Denpasar, (Tagar 8/8/2018) - Ribuan wisatawan asing yang berlibur di pulau-pulau kecil yang ada di Kawasan Mataram, NTB, yang terkena dampak gempa Lombok, pada Minggu (5/8) hingga Selasa (7/8) telah dievakuasi dengan menggunakan kapal cepat menuju dermaga Timut Pelabuhan Benoa, Bali.

"Menurut informasi yang kami dapat, sudah ada ribuan wisatawan asing dan domestik sudah tiba di Pelabuhan Benoa yang dibantu tim gabungan dari Polresta Denpasar, Pelindo, Pelni, SAR dan TNI-AL dalam upaya melakukan evakuasi ini," kata Kapolresta Denpasar, Kombes Pol. Hadi Purnomo di Denpasar, Selasa (7/8) mengutip Antara.

Menurut informasi dari tim gabungan, sudah ada lebih dari 1.038 orang wisatawan asing dan domestik sudah tiba di Pelabuhan Benoa dengan menggunakan KM Binaiya, Kapal Bounty Cruise, Kapal KPLP I dan 2 serta Kapal Patagonia.

Selain itu, Pukul 20.30 Wita jug ada kedatangan Kapal Bounty Cruise dengan penumpang kurang lebih 134 orang tiba di Pelabuhan Benoa. "Kami juga ikut membantu para wisatawan ketika turun dari kapal," katanya.

Ia mengatakan, tugas ini adalah kegiatan kemanusiaan untuk membantu dan mengarahkan korban gempa yang terjadi di Lombok, baik warga negara asing maupun warga negara Indonesia.

Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali untuk membantu akomodasi para wisatawan ini.

Pelibatan seluruh stake holder atau instansi dalam evakuasi ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap para korban gempa berkekuatan 7,0 SR yang terjadi pada Minggu (5/8) lalu.

"Hasil koordinasi dengan PHRI, kami sudah menyiapkan kendaraan ambulans dan bus untuk nantinya bisa mengantar para korban menuju hotel tempat mereka menginap dan mendapat perawatan medis apabila ada korban luka," katanya.

Sebelumnya, tim gabungan pada Senin (6/8) lalu, Pukul 23.20 Wita, telah mengerahkan Kapal Binaiya untuk mengangkut 86 orang wisatawan ke Pelabuhan Benoa. Disusul Kapal Bounty Cruise dengan membawa penumpang sebanyak 541 orang wisatawan yang tiba Pukul 01.15 Wita.

Kemudian pada Selasa (7/8) juga ada Kapal KPLP I yang telah membawa 79 orang, Kapal KPLP 2 mengangkut 189 orang dan kapal Patagonia membawa 143 orang wisatawan yang tiba di Pelabuhan Benoa.

Tim gabungan menyiagakan Kapal Bounty Cruise berkapasitas 500 penumpang yang masih menunggu daftar penumpang yang segera dievakuasi dari Lombok ke Bali.

Korban Gempa Lombok BertambahSejumlah prajurit TNI membantu memindahkan korban gempa menuju tenda perawatan di RSUD Kabupaten Lombok Utara di Tanjung, NTB, Selasa (7/8/2018). Berdasarkan data terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan 7 pada skala richter (SR) di Lombok bertambah menjadi 105 dari sebelumnya 98 orang. (Foto: Antara/Ahmad Subaidi)

108 Orang Meninggal

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei mengungkapkan jumlah korban meninggal akibat gempa bumi di Lombok, yang terdata hingga Selasa (7/8) pukul 12.00 Wita mencapai 108 orang.

"Sedangkan korban luka-luka sebanyak 134 orang," katanya usai rapat koordinasi penanganan gempa Lombok di Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Ia menyatakan, kemungkinan jumlah korban luka akan mengalami peningkatan sebab jumlah pasien cenderung dinamis.

"Tadi ada 50 pasien yang sudah dioperasi, dari total 87 pasien yang harus dioperasi, sementara sisa 37 pasien lainnya sedang menunggu fasilitas untuk operasi tulang terbuka dan tertutup," katanya.

Willem mengatakan tantangan pelayanan medis ialah banyak pasien yang masih trauma berada di dalam ruangan sehingga memengaruhi penanganan lebih lanjut.

"Di sini pada trauma, pada umumnya saat operasi atau setelah operasi tidak mau di gedung, maunya di rawat di luar," katanya.

Dia mengatakan saat ini tim operasi gabungan terus melakukan pencarian dam penyelamatan korban yang masih berada di bawah reruntuhan bangunan.

"Pencarian dan penyelamatan korban sedang berlangsung di dua tempat paling parah di Lading-Lading di sana ada dua alat berat yang dikerahkan dan di Bangsal juga sedang dilakukan tugas penyelamatan," ungkap Willem.

Dia mengatakan proses pencarian dan pertolongan masih terkendala kurangnya alat-alat berat. Sejauh ini, alat berat yang sudah beroperasi baru dua unit.

"Ada tambahan empat ekskavator dari Dinas PU dan satu alat berat dari PT AMNT," ujarnya.
Ia menambahkan semua peralatan akan dikerahkan untuk mempercepat upaya pencarian, termasuk menggunakan empat anjing pelacak dari kepolisian dan dua anjing pelacak dari Basarnas sehingga mempermudah dalam upaya evakuasi warga yang diperkirakan masih tertimbun. []