi dan update kegiatan sebuah merek selama 24 jam sehari biasanya mengambil keputusan bersifat emosional.

Kesempatan ini membuat brand mencoba membangun keterikatan dengan konsumen mereka lewat berbagai kegiatan sosial.

Kedua poin tersebut jelas bisa dijadikan referensi menjaring suara dalam kontestasi Pemilu 2019.

Brand sebagai citra pada seorang kandidat calon legislatif ataupun calon presiden bisa dikelola secara lebih baik menggunakan kedua teknik pemasaran tersebut.

Berita terkait
0
ICMI Desak Ustaz Abdul Somad Meminta Maaf
Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie meminta Ustaz Abdul Somad (UAS) segera meminta maaf dalam kontroversi 'salip jin kafir'.