Untuk Indonesia
Sosiolog: Panas Pascapemilu Belum Akan Berakhir
Thamrin Amal Thomagola memperkirakan situasi panas pascapemilu saat ini belum akan berakhir
Sosiolog Universitas Indonesia, Thamrin Amal Thomagola (kanan) (Foto: Antara/Riza Harahap)

Jakarta - Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Thomagola memperkirakan situasi panas pascapemilu saat ini belum akan berakhir, meskipun KPU telah mengumumkan hasil perolehan suara resmi pemilu 2019, pada 22 Mei mendatang.

"Setelah pemungutan suara pemilu pada 17 April lalu, dan setelah pengumuman hasil suara pemilu secara resmi oleh KPU, masih sulit terjadi rekonsiliasi," kata Thamrin Amal Thomagola, pada diskusi di Media Center Cemara, Menteng, Jakarta, Rabu 15 Mei 2019.

Menurut Thamrin, situasinya masih panas dan masih akan muncul gejolak-gejolak dari kelompok pendukung pasangan capres-cawapres nomor 02 yang merasa kurang puas, terutama di media sosial. "Namun, gejolak-gejolak tersebut secara perlahan-lahan akan mereda, sampai pada pelantikan presiden dan wakil presiden pada Oktober mendatang," katanya.

Baca juga: Jokowi Minta Prabowo Ikuti Aturan yang Ada

Thamrin memperkirakan, rekonsiliasi baru dapat dibangun lagi setelah pelantikan presiden dan wakil presiden dan setelah berjalannya pemerintahan periode berikutnya.

Lalu bagaimana menjaga situasi masyarakat tetap kondusif hingga waktu pelantikan presiden dan wakil presiden? Menurut Thamrin, pascapemilu gerakan keagamaan, berangsur-angsur akan menurun, tapi hanya fanatisme dukungan terhadap pemimpin politik yang masih ada. "Kalaupun ada aksi-aksi demo, tidak akan besar," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Thamrin juga menyarankan kalau ada bernada provokasi di media sosial, sebaiknya tidak ditanggapi sehingga tidak menjadi polemik dan suasana panas tidak terus berlangsung lama.

Doktor sosiologi alumni universitas di Inggris Raya ini menegaskan, ketegangan yang terjadi saat ini bukanlah konflik masyarakat, tapi konflik antar-elite politik, yang menyeret tokoh masyarakat dan kemudian mempengaruhi sebagian masyarakat.

Baca juga: AHY: Kapan Perselisihan Karena Beda Pilihan Berakhir?

"Masyarakat Indonesia Indonesia sesungguhnya, hidup tenang, damai, dan rukun. Namun, sebagian masyarakat terpengaruh oleh konflik elite politik," katanya.

Sementara itu, Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang mengajak semua pihak mengakhiri kegaduhan politik dan menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentun rekonsiliasi pasca-Pemilu 2019.

"Sudah saatnya kita akhiri kegaduhan politik demi bangsa dan negara," kata Oesman dalam acara buka puasa bersama Presiden Jokowi, di kediamannya, Jakarta, Rabu petang.

Oesman sempat menyinggung sikap Ketua MPR RI Zulkifli Hasan yang secara politik berseberangan dengan Joko Widodo di Pemilu Presiden (Pilpres) 2019, namun tetap harmonis.

Baca juga: Prabowo Kalah, BPN Pilih Berdoa Bukan Gugat MK

Dia juga memuji sikap Jokowi yang tetap mau berhubungan baik dengan pihak-pihak yang berseberangan dalam pandangan politiknya.

"Kalau kemarin Ketua MPR bilang, meski tidak mendukung 01 tapi tetap damai dan bisa duduk dengan Presiden. Saya tegaskan justru saya bangga pada Pak Presiden, tetap mau datang dan merangkul ke lawannya di Pilpres," ujarnya. []


Berita terkait
0
Program Gojek yang Hanya Diterapkan di Yogyakarta
Gojek menghadirkan sebuah program yang hanya diterapkan di Yogyakarta yang akan memanjakan para siswa.