Jakarta - Manajer pecatan Manchester United, Jose Mourinho dan Louis van Gaal secara bergantian mengritik Ole Gunnar Solskjaer yang saat ini menangani The Red Devils. Kegagalan MU di Liga Champions dan posisi mereka yang masih di luar empat besar Liga Premier Inggris membuat kritikan keduanya terhadap Solskjaer kian keras. 

Mourinho, manajer yang dipecat di tengah kompetisi yang kemudian digantikan Solskjaer mengecam strategi suksesornya saat menghadapi Barcelona di perempat final Liga Champions. Menurut dia eks striker MU ini seharusnya mematikan Lionel Messi. Bila perlu mengurungnya sehingga tidak memberi kesempatan kepada kapten Barca. Terbukti, Messi dibiarkan saja dan mencetak dua gol yang mengantarkan Barca menang 3-0.

Lain lagi dengan Van Gaal yang pernah menangani MU pada 2014 sampai 2016. Dirinya mengritik habis strategi bertahan yang diterapkan Solskjaer. 

MU justru memainkan anti-sepakbola. Jangan berpikir bila Ole tidak takut memarkir bus. Dia justru bermain lebih defensif dari yang Anda pikirkan

Eks pelatih Barca ini menyebut Solskjaer telah mengubah filosofi bermain menyerang MU. Sejak ditangani dia, tim yang sudah memenangi 20 trofi liga sekaligus mencatat rekor paling banyak memenanginya ini telah berubah karena lebih memainkan sepak bola negatif.

"Saya sudah mengamati bagaimana dampak dari Ole sejak pertama kali menangani United. Saat itu, MU berada di peringkat sembilan. Dan saya melihat tak ada perubahan pada tim," kata Van Gaal. 

"MU justru memainkan anti-sepakbola. Jangan berpikir bila Ole tidak takut memarkir bus. Dia justru bermain lebih defensif dari yang Anda pikirkan," ujarnya lagi. 

Van Gaal mengaku masih mengamati perkembangan MU. Menurut dia, strategi memarkir bus diterapkan Solskjaer saat MU melakoni laga-laga penting. 

"Dia sudah melakukannya saat melawan Arsenal. Dia juga menerapkan strategi yang sama saat menghadapi Tottenham Hotspur di Liga Premier. Sama halnya saat melawan Paris Saint Germain dan Barcelona di Liga Champions," ujarnya.

"Dia melakukannya saat menghadapi tim-tim besar. Dasar permainannya adalah lebih banyak bertahan ketimbang menyerang. Dia tak ingin memainkan sepak bola yang mendominasi permainan. Saya menyebutnya memarkir busa. Bahkan dia berani melakukannya dengan memarkir bus tepat di depan kiper David de Gea," tandas Van Gaal. 

Meski MU memainkan skema 4-4-2, namun mereka hanya mengandalkan serangan balik. Dan, strategi itu diterapkan dengan mengandalkan Romelu Lukaku dan Marcos Rashford yang memiliki kecepatan. 

"Tim berjudi dengan menerapkan serangan balik dengan bertumpu kepada Lukaku dan Rashford. Kebetulan keduanya punya kecepatan. Bahkan kecepatan Rashford memang luar biasa. Dia sulit dihentikan. Tetapi bila MU ingin kembali mendominasi Liga Premier dan meraih sukses di Eropa, mereka harus mengubah gaya bermainnya," tukas pelatih asal Belanda yang dipecat selama dua musim menangani MU. 

Van Gaal sendiri hanya memberi satu trofi, Piala FA, selama menangani MU. Buntutnya dia dipecat pada 2016. Posisinya kemudian digantikan Mourinho. Pencapaian MU memang sedikit lebih baik bersama Mourinho. Tim diantarnya meraih Piala Liga 2017, Community Shield 2016 dan Liga Europa 2017. Meski demikian, manajer asal Portugal ini akhirnya dipecat karena MU tak kunjung meraih trofi Liga Premier. Posisinya pun digantikan Solskjaer. 

Manajer asal Norwegia ini semula berstatus sementara saja di MU. Namun setelah pencapaian MU membaik, dia mendapat kontrak permanen berdurasi tiga tahun. Hanya setelah dikontrak, performa MU justru melorot dan kini kembali terlempar dari zona Liga Champions. []

Baca juga: 

Everton vs Man United, Susunan Pemain dan Prediksi

Ini Dia Pemain Pertama yang Siap Dijual Man United

Kalahkan Manchester United, Barcelona ke Semifinal

Barcelona vs Man United, Gol Pertama Jadi Penentu