Tulungagung, (Tagar 1/4/2018) – Menyambut rangkaian kampanye pilkada pasangan calon petahana, lebih seribu warga sekitar Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), Minggu (1/4), mengikuti permainan tradisional "gogo iwak" di sawah yang ditaburi sekitar lima ton ikan budi daya.

Tradisi gogo iwak berlangsung seru saat warga serempak memasuki kolam sawah dan mulai berburu ikan dengan tangan tanpa bantuan alat apapun.

Panas-terik matahari tak dihiraukan. Suasana justru kian meriah lantaran kondisi sawah penuh air dan yang bertanah gembur membuat para peserta seperti mandi lumpur.

Begitu ada yang mendapat ikan, warga segera memeriksa ada/tidaknya tanda pita yang dipasang panitia.

"Hanya warga yang mendapat ikan dengan tanda pita merah atau hijau yang berhak mendapat hadiah uang tunai. Pita merah berarti mendapat hadiah uang Rp 50 ribu, sedangkan hijau mendapat Rp 100 ribu," tutur panitia penyelenggara permainan gogo iwak, Mujito.

Tak hanya warga yang saling berebut ikan di pematang sawah. Calon Bupati petahana Syahri Mulyo juga terjun langsung ke tengah sawah. Ia berbaur dengan warga dan ikut berburu menangkap ikan dengan kedua tangannya.

"Alhamdulillah ini tadi dapat dua ekor. Sudah dapat dua dan tidak mencari lagi. Ini kebetulan nomornya bertepatan dengan nomor urut (pencalonan)," kata Cabup Syahri Mulyo dikonfirmasi usai acara.

Ia tampak gembira melihat keramaian acara gogo iwak yang diikuti dan ditonton ribuan warga tersebut.

Menurutnya kemasan acara dalam rangkaian kampanye dengan model permainan tradisi semacam itu bagus sebagai upaya pelestarian budaya sosial.

“Tradisi gogo iwak sudah ada sejak lama,” kata Syahri.

Saat ia masih kecil, gogo iwak di sawah kerap dilakukan petani dan masyarakat sebagai upaya berburu aneka ikan, terutama belut, yang biasanya berkembang biak karena pasokan air yang stabil dan minimnya penggunaan pestisida.

Namun seiring pola tanam yang cenderung berubah tiap musim, serta penggunaan teknologi pupuk nonorganik yang kurang ramah lingkungan, habitat ikan-ikan sawah terus menyusut bahkan hilang.

"Sekarang sudah sangat jarang acara gogo iwak. Ini permainan yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, ketelatenan dan fokus yang tinggi. Filosofinya adalah perlu kesabaran dan kerja keras untuk mencapai hasil maksimal," kata Syahri.

Selain itu, lanjut dia, acara gogo iwak perlu sekali tempo digelar untuk menyegarkan kembali seni dan permainan tradisional agar fikiran tidak melulu mengurusi rutinitas pekerjaan maupun pengaruh budaya luar yang masuk.

"Kegiatan ini juga bisa menjadi ajang silaturahim dengan warga desa. Ini luar biasa karena ternyata respons masyarakat sangat tinggi," kata Syahri.

Ada beberapa jenis ikan yang dilepas oleh panitia dalam acara gogo iwak tersebut, yakni lele, belut, kutuk, dan cendil. Seluruh ikan yang dilepas merupakan hasil budidaya yang diangkut menggunakan beberapa tong lalu diceburkan ke dalam sawah yang telah disiapkan penuh air-lumpur setinggi betis orang dewasa. (ant/yps)