Jakarta, (Tagar 17/7/2018) - Muhammadiyah sebagai organisasi massa Islam terbesar kedua di Indonesia, yang pertama adalah Nahdlatul Ulama (NU), tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam bursa capres-cawapres 2019 terdengar hanya sayup-sayup saja, dengan prosentase yang juga kecil.

Din Syamsuddin satu di antaranya. Namanya muncul dalam hasil survei terbaru lembaga survei kelompok diskusi dan kajian opini publik Indonesia (KedaiKOPI). Din masuk dalam bursa cawapres dari kalangan santri. Elektabilitasnya 6,1 persen di bawah TGB Zainul Majdi (34,1 persen), Romahurmuziy (27 persen), Muhaimin Iskandar (22,9 persen), Mohammad Mahfud MD (7 persen), dan di atas Said Aqil Siroj (2,9 persen).

Din Syamsuddin dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah. Ia Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015. Pada 23 Oktober 2017 Presiden Joko Widodo mengangkatnya sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama AntarAgama dan Peradaban. 

"Tentu sangat manusiawi kalau saya merasa tersanjung. Siapa sih yang nggak mau mendapat amanat yang mulia, terhormat seperti itu," ucap Din menanggapi namanya masuk bursa cawapres 2019.

Ia menyatakan kesanggupan diberikan kepercayaan sebesar itu.

"Alhamdulillah, Insya Allah sanggup. Pengalaman memimpin ormas besar termasuk juga lembaga atau organisasi tingkat internasional sebagai presiden tokoh agama Asia dan juga dunia dan berbagai lainnya," tutur Din.

Namun, katanya, ia tidak terlalu berambisi menyikapi namanya masuk bursa cawapres.

"Ambisi boleh, tapi jangan ambisius untuk sebuah jabatan. Jangan beri jabatan kepada yang ambisius, apalagi minta-minta jabatan," katanya

Warga Muhammadiyah

Berapa sebenarnya jumlah warga Muhammadiyah di Indonesia. Alvara Research Center melakukan estimasi jumlah warga NU dan Muhammadiyah. Estimasi ini berdasarkan survei nasional bertajuk Potret Keberagamaan Muslim Indonesia terhadap 1626 penduduk muslim Indonesia berusia 17 tahun keatas di 34 Provinsi di Indonesia pada Desember 2016. 

Estimasi ini dibagi menjadi dua kategori, Afiliasi Ormas, dan Keanggotaan Ormas. Afiliasi ormas digunakan untuk mengidentifikasi mereka merasa dekat dengan ormas yang mana, sementera Keanggotaan ormas digunakan untuk mengukur mereka mengaku sebagai anggota ormas yang mana.

Hasilnya, Penduduk muslim Indonesia 50,3 persen mengaku berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, dan 14,9 persen mengaku berafiliasi dengan Muhammadiyah. Sisanya tersebar ke ormas-ormas lain dan tidak berafiliasi ke ormas manapun. 

Sementara dari sisi keanggotaan, 36,1 persen mengaku menjadi anggota NU, dan 6,3 persen mengaku menjadi anggota Muhammadiah. Dari survei ini juga menunjukkan 54,6 persen penduduk muslim Indonesia mengaku tidak menjadi anggota ormas manapun.

Estimasi yang dilakukan Alvara Research Center dilakukan secara bertingkat. Pertama, berdasarkan data BPS dihitung terlebih dahulu jumlah populasi penduduk yang beragama Islam, kedua, dihitung populasi penduduk yang berusia 17 tahun keatas, dan yang ketiga menghitung jumlah populasi penduduk muslim yang berafiliasi dan menjadi anggota ormas Islam.

Dari proses perhitungan tersebut dihasilkan jumlah penduduk muslim yang berafiliasi dengan NU berjumlah 79,04 juta jiwa dan yang berafiliasi dengan Muhammadiyah 22,46 juta jiwa. Dari sisi keanggotaan, 57,33 juta penduduk muslim Indonesia mengaku menjadi anggota NU dan 9,39 juta mengaku menjadi anggota Muhammadiyah.

Seperti halnya NU yang menjadi 'rebutan' partai politik terutama pada momen pemilihan presiden, demikian halnya Muhammadiyah. 

Walaupun warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) belum tentu memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), tidak bisa diingkari hubungan historis antara PKB dan NU. Demikian halnya warga Muhammadiyah tidak selalu memilih PAN, tidak bisa ditepis hubungan historis PAN dan Muhammadiyah.

Mimpi Amien Rais

Amien Rais pernah jadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Amien Rais yang adalah penggagas, pendiri sekaligus Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) yang pertama.

Partai Amanat Nasional (PAN) identik dengan Muhammadiyah karena partai ini didirikan tokoh berlatar Muhammadiyah. Ketika mendirikan PAN, Amien Rais sedang menjabat sebagai Ketua Umum ke-12 Muhammadiyah periode kepengurusan 1995-2000.

