Jakarta, (Tagar 20/9/2018) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, "marketing" politik tak ubahnya dengan "marketing" produk yang harus mencakup diferensiasi, "branding", dan membangun kepercayaan.

"Iya mirip, mirip, bangun kepercayaan, simpati rakyat ya memang yang saya praktikan seperti itu," tutur Jokowi.

Hal itu disampaikan Jokowi saat membagi pengalamannya dalam berpolitik, termasuk menaikkan popularitas dalam pemilu kepada para calon anggota legislatif dari Partai Perindo.
"Dari pengalaman saya berjualan produk saya lihat-lihat jualan produk dan politik itu mirip-mirip. Harus ada diferensiasi, ada 'branding', 'marketing' produk, dan 'marketing' politik. Itu saya bawa," kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Presiden menegaskan, Indonesia akan menghadapi tahun politik, yakni pemilu anggota legislatif dan Pilpres 2019 secara berbarengan atau serentak sebagai pengalaman pertama dalam kehidupan berdemokrasi di Tanah Air.

"Strategi besar dan kejadian akan seperti apa baru kita tahu setelah nanti pencoblosan," kata Jokowi.

Dia memaparkan, Indonesia adalah negara besar dengan 17.000 pulau, 514 kabupaten dan kota, serta 34 provinsi yang harus disadari dan dijaga dengan baik.

Khusus untuk Partai Perindo, Jokowi yakin dari sisi "udara" atau iklan melalui televisi sudah sangat dikenal. "Saya lihat dari sisi serangan udara Partai Perindo saya kira sudah selesai. Saya kalau tengah malam di semua channel MNC itu semuanya Perindo sampai nyanyinya, saya, istri saya hafal semuanya. Artinya, sisi udaranya rampung," ujarnya.

Namun, Gubernur DKI Jakarta 2012-2014 itu mengingatkan, popularitas di televisi bukan berarti menyelesaikan seluruhnya.

"Memang yang sekarang ini baru ramai diperbincangkan, yakni 'micro targeting', 'micro campaigning', dan 'canvasing', itu yang saya lakukan 14 tahun yang lalu. Ini belum ada saya sudah melakukan. Jadi, saat itu, jadi 2004 ada pilkada, pemilihan wali kota, tanya di Solo, apa kenal tidak tahun itu yang namanya Jokowi enggak ada sama sekali," terangnya.

Jokowi pun membagi pengalaman memasarkan diri atau "marketing" politik dengan cara "marketing" produk sehingga sukses dikenal, disukai, kemudian dipilih oleh rakyat. "Inilah yang saya bawa, dari 'marketing' produk ke 'marketing' politik," ucapnya.

Sementara itu, upaya merebut hati rakyat tidak lepas dari upaya menarik dukungan dari rakyat.
Presiden menyebut dukung-mendukung dalam suatu kehidupan berdemokrasi merupakan sesuatu yang tidak dilarang, akan tetapi harus dilakukan dalam konteks yang sehat dan "fair".

"Perlu saya ingatkan sekali lagi dukung harus konteks sehat, 'fair', masyarakat bisa menguji ide, gagasan, program yang disampaikan atau yang telah dilaksanakan," kata pria kelahiran Surakarta pada 21 Juni 1961 ini.

Tidak Dilarang

Presiden menganggap hasil ijtima ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) yang mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno adalah sesuatu yang tidak dilarang di negara demokrasi.

Jokowi mempersilakan kelompok masyarakat manapun untuk mendukung pasangan calon pilihannya di Indonesia sebagai negara demokrasi. "Indonesia negara demokrasi, sering saya sampaikan ada satu kelompok pendukung Pak Prabowo, kelompok lain dukung saya dan Kiai Ma'ruf ini demokrasi silakan, enggak dilarang di negara demokrasi," ujarnya.

Jokowi meyakini, sampai saat ini tetap ada kelompok lain yang juga memberikan dukungan kepada Kiai Ma'ruf Amin sebagai ulama besar dan ketua MUI sebagai fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi.

Jokowi pun sekaligus mengingatkan dukung-mendukung harus dalam konteks yang sehat dan "fair". "Saya kira penting sekali sehatnya demokrasi di Tanah Air, ini kedewasaan berdemokrasi kita," ucap putra pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi itu.

Dia berpendapat bahwa pemilu merupakan kontestasi gagasan hasil kerja, prestasi, dan rekam jejak. "Jangan sampai kita dalam pilpres ini memakai SARA lagi, cara fitnah yang saya kira tidak mendewasakan, mematangkan demokrasi kita," kata alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Yenny Wahid dalam suatu acara di Pondok Pesantren Annuqayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pernah menyampaikan pandangannya atas sosok suami dari Iriana itu.

"Presiden kita ini pekerja keras yang luar biasa, walaupun badannya kurus tetapi staminanya sangat tinggi, melebihi orang yang cadangan lemaknya banyak seperti saya ini," kata putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid itu.

Yenny menyebutkan, Presiden Jokowi dari pagi sampai malam nonstop menghadiri acara demi acara, menyapa masyarakat dan meninjau langsung proyek-proyek yang berkaitan dengan kemaslahatan masyarakat.

"Beliau memerintahkan bawahannya agar terus melayani rakyat, beliau Presiden yang berasal dari rakyat dan bekerja untuk rakyat," kata Yenny yang juga Direktur Wahid Foundation itu. (Agus Salim/ant)