Oleh: Denny Siregar*

Peristiwa pembakaran bendera HTI adalah peristiwa yang sudah dirancang matang.

Sasarannya adalah bentrokan meluas antara Banser NU dan kelompok garis keras, yang tujuannya menggagalkan Pilpres 2019.

Peringatan Hari Santri dijadikan pintu masuk dimana disusupkan beberapa orang dengan bendera HTI di Jawa Barat. Tujuannya memprovokasi. Dan Banser NU di Garut terpancing untuk membakar bendera HTI itu.

Sontak sesudah terjadi pembakaran bendera yang diviralkan di media sosial, terjadi demo di beberapa tempat dengan membawa bendera-bendera HTI. Mereka sudah menyiapkan "alat perang"nya jauh hari sebelumnya. Mereka juga berdemo di depan kantor GP Ansor dan Banser untuk semakin memanaskan suasana.

Dapat kabar bahwa apel akbar yang juga puncak Kirab Satu Negeri yang rencana Jumat diadakan di Jogjakarta dibatalkan Banser sendiri. Mereka menghindari kerusuhan, karena anggota mereka yang hadir di Jogja mencapai 100 ribu orang.

Jika diprovokasi oleh tekanan massa berjumlah 100 orang saja, bisa pecah perang yang akan dibesarkan skalanya sampai ke seluruh negeri. Ada agenda aksi balasan yang sudah disusun di beberapa tempat. Untungnya GP Ansor dan Banser bisa menahan diri mereka.

Belum selesai, sesudah Banser membatalkan acaranya di Jogja, ada gerakan untuk memfitnah mereka dengan membakar bendera HTI di beberapa tempat. Tujuannya jelas, aksi bakar bendera HTI itu akan dianggap sebagai aksi balas dendam oleh Banser dan akan dibalas aksi balas dendam lainnya.

Menuju Pilpres 2019 ini kita akan melihat pelintiran-pelintiran opini dari para "spin doctor" yang sudah lama memetakan akar konflik di negeri ini. Mereka tahu simpul-simpul mana yang akan dimainkan dan diharapkan akan menjadi ledakan.

Ketika terjadi kerusuhan, maka agenda tudingan bahwa negeri ini tidak aman ketika dipimpin oleh Jokowi akan dibesarkan. Isu bahwa Jokowi dan koalisi partai pendukungnya adalah PKI akan dikobarkan. Isu ini akan mereka tajamkan bahwa mereka sedang jihad melawan PKI.

Bisa dibilang agenda provokasi Banser ini sudah memasuki tahap kedua, sesudah isu PKI sebelumnya mereka dengungkan di masjid, di majelis dan di semua tempat berkumpulnya muslim awam.

Siapa di balik semua ini?

Sepertinya ini adalah agenda HTI, yang dimanfaatkan para pengusaha hitam dan koalisi lawan Jokowi. Jika diteliti, pada saat demo menentang Banser NU, simbol-simbol pasangan pilpres muncul di lapangan. Dan ini bukan hal yang aneh, karena selama ini mereka dekat dan menjadi pembela HTI saat dibubarkan.

Menuju 2019, situasi akan semakin panas. Tapi yang patut diapresiasi di sini adalah kinerja polisi yang sangat cepat dan terorganisasi baik. Polisi tidak terpancing pembangunan opini yang dibangun bahwa yang dibakar adalah "bendera tauhid".

Dalam setiap statemennya polisi selalu menyebut bahwa itu "bendera HTI". Ini penting supaya negara tidak kalah dalam tekanan kelompok yang sudah dibubarkan tahun lalu ini.

Siapkan secangkir kopi, Indonesia sedang berada pada persimpangan, apakah kita akan mundur sekian tahun lagi atau melompat maju sebagai bangsa yang besar sesudah melewati guncangan-guncangan ini.

Seruput....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi