Toleransi Nol Covid-19 China Tidak Bisa Dipertahankan

Pihak berwenang di Shanghai memperketat pembatasan terhadap penduduknya yang berjumlah 26 juta orang
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto: Tagar/Ist)

TAGAR.id, Jenewa, Swiss – Menyusul pengumuman China bahwa pihaknya akan memperketat pembatasan di Shanghai untuk mencegah penyebaran Covid-19, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dedunia PBB (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, 10 Mei 2022, mengatakan, kebijakan toleransi nol dari China itu tidak bisa dipertahankan.

Berbicara pada briefing untuk media pada Selasa, 10 Mei 2022, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “Kami membahas isu ini dengan pakar China, dan saya berpendapat perubaan sangat penting.”

Pihak berwenang di Shanghai memperketat pembatasan terhadap penduduknya yang berjumlah 26 juta orang, meskipun sudah ada penurunan dalam infeksi Covid-19 yang baru.

warga shanghaiSeluruh warga Shanghai menjalani tes Covid-19 pada hari Senin, 4 April 2022 (Foto: dw.com/id)

Penduduk di beberapa tempat tinggal telah diberitahu secara tertulis bahwa mereka tidak boleh meninggalkan rumah atau menerima kiriman sebagai bagian dari “periode tenang” yang akan berlangsung paling sedikit selama tiga hari. Pembatasan baru ini mencengangkan penduduk, karena diberlakukan menyusul izin untuk bisa bergerak di daerah tempat tinggal mereka.

Juga ada kesaksian yang diposting di media sosial China tentang penduduk yang secara paksa dipindahkan dari rumah mereka dan ditempatkan di hotel atau fasilitas karantina kalau tetangga mereka teruji positif dan mengidap virus Covid 19, serta juga anekdot tentang kru pembersih mengenakan pakaian pelindung lengkap dan masuk ke apartemen-apartemen untuk melakukan pembersihan.

Seorang pejabat kota Shanghai memberi konfirmasi langkah ini dalam wawancara dengan Kantor Berita AP, yang mengatakan rumah-rumah komunitas lansia dengan kamar mandi dan dapur bersama akan diberi disinfektan.

Tindakan ini memicu dilayangkannya surat terbuka dan diposting di media sosial pada Minggu oleh Tong Zhiwei, seorang profesor ilmu hukum di East China University, Fakultas Ilmu Politik dan Hukum, dan Liu Dali, seorang pengacara perusahaan di Shanghai yang mempertanyakan keabsahan praktik seperti itu.

warga beijing berbaris untuk tes covidWarga berbaris untuk dites di sebelah anggota staf yang pakaiAPD di tempat pengujian asam nukleat seluler di luar pusat perbelanjaan, di tengah wabah Covid-19 di Beijing, China, 6 Mei 2022. (Foto: voaindonesia.com - REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)

Hampir semua penduduk Shanghai berada di bawah kendali ketat selama enam minggu terakhir selagi para pejabat di pusat finansial China itu berjuang untuk membendung perebakan kasus Covid-19. Pandemi ini disebabkan oleh varian omicron yang sangat menular. Lockdown ini telah berakibat pengaduan disertai kemarahan akibat tidak tersedianya bahan makanan segar dan obat-obatan di kota terbesar China itu.

Pejabat melaporkan ditemukan 3.000 kasus baru pada Senin, 9 Mei 2022, jauh dibawah 26 ribu kasus baru yang dicatat pada pertengahan April. (jm/ka)/voaindonesia.com. []

China Kecam “Tuduhan” AS Soal Perebakan Covid-19 di Shanghai

Kota Changchun di China Lockdown Karena Covid-19

China Bangun Tempat Tes Covid-19 Permanen Setelah Lockdown

Taiwan Sebut Lockdown Covid-19 di China “Kejam”

Berita terkait
China Bangun Tempat Tes Covid-19 Permanen Setelah Lockdown
China sedang menyiapkan ribuan tempat tes PCR Covid-19 permanen, dengan 9.000 di antaranya telah selesai di Shanghai saja