Jakarta, (Tagar 1/3/2018) - Bertujuan mengantisipasi penyebaran konten hoaks yang dikhawatirkan mempertajam polarisasi masyarakat di Singapura, Parlemen Singapura membentuk komite terpilih guna mempelajari penyebaran hoaks, seluk-beluknya dan cara mengatasinya.

Komite terpilih Singapura merangkul beberapa sumber guna mempelajari penyebaran hoaks tersebut, di antaranya Indonesia.

Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) melalui Kedutaan Besar Singapura untuk Indonesia diminta memberikan tulisan yang menjelaskan faktor penyebab hoaks mudah tersebar, baik karena rendahnya literasi masyarakat maupun polarisasi yang menyebabkan kecurigaan dan kebencian.

"Kami juga menjelaskan motivasi pelaku menyebar hoaks, yang di antaranya karena motivasi ekonomi maupun politik, ideologi, atau kombinasi keduanya," jelas Ketua Mafindo, Septiaji Eko Nugroho melalui keterangan tertulisnya, Kamis (1/3).

Septiaji menduga di Indonesia penyebar hoaks umumnya masyarakat lokal, berbeda dengan Amerika Serikat (AS) yang penyebar hoaksnya termasuk orang Eropa Timur.

"Bisa jadi karena bahasa kita bahasa Indonesia adalah bahasa yang unik, dan tidak semua orang bisa membuat konten bahasa Indonesia dengan baik, dan tentu saja konteks keIndonesiaan yang umumnya beredar di media ataupun media sosial dalam bahasa Indonesia," terangnya.

Lebih lanjut, Septiaji mengaku Mafindo telah menjelaskan upaya Indonesia melawan hoaks, termasuk upaya pemerintah khususnya Kementerian Komunikasi dan Informasi serta Kepolisian RI.

"Dan kami menceritakan kiprah masyarakat yang ikut langsung melakukan perlawanan terhadap hoax dengan melakukan upaya factchecking, edukasi literasi, dan mendorong gerakan silaturahmi, termasuk sinergi berbagai komunitas literasi digital dalam gerakan Siberkreasi," tutur Septiaji.

Septiaji dan Mafindo berharap segera terbangun jejaring cek fakta antar negara sehingga upaya memberantas hoaks bisa sinergis, terlebih karena banyak hoaks yang menular dari satu negara ke negara lainnya.

"Kami mengucapkan terima kasih atas kerja keras semua pihak, khususnya relawan yang tidak kenal lelah bergerak untuk membersihkan media sosial dari konten negatif," tutupnya. (ard)