Jakarta, (Tagar 20/7/2018) - Romahurmuziy akrab disapa Rommy Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengunggah foto 10 wajah kandidat cawapres Jokowi di laman Facebook resminya. 

"Sengaja saya umumkan ke publik atas permintaan beliau (Presiden Joko Widodo) sendiri untuk melihat respons masyarakat," tulis Rommy bersama unggahan foto tersebut.

Ia menyebut pengumuman 10 nama itu merupakan tradisi baru yang dimulai Jokowi, publik harus dibiasakan agar bisa menilai dan terlibat memberi feedback.

Dari figur politisi ada nama Airlangga Hartarto Ketua Umum Golkar, Muhaimin Iskandar Ketua Umum PKB, dan Romahurmuziy Ketua Umum PPP.

Dari unsur ulama ada nama KH Ma'ruf Amin dan Prof Din Syamsudin. Dari figur teknokrat muncul nama Sri Mulyani Menteri Keuangan dan Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan.

Kemudian dari figur akademisi muncul nama Prof Mahfud MD, dari figur Purnawirawan TNI ada nama Jenderal Moeldoko dan terakhir dari figur pengusaha adalah Chairul Tandjung.

"Insya Allah tidak akan keluar dari 10 nama ini," kata Rommy.

Megawati - AirlanggaPertemuan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Senin (16/7/2018). (Foto: PDI Perjuangan/Hasto Kristiyanto)

Menjelang pendaftaran capres-cawapres 4 Agustus 2018, pertemuan antarketua umum partai politik terus berlangsung secara intensif, di antaranya membahas calon wakil presiden untuk Jokowi. Seperti pertemuan khusus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto pada Senin (16/7).

"Golkar dan PDI Perjuangan memiliki akar sejarah panjang. Gabungan kekuatan keduanya tidak hanya kuat di DPR, namun mampu memastikan efektivitas dan stabilitas pemerintahan ke depan. Terlebih kerja sama Golkar dan PDI Perjuangan tersebut dilakukan sebelum Pilpres, dan hal ini akan memperkuat jalan kemenangan Pak Jokowi," ujar Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis diterima Tagar, Jumat (20/7)

Megawati Soekarnoputri menyambut gembira, terlebih setelah Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Golkar juga memiliki akar sejarah dengan Bung Karno. Mengingat sebagai sekretariat bersama, Golkar merupakan kelompok fungsional yang dirancang dengan ideologi pembangunan untuk bangsa dan negara Indonesia.

Pada kesempatan tersebut juga disepakati pentingnya dukungan kepada Presiden Jokowi, juga disertai agenda penataan sistem dan kelembagaan politik nasional agar sesuai Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa. 

"Di kalangan Golkar masih banyak politisi senior. Kami usulkan untuk membentuk  tim kerja untuk melakukan kajian bersama terhadap proses amandemen dan kemudian memperjuangkan bagaimana MPR memiliki kewenangan dalam menetapkan Garis Besar Haluan Negara," ujar Airlangga.

Megawati menanggapi serius usulan Airlangga itu dengan menceritakan bagaimana Bung Karno pada tahun 1960-an mengumpulkan lebih dari 600 doktor dan merancang Pola Pembangunan Semesta Berencana. 

"Pola Pembangunan  Semesta tersebut harus dipelajari kembali dan ditangkap ruhnya sebagai haluan negara yang menjabarkan Pancasila agar Indonesia berdaulat, berdikari, dan berkebudayaan," kata Megawati penuh semangat.

Berkaitan siapa yang akan ditetapkan sebagai calon wakil presiden, kedua Ketua Umum Partai yang memiliki hubungan dekat tersebut bersepakat bahwa hal tersebut akan dibahas bersama dengan Presiden Jokowi. 

"Setiap partai politik, di dalam menjalankan fungsi kaderisasi kepemimpinan wajar seandainya memperjuangkan Ketua Umumnya pada posisi strategis di tingkat nasional. Ibu Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan pada tahun 2014 juga banyak didorong sebagai calon presiden, namun beliau mendengarkan aspirasi rakyat dan lebih memilih memberikan mandat dan mencalonkan Pak Jokowi," kata Hasto Kristiyanto Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan.

"Sama dengan Golkar, Pak Airlangga merupakan representasi Golkar, memiliki pengalaman yang luas, dan kepemimpinannya telah teruji sejak zaman mahasiswa. Kepemimpinan beliau juga merangkul dan membangun dialog. Jadi PDI Perjuangan sangat memahami apabila Golkar mencalonkan Pak Airlangga untuk mendampingi Pak Jokowi, sebab hal itu merupakan cita-cita setiap partai untuk mendorong kadernya. Namun tentunya hal tersebut akan didialogkan bersama," lanjut Hasto. 

Yang pasti, lanjut Hasto, pertemuan tersebut sangat kondusif dan banyak hal fundamental yang dibahas terkait kerja sama kedua partai saat ini dan kedepan.