Seruan Negara G-7 Bersatu Hadapi Tantangan Iklim dan China

AS berencana dorong negara-negara G-7 untuk secara terbuka tuding China praktik kerja paksa terhadap kelompok minoritas
Presiden AS, Joe Biden, bersama Ratu Elizabeth II, PM Inggris, Boris Johnson, dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam pertemuan pemimpin negara-negara G-7 di Inggris (Foto: dw.com/id)

Jakarta - Mulai dari persaingan melawan China, isu kerja paksa, hingga ke strategi mencegah terjadinya 'kecolongan' dalam menghadapi pandemi. Semua dibahas dalam KTT G-7 akhir pekan ini.

Amerika Serikat (AS) berencana mendorong negara-negara sekutunya yang tergabung dalam kelompok G-7 untuk secara terbuka menuding China atas praktik kerja paksa terhadap kelompok minoritasnya. Selain itu, mereka juga akan mengungkapkan rencana proyek infrastruktur yang dimaksudkan untuk bisa menyaingi proyek Jalur Sutra Baru atau Belt and Road Initiative (BRI) oleh China.

Usulan provokatif itu adalah bagian dari kampanye Presiden AS, Joe Biden, untuk membuat sesama pemimpin negara-negara G-7 lebih bersatu dalam persaingan ekonomi melawan China di abad mendatang, demikian menurut dua pejabat senior pemerintah AS yang memberi pengarahan kepada wartawan tanpa mau disebutkan namanya.

kelompok hakKelompok hak asasi melaporkan bahwa China telah menangkap lebih dari satu juta warga Uighur, Kazakh, dan kelompok muslim minoritas lainnya di Xinjiang, China (Foto: dw.com/id)

Pejabat tersebut mengatakan bahwa Biden ingin para pemimpin G-7 berbicara dengan suara terpadu dalam menentang praktik kerja paksa yang menargetkan muslim Uighur dan etnis minoritas lainnya. Biden berharap kecaman itu akan menjadi bagian dari komunike bersama yang dirilis pada akhir KTT.

Pertemuan pemimpin negara G-7 yang terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, AS dan Inggris dimulai pada Jumat, 11 Juni 2021, di Carbis Bay, Inggris, dan merupakan pertemuan pertama mereka sejak 2019. Pertemuan tahun lalu dibatalkan karena COVID-19, pemulihan ekonomi dan kehidupan publik setelah pandemi mendominasi diskusi tahun ini.

1. Bersatu Lawan Proyek Infrastruktur China

Para pemimpin G-7 pada hari Sabtu, 12 Juni 2021, juga berencana mengumumkan sebuah proyek infrastruktur global baru sebagai tanggapan atas proyek infrastruktur raksasa Jalur Sutra Baru dari China, demikian ujar pejabat senior tersebut.

pelabuhan sri lankaPelabuhan Internasional Hambantota, Sri Lanka, adalah salah satu proyek infrastruktur terbesar yang dibiayai China (Foto: dw.com/id)

Pejabat yang menolak namanya disebutkan itu juga mengatakan AS akan mendorong para pemimpin G7 lainnya untuk melakukan "tindakan nyata terhadap kerja paksa" di China, dan menyatakan kritik terhadap Beijing dalam diskusi mereka.

"Ini bukan hanya tentang mengkonfrontasi China," kata pejabat itu. "Tapi sampai sekarang kita belum menawarkan alternatif positif yang mencerminkan nilai-nilai kita, standar kita dan cara kita melakukan bisnis."

Inisiatif Jalur Sutra Baru ini adalah skema infrastruktur bernilai multitriliun dolar yang diluncurkan pada tahun 2013 oleh Presiden Xi Jinping yang melibatkan inisiatif pembangunan dan investasi yang akan membentang dari Asia ke Eropa dan sekitarnya. Lebih dari 100 negara telah menandatangani perjanjian dengan China untuk bekerja sama dalam proyek-proyek BRI seperti kereta api, pelabuhan, jalan raya, dan infrastruktur lainnya.

Menurut database Refinitiv, hingga pertengahan tahun lalu terdapat lebih dari 2.600 proyek dengan biaya 3,7 triliun dolar AS terkait dengan inisiatif tersebut, meskipun Kementerian Luar Negeri China baru-baru ini mengatakan bahwa sekitar 20% proyek telah terkena dampak serius dari pandemi Covid-19.

Pada bulan Maret, Biden mengatakan dia telah menyarankan kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang menjadi tuan rumah KTT para pemimpin G-7 selama tiga hari di sebelah barat daya Inggris, bahwa negara-negara demokratis harus mengembangkan skema tersendiri yang mampu bersaing dengan skema dari China.

2. Deklarasi Bersama Cegah Pendemi Berikutnya

Selain itu, para pemimpin G-7 juga akan menyetujui deklarasi bersama yang bertujuan mencegah terjadinya pandemi di masa depan. Mereka akan bergabung dengan para pemimpin dari Australia, Afrika Selatan, Korea Selatan, bersama dengan India yang bergabung secara online untuk membicarakan agenda terkait masalah kebijakan luar negeri dan perubahan iklim.

laboratorium penelitian virus di Kota WuhanChina menepis adanya keterkaitan antara Covid-19 dan laboratorium penelitian virus di Kota Wuhan (Foto: bbc.com/indonesia – Reuters)

G7 juga diharapkan untuk menyelesaikan "Deklarasi Teluk Carbis" yang terdiri dari serangkaian komitmen untuk mencegah terulangnya kekacauan yang ditimbulkan oleh wabah virus corona.

"Untuk pertama kalinya hari ini negara-negara demokrasi terkemuka di dunia bersatu guna memastikan bahwa kita tidak akan pernah lagi kecolongan," ujar Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam sambutannya yang dirilis menjelang hari kedua KTT.

"Itu berarti belajar (dari) pelajaran selam 18 bulan terakhir dan menanganinya dengan cara yang berbeda di lain waktu," kata Johnson.

KTT G-7 akhir pekan ini juga akan berdiskusi tentang masalah perubahan iklim, dan menjaga keanekaragaman hayati global, untuk meletakkan dasar bagi KTT lingkungan COP26 penting PBB di Skotlandia pada bulan November mendatang. Para pemimpin memperdebatkan komitmen untuk melindungi setidaknya 30% daratan dan lautan dunia pada tahun 2030 [ae/yp (Reuters, AP, AFP)]/dw.com/id. []

Berita terkait
China Kendalikan Populasi Etnis Minoritas Uighur di Xinjiang
China kendalikan etnis minoritas Uighuer di Xinjiang dapat sorotan - populasi etnis Uighur bisa berkurang lewat kebijakan pengendalian kelahiran
Sidang Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Uighur Pengacara London
Pengacara London gelar Tribunal Uighur untuk menyelidiki tuduhan kejahatan kemanusiaan terhadap warga minoritas di Xinjiang
AS Genjot Pembangunan Infrastruktur Untuk Kalahkan China
Presiden Biden umumkan rencana infrastruktur senilai 2 triliun dolar AS memosisikan Amerika agar bisa mengalahkan China
0
Seruan Negara G-7 Bersatu Hadapi Tantangan Iklim dan China
AS berencana dorong negara-negara G-7 untuk secara terbuka tuding China praktik kerja paksa terhadap kelompok minoritas