Pandan, (Tagar 14/10/2018) - Siswa SMA Negeri 1 Matauli Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, kembali menorehkan prestasi tingkat internasional sepanjang tahun 2018 ini.

Beberapa prestasi bertaraf internasional itu antara lain,  World Young Inventors Exhebition (WYIE) di Malaysia Maret 2018. SMAN 1 Pandan diwakili Ikrar Teguh Pratomo kelas XI-IPA III dengan raihan perunggu dengan penemuan teh dari kulit buah Naga.

Diajang yang sama, Fadhil Rhamadan Shauti kelas XI IPA IX juga meraih perak dengan penemuan Indohisger (instant drink of hibiscus leaves plus gingger), yakni minuman instan berbentuk bubuk, daun bunga kembang sepatu campur jahe.

“Manfaatnya bagi penderita diabetes, kami berangkat 13 tim, dan berhasil memperoleh 1 emas, 9 perak, dan 3 perunggu,” kata Fadhil.

Kemudian di International Young Inventors Award (IYIA) di Bali September 2018, dengan anggota tim diantaranya Nurul Bintang Andini dan Dwi Putri Geometry Panjaitan kelas XI IPA III, yang meraih Medali Perunggu.

Selanjutnya di Korea International Women’s Invention Exposition (KIWIE) di Korea Selatan pada Juli 2018 lalu.

Dilomba ini Matauli mengirimkan tim yakni, Tesalonika R M Panggabean, kelas 11 IPA 8. Tesalonika berhasil meraih Perunggu berkat temuannya yang ia namai Bruzyfera Powder (Bruzea Javanica, Syzynium Polyantum, Cocos Nucifera L Powder).

Tesalonika mengatakan, produk ini mampu menyebuhkan diabetes karena mengurangi kadar gula darah. Bahan dasar ia ambil dari buah Makasar yang terdapat di Kisaran, Sumatera Utara.

“Bentuknya kayak kopi. Campuran lain yakni daun salam dan akar kelapa 15 centimeter dari permukaan tanah. Dicuci, dijemur dan diblender, dibuat seperti bubuk teh, siap untuk disajikan,” ungkapnya.

Dalam lomba WIKO ini, ada 2 kategori lagi yang dimenangkan. Masing-masing Mutiah Holil Nasution, kelas 11 IPA 7. Mutiah meraih medali Emas di bidang pengembangan bioteknologi kesehatan dan kecantikan, yakni cream atau salad dari kulit pisang.

“Untuk kulit luar, gatal-gatal, membuat mulus, wajah kian cerah, jerawat. Nama produk, Banana skin oint ment,” ucapnya.

Kemudian ada Syahriani, kelas 11 IPA 9. Pelajar berhijab ini juga memenangi medali emas, dengan produk yang ia sebut dengan Norcea (Non caffeine coffee from dried noni). Bahan produk ini dari buah mengkudu yang diolah menjadi minuman sejenis kopi.

“Jadi kalau pengen kopi tanpa caffeine bisa minum Norcea, jadi tidak mengganggu aktifitas tidur. Walau aroma mengkudu busuk setelah jadi kopi jadi wangi,” ujarnya.

Dan terakhir, di Japan Design & Invention Expo (JDIE) Agustus 2018, dimana Oky Lexa Ginsina, Kelas XI IPA 3 menjadi tim wakil dari Matauli. Oky menamai produknya SeWeCo Fert (Sea water, Sea weed, Coconut water Fertilizer).

“Saya mendapat medali Silver,” ucap Oky.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Matauli Pandan, Murdianto mengatakan prestasi anak didiknya tersebut berkat kegigihan dalam berinovasi dan bimbingan para guru.

Murdianto mengatakan, prestasi para pelajar Matauli tidak kali ini saja. Di setiap tahun dalam berbagai even lomba, anak-anak didiknya juga menorehkan jejak sejarah yang membanggakan.

“Kebanggaan ini tentu tidak saja bagi sekolah, tapi bagi Kabupaten Tapteng, Sumut dan Indonesia di mata internasional, bahwa kita memiliki segudang aset generasi masa depan yang berprestasi,” ungkapnya. []