Semarang – Suasana di gedung pertemuan Balai RW IV, kompleks Lokalisasi Sunan Kuning, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Selasa 18 Juni 2019 sekitar pukul 10.00 WIB terlihat ramai.

Puluhan kendaraan terparkir di jalan depan gedung pertemuan, tak jauh dari gapura masuk lokalisasi yang telah berubah jadi Resosialisasi Argorejo itu.

Tampak salah seorang warga Argorejo mengenakan kaus hitam, di bagian dada bertuliskan 'Pray For Sunan Kuning' warna pink dan kuning.

Bersama puluhan warga lain, pria berperawakan sedang ini tengah mengikuti sosialisasi lanjutan rencana penutupan Sunan Kuning oleh Satpol PP Kota Semarang.

Berbeda dengan keriuhan di Balai RW IV, suasana perkampungan di Sunan Kuning malah menunjukkan kebalikannya.

Jalanan di Argorejo, gang I hingga VI terlihat tenang cenderung lengang. Ketenangan yang ada sesekali pecah oleh suara kendaraan bermotor yang melintas membawa warga ke luar maupun masuk perkampungan.

Tak jauh dari Balai RW IV, di pertigaan Jalan Argorejo, Gang III, seorang perempuan paruh baya tengah sibuk membersihkan etalase rokok di warung kelontongnya.

Sesekali dia tampak berbincang dengan suaminya yang duduk di lantai sembari mengepak gula di kemasan plastik ukuran 0,5 Kg.

"Mau beli apa, Mas?" sambut si ibu menyambut kedatangan Tagar yang hendak membeli rokok.

Basa-basi sebentar soal rokok dan barang-barang yang dijual di warung kelontongnya, pembicaraan mulai mengarah pada rencana penutupan Sunan Kuning.

"Sudah tahu rencana tersebut," ucap dia pelan. Berbicara penutupan aktivitas prostitusi di lingkungan tempatnya tinggal, wajah perempuan bernama Rusmati (51) ini berangsur muram.

"Entah lah, Mas. Kalau jadi tutup. Nasib usaha kecil seperti kami nanti lantas bagaimana?" ucapnya penuh khawatir.

Warga asli Argorejo ini mengaku sudah puluhan tahun membuka usaha kelontong. Sebelumnya, Rusmati bersama suami juga membuka warung makan satu lokasi dengan kelontongannya. Hasil dari berdagang ini menjadi sandaran hidup Rusmiati dan keluarga.

"Untuk warung makannya sudah tidak lagi, sekarang hanya warung kelontong saja," ujar dia.

Ia menyebut dalam sehari bisa mendapat omzet hingga Rp 800 ribu. "Itu angka paling sedikit. Sebab kalau pas libur akhir pekan sedikitnya bisa sampai Rp 1,5 juta dalam sehari. Di libur Lebaran kemarin saja dalam sehari bisa dapat Rp 2 juta," kata dia.

Selama berusaha, pelanggan warung kelontong Rusmati lebih banyak datang dari kalangan wanita pekerja seks (WPS).

"Paling ramai dini hari hingga jelang pagi karena karaoke sudah pada tutup. Mbak-mbaknya banyak datang untuk mencari rokok, alat kontrasepsi atau kebutuhan lain. Kalau karaokenya masih buka warung malah sepi Mas. Karena untuk jajan sampai rokok sudah disediakan karaoke," beber dia.

Karena itu, demi mendengar rencana penutupan Sunan Kuning tiga hari lalu, Rusmati mengaku kepikiran terus. Pasalnya nafas ekonomi keluarga didapat dari rupiah para WPS.

Operator Karaoke

Tak jauh dari warung kelontong Rusmati, masih di Argorejo Gang III, seorang pria duduk tengah duduk santai sembari merokok di depan sebuah karaoke.

Tagar sempat memberi salam dan bertanya tentang aktivitasnya di teras karaoke tersebut. "Saya operator karaoke di sini," jawab dia.

Tapi kalau ada yang jadiin aku ibu rumah tangga yang menerima apa aku apa adanya, aku bersedia

Mengenakan topi hitam, pria tersebut langsung memperlihatkan gestur tubuh gelisah ketika mulai diajak ngobrol soal penutupan Sunan Kuning.

Beberapa kali rokok ia isap dalam dan diembuskan perlahan. Mata terlihat menerawang dan asap rokok cukup tebal terhembus dari mulutnya.

"Berat, Mas. Mau kerja apalagi kalau karaoke yang ada di Sunan Kuning ikut ditutup," kata dia, setengah berbisik.

Pria tersebut berinisial FW mengaku berusia 35 tahun. Sempat menyebut nama aslinya namun enggan jika ditulis lengkap.

"Disamarkan atau kasih nama kode aja tidak apa-apa," ucap pria dengan tato kecil dekat ibu jari tangan kanan tersebut.

Mengaku dari Sragen, FW sudah menjadi operator karaoke sejak 12 tahun lalu. Selama itu pula ia menjadi tulang punggung keluarganya di kampung.

"Istri dan keluarga tahu saya bekerja sebagai operator di Sunan Kuning. Tapi tetangga kanan kiri tidak tahu. Makanya saya minta nama saya jangan ditulis lengkap," sambung dia.