Pada awal reformasi banyak anak muda mengagumi Amien Rais. Ia dipandang berperan dalam proses reformasi, bahkan ada yang menjulukinya pahlawan reformasi. Namun, beberapa tahun terakhir ia sering menuai kritik dari masyarakat akibat pernyataan-pernyataan kontroversialnya, seperti menyebut Presiden Joko Widodo yang bagi-bagi sertifikat tanah pada rakyat sebagai ngibul (pembohong) tanpa data yang jelas, membuat dikotomi partai Allah versus partai setan, menganjurkan muslim berpolitik di masjid, dan lain-lain. Banyak yang awalnya mengaguminya kemudian antipati padanya. 

Kontroversinya yang lain, namanya disebut jaksa KPK pada Juni 2017 dalam persidangan tindak pidana korupsi dengan terdakwa Siti Fadilah Supari. Dalam surat tuntutan jaksa, sejumlah uang yang diterima sebagai keuntungan pihak swasta juga mengalir ke rekening Amien Rais. 

Awalnya pada September 2005 Siti beberapa kali bertemu Direktur Utama PT Indofarma Global Medika dan Nuki Syahrun, selaku Ketua Soetrisno Bachir Foundation (SBF). Nuki merupakan adik ipar Soetrisno Bachir. Menurut jaksa, berdasarkan fakta persidangan, penunjukan langsung yang dilakukan Siti terhadap PT Indofarma merupakan bentuk bantuan Siti terhadap Partai Amanat Nasional (PAN). 

Pengangkatan Siti sebagai Menteri Kesehatan merupakan hasil rekomendasi Muhammadiyah. Tak lama kemudian Soetrisno Bachir memberikan klarifikasi bahwa Amien Rais tidak ada hubungannya dengan kasus korupsi yang sedang ditangani KPK, sehingga diduga menjadi alasan mengapa Amien Rais tidak pernah dipanggil KPK.

Pada pemilihan umum presiden Indonesia 2004 Amien Rais berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo diusung PAN sebagai calon presiden-wakil presiden. Amien gagal dalam pemilihan presiden secara langsung pertama oleh rakyat ini. Pilpres dimenangkan Soesilo Bambang Yudhoyono hingga dua periode.

Terutama terkait pernyataan-pernyataan kontroversial Amien Rais, apakah merupakan bentuk pelarian dari kekecewaannya gagal jadi presiden RI, "Mungkin saja begitu, tapi yang tahu motif sebenarnya Amien Rais adalah Amien Rais sendiri dan Tuhan," kata Ubeidilah Badrun Pengamat Politik dari Universitas Negeri Jakarta pada Tagar News.

Dalam pemilihan presiden 2014, PAN berhasil meyakinkan Gerindra sehingga Hatta Rajasa Ketua Umum PAN pada waktu itu diplot sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto maju capres. Pasangan ini gagal. Pilpres 2014 dimenangkan Jokowi-Jusuf Kalla. 

Sejak kekalahan itu Amien Rais terdengar semakin nyaring dan agresif menyerang pemerintah dan terutama Presiden Joko Widodo.

Hasrat Menyala

Menjelang Pilpres 2019 hasrat Amien untuk jadi presiden kembali menyala ketika melihat Mahathir Muhammad memenangkan jabatan perdana menteri dalam pemilihan umum Malaysia pada 2018. Terutama yang membuat Amien terkesan adalah usia Mahathir sudah 92 tahun. 

"Mbah Amien Rais ini kan, walaupun tua, ya tidak apa-apa. Begitu Mahathir. Jadi, saya jadi remaja lagi sekarang kan ya, jadi saya terimakasih Pak Mahathir," kata Amien.

"Jadi saya pun sedikit agak layak ya. Sudah agak kuno ya, tapi ya dengan Mahathir itu jadi ada semacam perubahan visi orang Asia Tenggara ini," katanya lagi.

Amien mengatakan, "PAN lewat Rakernas yang dipimpin Pak Zul nanti tidak akan berlebihan. Kita akan mencapreskan tokoh kita sendiri. Pertama Zulkifli Hasan, Hatta Rajasa, Sutrisno Bachir dan terakhir Mbah Amien Rais."

Amien menyebut Zulkifli layak 'nyapres' karena memiliki pengalaman kepemimpinan di eksekutif dan legislatif. Di antaranya menjabat Ketua Umum PAN dan Ketua MPR, serta berpengalaman sebagai Menteri Kehutanan.

Begitu juga dengan Hatta Rajasa mantan Ketua Umum PAN dianggap berpengalaman di eksekutif dan legislatif.

Sementara, Soetrisno Bachir yang juga bekas Ketua Umum PAN dianggap layak karena latar belakangnya sebagai pebisnis dan juga politikus.

"Kami mengusung cuma empat saja. Kader terbaik yaitu ketua umum masing-masing pada zamannya," ujarnya.

Ia mengatakan Presiden Jokowi memang telah didukung oleh PDIP dan sejumlah partai lainnya. Begitu juga dengan Prabowo Subianto yang telah didukung oleh Partai Gerindra.

"Pak Jokowi memang sudah di-endorse sama PDIP dan beberapa partai lain. Sementara yang mau melawan Pak Jokowi kan belum jelas. Pak Prabowo sudah di-endorse oleh partainya, tapi koalisinya masih belum solid," ujarnya.

Meski demikian, Amien mengaku tetap bersama barisan Partai Gerindra, PKS, dan PBB. Bahkan, ia menyebut akan lebih baik kalau Partai Demokrat juga bergabung dengan pihaknya.

"Nah biarkanlah nanti rakyat akan membuat penilaian. Jadi kita tetap dengan Gerindra, PKS, PBB, bahkan, kalau misalnya ini Partai Demokrat memperkuat kita, itu akan lebih bagus lagi," katanya.

Kesiapan Amien Rais jadi capres itu disusul pernyataan dukungan Koalisi Umat Madani mendeklarasikan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional Amien Rais sebagai presiden dan mendorong Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2019 untuk mengalahkan Jokowi. 

"Suatu ketika mereka akan menemukan kesepakatan dengan pertimbangan senioritas Amien Rais, hubungan baik dengan Prabowo dan Zulkifli Hasan dan PKS, kesepakatan bisa dicapai," kata ketua Koalisi Umat Madani, Syarwan Hamid.

Ia menjelaskan, Koalisi Umat Madani mendukung Amien Rais menjadi capres karena tokoh reformasi itu dinilai dapat menciptakan kondisi politik lebih kondusif. 

"Juga perekonomian yang lebih baik,” katanya

Ubeidilah Badrun Pengamat Politik dari Universitas Negeri Jakarta mengatakan bahwa manuver Amen Rais yang menyatakan kesiapan jadi calon presiden pada Pilpres 2019 adalah dalam rangka melakukan test the water

"Kalau dukungan meluas akan diseriusi, kalau tidak meluas ia akan berhenti," ujar Ubeidilah.

Soal Amien Rais terinspirasi Mahathir Muhammad, kata Ubeidilah, boleh-boleh saja.

"Tapi Amien Rais perlu berkaca bahwa Amien Rais dan Mahathir itu berbeda. Indonesia dan Malaysia juga secara sosiologis politik jauh berbeda. Sehingga memerlukan cara pandang konteks dan zamannya yang berbeda," ujar Ubedilah.

"Dukungan partai ke Amien Rais juga belum tentu meluas. Belum ada juga partai-partai yang mendukung kecuali PAN," lanjutnya.

Manuver 

Respons terhadap nama Amien Rais sepi, PAN bermanuver dengan menawarkan dua jagoan dari luar.

Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto menyebutkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo merupakan capres atau cawapres alternatif yang diusulkan PAN dalam bursa Pilpres 2019.

"Dalam rakernas PAN beberapa waktu lalu memang kami memutuskan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan maju sebagai capres. Namun, kami sadar diri bahwa suara PAN di parlemen tidak mencapai 20 persen. Makanya, kami intens komunikasi dengan Partai Gerindra untuk mengusung Prabowo Subianto-Zulkifli Hasan," kata Yandri dalam diskusi bertajuk 'Menakar Arah Koalisi Parpol pada Pemilu 2019 Pasca Pilkada Serentak 2018', di Jakarta dilansir Antara.

Namun, lanjut dia, diluar kader partainya, PAN mengusulkan Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo untuk maju sebagai capres atau cawapres pada Pilpres nanti.

"Bisa Anies-Gatot atau Gatot-Anies. Namun, kedua nama tersebut masih dalam pembahasan antara Gerindra dan PAN. Kecenderungan PAN mengusung calon diluar Jokowi," ujarnya.

Yandri menyatakan bahwa PAN tidak mempermasalahkan jika Prabowo Subianto maju sebagai calon presiden. Masuknya nama Anies Baswedan sebagai cawapres Prabowo Subianto disambut baik oleh PAN.

Menurut Yandri, jika pada akhirnya Prabowo berpasangan dengan Anies, Partai Amanat Nasional siap memberikan dukungan.

Tak hanya melakukan komunikasi dengan Gerindra, PAN juga menjalin komunikasi dengan Partai Golkar. Bahkan, Golkar dan PAN memiliki peluang untuk berkoalisi.

"PAN-Golkar juga punya peluang membentuk koalisi. Ini lantaran jumlah kursi PAN dan Golkar cukup untuk mengusung pasangan capres-cawapres sesuai dengan ambang batas capres atau presidential threshold sebesar 20 persen berdasarkan amanat UU Pemilu," katanya.

Injury Time

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan masih belum terbuka tentang arah dukungan partai pada Pilpres 2019, dan menunggu waktu yang tepat.

"Belum, tunggu saja sebentar lagi tanggal mainnya," kata Zulkifli di kediamannya di Jakarta, Kamis (12/7), usai bertemu pasangan cagub-cawagub pemenang Pilkada Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak.

Ia menyampaikan hal itu saat ditanya wartawan terkait dukungan partai untuk pilpres. 

Zulkifli mengibaratkan seperti pertandingan bola antara Inggris melawan Kroasia pada babak semifinal Piala Dunia 2018 yang dimenangkan oleh Kroasia pada perpanjangan waktu.

"Nonton bola tidak? Inggris lawan Kroasia, menang siapa? Injury time kira-kira begitu," tambah dia. (af)