Jakarta - Masyarakat tentu sudah tak asing lagi ketika melihat sosok yang menggunakan baret merah, pisau komando, dan loreng darah mengalir. Sebab, sosok dengan ciri khas tersebut merupakan Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.

Satuan khusus yang bercirikan daya gerak, daya tempur, dan daya tembak yang tinggi itu memiliki mampu beroperasi tidak tergantung pada waktu, tempat, cuaca atau kondisi medan di tiga matra yaitu darat, laut, dan udara.

Tugas pokoknya membantu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dalam membina fungsi dan kesiapan operasional pasukan khusus serta menyelenggarakan Operasi Komando, Operasi Sandi Yudha dan Operasi Penanggulangan Teror sesuai perintah Panglima TNI dalam rangka mendukung Tugas Pokok TNI.

HUT KopassusPrajurit Kopassus TNI AD melakukan unjuk kebolehan dalam peringatan HUT Ke-67 Kopassus di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019). HUT Ke-67 Kopassus mengangkat tema Mewujudkan Prajurit Kopassus yang Profesional, Kuat dan Tangguh serta Adaptif Menghadapi Tantangan Global. (Foto : Antara/Sigid Kurniawan)

Sejarah Kopassus

Pada bulan Juli 1950, di bawah pemerintahan Presiden Pertama Soekarno timbul pemberontakan di Maluku oleh kelompok yang menamakan dirinya RMS (Republik Maluku Selatan). Pimpinan Angkatan Perang RI saat itu pun tak tinggal diam. Mereka mengerahkan pasukan untuk menumpas gerombolan RMS.

Operasi itu lantas dipimpin langsung oleh Panglima Tentara Teritorium III Kolonel A.E. Kawilarang dengan Komandan Operasi Letkol Slamet Riyadi. Meski berhasil menumpas gerakan pemberontakan, tetap saja tidak sedikit yang menjadi korban dari pihak TNI .

Setelah melalui pengkajian ditemukanlah penyebabnya kenapa musuh dengan kekuatan yang relatif lebih kecil seringkali mampu menggagalkan serangan TNI yang kekuatannya jauh lebih besar. Ternyata taktik dan pengalaman tempur yang baik didukung kemampuan tembak tepat dan gerakan perorangan anggota pasukan musuh lebih tinggi, selain semangat atau perlengkapan yang lebih lengkap.

Atas dasar kesimpulan itu, Letkol Slamet Riyadi berinisiatif membentuk suatu satuan pemukul yang dapat digerakkan secara cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai sasaran di medan yang paling berat sekali pun. Hanya saja, Letkol Slamet Riyadi gugur dalam sebuah pertempuran sehingga cita-citanya diteruskan oleh Kolonel A.E Kawilarang.

Akhirnya, pada 16 April 1952 melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorial III No. 55/Inst/PDS/52 terbentuklah Kesatuan Komando Teritorium III yang merupakan cikal bakal 'Korps Baret Merah' (Kopassus).

Jabatan Komandan pertama Kesatuan Komando Teritorium III dipercayakan kepada Mayor Mochammad Idjon Djanbi, mantan Kapten KNIL yang pernah bergabung dengan Korps Special Troopen dan  bertempur dalam Perang Dunia II.

Sebelum menemukan nama Kopassus, ternyata satuan ini mengalami beberapa kali perubahan nama. Pada 1952, tahun yang sama ketika terbentuk Kesatuan Komando Teritorium III berubah nama menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Setahun kemudian pada 1953 menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD). Selanjutnya pada 1955 menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dengan menambah kualifikasi kepada setiap prajuritnya. Sempat bertahan dengan RPKAD selama hampir sepuluh tahun. Satuan ini kembali berganti nama pada 1966 menjadi Pusat Pasukan Khusus TNI AD (PUSPASSUS TNI AD).

Pada 1971 perubahan nama pun dilakukan kembali menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Hingga pada 1985 satuan ini menemukan nama yang sesuai, yakni Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang digunakan hingga kini.

HUT KopassusPrajurit Kopassus TNI AD melakukan unjuk kebolehan dalam peringatan HUT Ke-67 Kopassus di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019). HUT Ke-67 Kopassus mengangkat tema Mewujudkan Prajurit Kopassus yang Profesional, Kuat dan Tangguh serta Adaptif Menghadapi Tantangan Global. (Foto : Antara/Sigid Kurniawan)

Struktur Organisasi

Sesuai Surat Panglima TNI Nomor: B/563-08/05/06/SRU 23 Maret 2001, struktur organisasi Kopassus saat ini terdiri sebagai berikut.

  • Makopassus, berkedudukan di Cijantung. Sesanti Pataka Kopassus adalah “Tribuana Chandraca Satya Dharma”.
  • Pusdiklatpassus, berkedudukan di Batujajar dengan sesanti Sempana “Tri Yudha Sakti”.
  • Grup-1 Kopassus, berkedudukan di Serang dengan sesanti Dhuaja “Eka Wastu Baladika”.
  • Grup-2 Kopassus, berkedudukan di Solo dengan sesanti Dhuaja “Dwi Dharma Birawa Yudha".
  • Grup-3 Kopassus, berkedudukan di Cijantung dengan sesanti Dhuaja “Catur Kottaman Wira Naraca Byuha".
  • Satuan-81 Kopassus, berkedudukan di Cijantung dengan sesanti Dhuaja “Siap Setia Berani".

KopassusIlustasi anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat berada di Lapangan Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Jum'at (1/2/2019). (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)

Prestasi

Sejak resmi dibentuk, satuan ini telah mampu berprestasi dalam memberantas pemberontak di Indonesia. Di antaranya peristiwa pemberontakan DI/TII, PRRI, Permesta, Pembebasan Irian Barat, dan menumpas pemberontakan komunis.

Kopassus juga turut berperan dalam peristiwa pembebasan sandera di pesawat Woyla Don Muang Bangkok, pembebasan sandera peneliti Tim Loren di Mapenduma Irian Jaya, menumpas gerakan pengacau keamanan di bumi Nusantara, dan ikut serta partisipasi dalam pembebasan sandera di KM Sinar Kudus.

Keberhasilan Kopassus di dalam negeri ini pun membuahkan penugasan-penugasan Kopassus dalam misi perdamaian di luar negeri. Selain itu prajurit Kopassus yang mampu menelurkan prestasi lain, yaitu pencapaian puncak gunung tertinggi di dunia Mount Everest, memecahkan rekor Asia dalam kerjasama di udara antar canopi (CRW) dengan formasi 17 penerjun bersusun tegak, dan berbagai prestasi lainnya.

Tokoh Elite Kopassus

Satgas TinombalaSatgas Tinombala, gabungan Kopassus dan Kostrad saat melakukan penyisiran di Pegunungan Biru, Poso, Sulawesi tengah. (Foto: Ist)

Prestasi Kopassus tak lepas dari peran serta prajuritnya, terutama komando dari elite Kopassus. Dari sejumlah elite Kopassus berikut nama-nama yang terkenal berprestasi ketika mengemban jabatan sebagai komandan satuan khusus tersebut.

Mayor Mochammad Idjon Djanbi adalah komandan pertama satuan yang masih bernama Kesatuan Komando Teritorium III. Ia lahir di Boskoop, Hindia Belanda, pada 13 Mei 1914 dan meninggal di Yogyakarta pada 1 April 1977.

1. Muhammad Idjon Djanbi
Mayor Mochammad Idjon Djanbi adalah komandan pertama satuan yang masih bernama Kesatuan Komando Teritorium III. Ia lahir di Boskoop, Hindia Belanda, pada 13 Mei 1914 dan meninggal di Yogyakarta pada 1 April 1977.

Bernama asli Rokus Bernardus Visser, mantan anggota Korps Special Troopen yang telah bertempur dalam Perang Dunia II ini aktif di TNI dengan pangkat Mayor. Idjon menjadi Komandan meski Kopassus beralih kedudukan langsung di bawah komando KSAD berganti nama menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD).

Di bawah komandonya, KKAD melakukan latihan dengan materi Pendaratan Laut (Latihan Selundup) pada 1954 di Pantai Cilacap Jawa Tengah. Pada 25 Juli 1955 KKAD berubah namanya menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), Idjon pun masih menjadi komandannya.

Pada 1956, RPKAD menyelenggarakan pelatihan penerjunan yang pertama kalinya di Bandung di bawah komando Idjon yang ingin prajurit RPKAD memiliki kemampuan sebagai peterjun. Alasannya, Indonesia merupakan negara kepulauan, prajuritnya mesti bisa digerakkan ke medan operasi dengan menggunakan pesawat terbang dan diterjunkan di sana. Lulusan pelatihan ini pun meraih kualifikasi sebagai peterjun militer dan berhak menyandang Wing Para.

2. Sarwo Edhie Wibowo
Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo adalah ayahanda dari  Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono, istri dari Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925 dan meninggal di Jakarta, 9 November 1989.

Sarwo Edhie berpangkat Letnan Kolonel, ketika pertama kali menjabat sebagai Komandan Sekolah Para Komando di RPKAD, pada 1962. Di bawah Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani, sahabat dekatnya yang pernah jadi perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) zaman pendudukan Jepang.

Dua tahun berkarier, pada 1964 Sarwo diangkat menjadi Komandan RPKAD, mengungguli perwira yang lebih senior di satuan elite tersebut, yaitu Letnan Kolonel Widjojo Soejono dan Mayor Benny Moerdani, peraih Bintang Sakti karena keberaniannya dalam Operasi Trikora.

Nama Sarwo Edhie harum ketika menjadi Komandan Pembantaian Pasca G30S. Pada 1 Oktober 1965, setelah Sarwo mendengar laporan soal keadaan sahabatnya Yani (Jenderal Ahmad Yani) yang mengenaskan ia melibatkan pasukan RPKAD dari Kandang Menjangan, Solo dalam pembersihan G30S/PKI.

Salah satu kompinya pasukan RPKAD dari Kandang Menjangan kala itu dipimpin Letnan Satu Feisal Tanjung dan di dalamnya ada peleton yang dikomandani Letnan Dua Sintong Pandjaitan. Hasilnya, peleton yang dikomando oleh Sintong berhasil merebut RRI.

Sarwo Edhie bersama pasukannya bergerak ke arah pangkalan udara Halim Perdanakusumah. Setelah melewati baku tembak dengan sekompi pasukan G30S dari 454/Banteng Raider, Sarwo akhirnya mencapai Halim untuk melapor pada Presiden Soekarno yang ternyata sudah bergerak ke Istana Bogor.

Semacam buku putih TNI AU atas peristiwa G30S berjudul Menyingkap Kabut Halim 1965 pun membeberkan peristiwa kala itu. "Sementara pertempuran sedang berlangsung dengan gencar, Kolonel Sarwo Edhie mengamati jalannya pertempuran dari atas panser Saracen."

Bukan hanya di Jakarta, Sarwo juga tercatat memimpin pergerakan pasukannya untuk membersihkan PKI hingga ke Jawa Tengah. Seperti dalam Laporan Direktur Intel AURI (seperti tertulis dalam dokumen rahasia Kedubes AS bernomor RG 84, Entry P 339, Jakarta Embassy Files, Box 14, Folder 4 pol 23-9 September 30th Mvt November 1-9, 1965), sekitar 23 Oktober 1965, Sarwo berada di Solo, salah satu basis PKI di Jawa Tengah.

Prabowo KopassusPanglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto berbincang dengan mantan Danjen Kopassus Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto (kiri) saat menghadiri peringatan HUT Ke-67 Kopassus di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019). (Foto : Antara/Sigid Kurniawan)

3. Prabowo Subianto
Calon presiden nomor urut dua (02) Prabowo Subianto Djojohadikusumo adalah salah satu elite Kopassus yang berprestasi. Lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951, Prabowo mendapat pengaruh militer dari figur pamannya Soebianto Djojohadikusumo yang gugur dalam Pertempuran Lengkong 1946.

Prabowo adalah taruna Akabri pada 1970, yang lulus pada 1974, setahun di bawah presiden ke-6 SBY, yang lulus pada 1973. Karier putra Tokoh Ekonom Sumitro ini terbilang mentereng sejak memulai nya di ABRI pada 1974.

Pada tahun awal, Prabowo masuk satuan elite baret merah, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ia dikirimkan ke Timor Leste dan menjalin pertemanan dengan Herkules Rosario Marshall. Dengan pangkat kapten, ia pun dikirim ke Jerman perwira lain seperti Mayor Luhut Binsar Pandjaitan, untuk belajar kontra-terorisme pada Polisi Elite Jerman Barat, Grenzschutzgrupppe 9 (GSG-9).

Sepulang dari Jerman, keduanya pun menjadi pendiri dan pemimpin unit Detasemen 81/Penanggulangan Teror yang dikenal sebagai Gultor 81. Prabowo pun dipercaya menjadi wakil komandan hingga tahun 1985.

Prabowo sempat tak berada di Kopassus, ketika Benny Moerdani menjadi Panglima ABRI pada 1983-1988 dan Menteri Pertahanan Keamanan (Menhankam) pada 1988-1993. Setelah jabatan Benny berakhir, Prabowo pun kembali ke Kopassus pada 1993, menjadi Komandan Grup 3 Kopassus di Cijantung hingga tahun 1994.

Akhirnya, pada Desember 1995 hingga Maret 1998, Prabowo menjadi Komandan Kopassus. Salah satu prestasi yang terkenal ketika ia berpangkat sebagai Komandan Kopassus adalah Pembebasan Tim Lorenzt yang disandera OPM pada 1996 di Mapenduma, Papua.

Berita terkait: