Jakarta, (Tagar 12/2/2019) - Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengaku prihatin terhadap kasus siswa menyerang guru yang terjadi di SMP PGRI Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (2/2) pekan lalu.

Menurutnya, peristiwa sekolah "berdarah" itu mencerminkan sifat ketidaksantunan siswa berinisal AA terhadap tenaga pengajar, bahkan bersikap agresif setelah ditegur oleh gurunya, Nur Kharim.

"Tidak semestinya seorang siswa bersikap demikian pada gurunya, apalagi sang guru tampaknya hanya menegur, bukan berteriak membentak apalagi memukul," ujarnya.

Retno melanjutkan, sebagai tenaga pendidik pasti ada alasannya bila guru harus menegur murid, salah satunya dalam rangka mendisiplinkan siswa di kelas.

Retno mengatakan ada dua sebab utama mengapa siswa menjadi 'liar' dan pribadinya tak terkendali. Pertama, karena faktor karakter siswa yang kurang terbina dengan baik di rumah maupun sekolah.

Kedua, karena siswa kadung terpapar efek negatif dari game online yang mengandung unsur kekerasan, sehingga anak jadi tidak bisa membedakan antara perilaku di dunia maya dengan di dunia nyata. Akhirnya siswa membuat peristiwa sekolah "berdarah" muncul.

"Biasanya sikap anak seperti itu, ada pengaruh kuat dari pola asuh di rumah. Bisa juga karena siswa sudah kecanduan game online yang mengandung unsur kekerasan. Terkait faktor pertama, tentu saja dibutuhkan assessment psikologis terhadap murid berinisial AA untuk mencari faktor penyebab mengapa dia berperilaku agresif seperti dalam video yang viral kemarin," ujar Retno dalam keterangan tertulis yang diterima Tagar News, Senin (11/2).

Murid Cekik GuruSeorang murid SMP ini berseragam Pramuka, tidak terima ditegur agar jangan merokok di dalam kelas. Ia refleks mencekik gurunya. (Foto: Screenshot video viral)

Retno pun tak menutup mata, dan menyebut bahwa peristiwa ini bisa saja disebabkan oleh pola didik yang salah dari guru. Ia menguraikan, seperti rendahnya kompetensi pedagogis guru terutama dalam penguasaan di kelas dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan untuk menantang kreativitas dan minat siswa dalam belajar.

"Faktor kedua, bisa saja berasal dari gurunya. Manajemen penguasaan kelas diantaranya adalah bagaimana guru dapat mengatasi kelasnya dengan karakter siswa yang bermacam-macam. Kemampuan manajemen penguasaan kelas perlu dilatih dan hal ini merupakan tanggung jawab Dinas Pendidikan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)," urainya.

Dalam perkembangan peristiwa ini, KPAI juga mengapresiasi langkah tanggap Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik yang segera melakukan pendalaman kasus dengan memanggil pihak-pihak terkait, terutama pihak sekolah dan para orangtua siswa.

"KPAI berharap ada evaluasi dan pembenahan ke depannya, tidak fokus menghukum pihak yang dianggap salah, namun mengedepankan pembinaan, baik terhadap siswa maupun sekolahnya. Anak tentunya wajib belajar dari kesalahannya, namun anak juga harus diberi kesempatan memperbaiki diri," tegasnya.

Lebih lanjut, kata Retno, bila diperlukan maka KPAI akan melakukan pengawasan langsung ke Gresik. Namun, sebelumnya, KPAI akan terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik terkait tindak lanjut kasus ini.

"KPAI juga akan berkoordinasi segera dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) serta P2TP2A kabupaten Gresik untuk pendampingan dan rehabilitasi psikologis terhadap guru maupun siswa. Rehabilitasi terhadap siswa penting dilakukan agar siswa dapat belajar dari kesalahan, dan mau memperbaiki diri," pungkasnya.

Baca juga: Gaji Guru yang Ditantang Berkelahi Siswanya Rp 450 Ribu per Bulan