Untuk Indonesia
Tragedi Bom Surabaya: Tolak Teror Atas Nama Agama
Tragedi 13 Mei 2018 menjadi hari kelam bagi Kota Surabaya. Bom meledak di tiga gereja dan memakan korban jiwa
Tujuh tokoh agama di Surabaya bersatu mengenang tragedi rentetan bom di Surabaya pada 13 Mei 2018 di Gereja St Maria tak Bercela, Senin 13 Mei 2019. (Foto: Tagar/Fajar Ihwan).

Surabaya - 13 Mei 2018 menjadi hari kelam bagi Kota Surabaya. Tercatat dalam ingatan di pagi yang tenang, di Mapolda Jawa Timur (Jatim) menggelar Istighosah untuk kelancaran pelaksanaan Pemilihan Gubernur Jatim.

Kekhusyukan peserta Istighosah sempat terganggu saat tersiar kabar terjadi rentetan bom di tiga gereja. Kabar bom meledak pertama datang dari Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngangel Madya.

Tak berselang waktu lama, ledakan terjadi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro dan bom ke tiga meledak di Gereja Pantekosta Pusat Jalan Arjuna.

Setelah dilakukan penyelidikan dan olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan fakta bahwa pelaku teror bom di tiga gereja di Kota Surabaya adalah satu keluarga.

Dipimpin suami istri Dita Oepriarto (48) dan Puji Kuswati (43), dua anak perempuan mereka berinisial FS (12) dan FR (9), serta dua anak laki-laki berinisial YF (18) dan FA (16).

Akibat teror bom menewaskan 18 orang, di antaranya enam pelaku dan 12 warga. Dan pada 1 Juni 2018, satu orang yang menderita luka bakar 90 persen akibat bom Gereja Pantekosta meninggal dunia.

Setahun berlalu, Gereja St Maria Tak Bercela menggelar mengenang tragedi 13 Mei. Dalam kegiatan tersebut, tampak hadir tujuh pemuka agama di Kota Surabaya seperti Katolik, Protestan, Budha, Hindu, Islam, Konghucu, dan Kejawen. Mereka bersatu melawan teror yang mengatasnamakan agama.

Romo Kepala Paroki SMTB Agustinus Eko Winarno menyampaikan, kejadian 13 Mei 2018 menjadi luka bagi jemaat Katolik di Gereja St Maria Tak Bercela. Meski demikian, jemaat Gereja St Maria Tak Bercela bisa bangkit dan melawan segala bentuk teror yang mengatasnamakan agama.

"Ini menjadi seruan kami untuk menolak segala bentuk kekerasan dan kejahatan yang bisa menimbulkan korban jiwa," ujarnya.

Romo Agustinus pun menegaskan tragedi 13 Mei 2018 lalu tidak akan bisa memecah kebersamaan antarumat beragama di Kota Surabaya, khususnya di Jatim.

"Peristiwa tahun lalu untuk merefleksikan tahapan iman kami. Kejadian itu juga membuka jalin dengan teman-teman agama yang lain untuk bersatu dan saling menguatkan. Kita berharap kejadian 13 Mei tidak lagi terjadi di Surabaya, khususnya di Jatim," pungkasnya.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengaku, masih mengingat jelas bagaimana pada saat kejadian dirinya menjadi garda terdepan memberika update berita tentang teror bom.

"Saya masih ingat berdiri di ujung jalan dan kemudian di depan rekan-rekan menyampaikan tentang update korban yang ada. Peringatan ini menjadi momentum bagi kita untuk mengingat kembali, sekaligus mengantisipasi, sekaligus bersama-sama tidak takut terhadap teror," tegasnya.

Dia melanjutkan,"dan bagaimana kembali bersatu bahwa rentannya kita akan ideologi yang tidak bertanggungjawab terhadap keamanan dan kesatuan bangsa ini," pungkasnya.[]

Baca juga:

Berita terkait
0
Perseteruan Nikita Mirzani dan Farhat Abbas Makin Panas
Perseteruan Farhat Abbas dan Nikita Nirzani terjadi di media sosial. Saling sindir terjadi, masing-masing memiliki argumen sendiri.