Penghasilan yang didapatnya tergolong lumayan untuk ukuran pekerja bermodal ijazah SMA. Lebih dari cukup, bahkan jauh di angka upah minimum kota (UMK) Semarang 2019 senilai Rp 2,4 juta per bulan.

Selama belasan tahun, FW pun tak pernah pusing dengan urusan biaya hidup selama ngekos di Sunan Kuning maupun kebutuhan keluarga di Sragen.

"Semalam bekerja, minimal 10 jam, dapat Rp 15 ribu per jam. Ditambah dari mbak-mbak pemandu Rp 5 ribu per orang. Itu belum termasuk tips dari pengunjung. Total dalam semalam bisa dapat Rp 300 – 400 ribu," rinci ayah dua anak ini.

Tak heran kabar rencana penutupan Sunan Kuning membuatnya cukup syok. "Kalau Sunan Kuning ditutup otomatis akan berimbas ke usaha karaoke. Kemungkinan juga ditutup atau setidaknya tidak diperkenankan ada pemandu karaoke," ucap dia.

FW berharap Pemkot Semarang bisa memikirkan nasib pekerja seperti dirinya. "Ya, kalau bisa jangan ditutup. Kalau nutup prostitusi biasanya juga karaokenya. Tapi saya berharap, karaoke jangan ditutup dulu," harap dia.

Pemilik Salon dan Butik

Mami Erna, sebut saja namanya demikian. Ia adalah pelaku usaha salon di Argorejo Gang V. Wanita paruh baya yang juga punya bisnis butik di salonnya tersebut mengaku kaget saat mendengar kali pertama rencana penutupan Sunan Kuning.

"Terus terang kaget lah, Mas. Memang dulu sempat ada kabar itu tapi tak disangka akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Kabar-kabarnya akan ditutup Agustus," ucap perempuan asli Solo tersebut.

Ia mendengar kabar tersebut justru dari para warga dan teman-temannya. Meski penutupan tidak langsung menyasar dengan usaha yang dikelolanya namun Mami Erna tegas menolak rencana Pemkot Semarang.

Ini lantaran pelanggan salon dan butiknya adalah para WPS yang melakukan layanan esek-esek di sekitar lokasi usahanya.

"Yang nyalon ke sini banyak dari wanita-wanita penghibur di sini, juga pada beli dan sewa baju di butik. Sehari sedikitnya bisa dapat Rp 500 ribu," tutur dia.

Ia pun tak rela jika usaha yang telah dirintisnya sejak puluhan tahun itu harus gulung tikar gara-gara kepergian para WPS.

"Kalau ditutup WPS pergi, salon dan butik bisa sepi," ujar dia.

Tak hanya usaha yang dikelolanya, warga lain yang punya usaha otomatis akan ikut terkena dampak penutupan.

"Kan di sini juga ada pemberdayaan untuk entas dari dunianya. Perlahan-lahan saja lah, harapan kami semua tetap buka dulu," pinta perempuan berparas ayu ini.

Ia juga berharap, Pemkot Semarang tidak terburu memberi WPS pesangon Rp 5,5 juta. "Mau diapakan uang segitu karena mayoritas belum punya jiwa dan skill wirausaha. Lebih baik tetap bisa bekerja di sini dulu, untuk ngumpulin modal, sembari merintis usaha lainnya dan hidup lebih baik," saran dia.

Pekerja Seks

Salah seorang WPS, Eni (30) mengaku uang jaminan hidup Rp 5,5 juta hanya akan mubazir ketika para WPS hengkang dari Sunan Kuning.

"Dengar-dengar cuma dikasih uang saku Rp 5 juta, tidak cukup. Rp 5 juta bisa buat apa? Sehari buat makan Rp 100 ribu sudah mentok, Rp 5 juta itu kurang, kan ada utang juga. Semua yang di sini pasti punya utang," beber dia usai sosialisasi di Balai RW IV.

Baginya, yang dibutuhkan para pekerja seks saat ini adalah ragam pelatihan usaha, pembentukan jiwa wirausaha dan pendampingan modal. Termasuk adanya bantuan kios atau warung untuk rintisan usaha.

"Kasih kios buat usaha sementara. Kalau dia sudah punya modal bisa jalan sendiri," sambung dia.

WPS asal Wonogiri alumni Lokalisasi Gambilangu (GBL) ini minta agar penutupan Sunan Kuning tidak dilakukan dalam waktu dekat di tahun ini.

"Dulu katanya mau ditutup dengan cara pengentasan, tapi gak ada sampai sekarang malah keputusannya mau ditutup langsung," ucap dia.

Pelatihan wirausaha sebenarnya sudah diadakan pemerintah. Sejak dua tahun lalu saat pertama kali membuka pelayanan syahwat di Sunan Kuning, pelatihan ketrampilan itu sudah digelar.

"Setiap pekan tapi bergilir. Satu minggu beberapa orang sampai semua dapat pelatihan," ujar dia.

Namun begitu ia merasa pelatihan itu belum cukup bisa mendorong para WPS untuk alih profesi.

"Kalau dikasih modal dan kios saya siap secara pribadi. Cita-cita aku pengin jual penyetan. Kasihan yang lanjut usia, tidak ada ijazah semua di sini. Tentu tidak mau seumur hidup jadi kayak gini. Tapi kalau ada yang jadiin aku ibu rumah tangga yang menerima apa aku apa adanya, aku bersedia," pungkas dia tersenyum.[]

Berita sebelumnya: