UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia

Ribka Tjiptaning Kader PDI Perjuangan Melecehkan Jokowi

Ribka Tjiptaning kader PDI Perjuangan ini melecehkan Presiden Jokowi yang ia sebut semakin tidak jelas, melecehkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi.
Ribka Tjiptaning, anggota DPR RI Komisi IX dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, menolak divaksin covid. (Foto: Tagar/YouTube DPR RI)

Oleh: Ade Armando*

Barangkali Anda sudah menyaksikan video Ribka Tjiptaning, anggota DPR asal PDI Perjuangan, yang dalam rapat dengan Menteri Kesehatan, bilang menolak divaksin. Dia itu sombong, dan maaf ya memalukan. Terkesan dungu malah. Dia melecehkan Jokowi, yang disebutnya 'semakin tidak jelas'. Dia melecehkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi karena sang menteri bukan dokter, dan sekadar Wamen BUMN.

Dengan pongah dia bilang dia tidak mau dipaksa divaksin anti Covid-19. Bahkan kalau dia harus diberi sanksi, dia memilih untuk membayar saja. Seluruh keluarganya tidak boleh divaksin. Dengan gegabah dia mengatakan kalau dipaksa, itu adalah pelanggaran HAM.

Alasan penolakannya tidak jelas. Mula-mula dia terkesan seperti menolak karena khawatir vaksinasi itu akan berdampak buruk. Dia misalnya menyebut beberapa tahun lalu ada kasus di mana mereka yang divaksin anti-polio, justru menjadi lumpuh layu. Tapi kemudian dia bicara soal komersialisasi vaksin. Dia bilang sejak Maret 2020 dia sudah mengingatkan, "Ini semua ujung-ujungnya jualan obat, jualan vaksin." Katanya, "Mula-mula jualan APD, lantas jualan obat, nanti ada lagi soal stunting."

Menurut Ribka, semua sudah jelas, sudah ada polanya, semua untuk dagang. Lantas dia bilang, saya ingatkan ya, adinda menteri, negara enggak boleh berbisnis dengan rakyatnya. Tampilan Ribka memalukan. Kalau dia sedemikian penakut sehingga tidak berani divaksin, ya urusan dialah. Kenapa harus menakut-nakuti rakyat, bahkan menyebarkan gagasan tentang adanya konspirasi dagang di belakang Covid-19.

Covid-19 itu nyata. Ada hampir 850 ribu orang dinyatakan positif terkena Covid-19 di Indonesia saat ini, hampir 25 ribu meninggal. Di dunia diketahui ada 91 juta orang terkena, yang meninggal hampir 2 juta. Mungkin saja statistik ini tidak sepenuhnya akurat. Bisa lebih rendah, bisa juga lebih tinggi. Tapi epidemi ini riil. Bagaimana mungkin virus ini disepelekan, atau dianggap sekadar akal-akalan dagang obat?

Pemerintah Jokowi mati-matian berusaha memenangkan perang melawan Covid-19. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, anggarannya sekitar Rp 70 triliun. Sementara kalau kita gunakan perhitungan PSI, kalau seluruh penduduk Indonesia harus divaksinasi, angkanya bisa lebih dari Rp 100 triliun. Ini jelas angka yang bukan main-main.

Ribka ini jadi seperti nenek nyinyir, yang selama ini menjadi ciri khas kaum anti-Jokowi.

Tagar JokowiDiVaksinCuitan Presiden Joko Widodo mengenai penyuntikan vaksin. (Foto : Twitter/@jokowi)

Tapi masalahnya saat ini cara utama mencegah pertumbuhannya adalah dengan vaksinasi. Itupun tidak berarti kita tidak perlu lagi menjaga protokol kesehatan. Kita tetap jaga jarak, pakai masker, cuci tangan. Tapi dengan vaksinasi, diharapkan akan ada cukup banyak warga Indonesia yang kebal terhadap covid sehingga penyebaran virus bisa dihambat.

Ribka dengan pongah bilang kepada Menteri bahwa sang Menteri itu dipilih oleh hanya satu orang, yaitu Presiden, sementara Ribka dipilih oleh ratusan ribu orang. Dengan mengatakan itu, dia seperti bilang pendapat dia lebih layak daripada pendapat sang Menteri. Yang dia lupa adalah bahwa keputusan itu datang dari Presiden Jokowi, seorang pemimpin yang dipilih bukan hanya oleh ratusan ribu orang, tapi lebih dari 85 juta rakyat Indonesia. Tapi tentu saja bukan angka statistik itu yang penting.

Yang penting saat ini kita harus berperang melawan covid yang sudah mematikan lebih dari 20 ribu orang, dan kita harus menemukan cara terbaik untuk melakukannya. Kita harus membuat masyarakat Indonesia sehat dan membangun kembali ekonomi Indonesia. Kalau Ribka punya cara lain, ya paparkan dong. Tapi kalau dia sekadar mengatakan ini semua perang dagang, ya dia layak disebut dungu.

Ribka ini jadi seperti nenek nyinyir, yang selama ini menjadi ciri khas kaum anti-Jokowi. Perang melawan covid di Indonesia terus diganggu karena sangat banyak orang dungu yang terus menyebarkan kebencian, kebohongan, dan kecurigaan yang bertujuan menggagalkan kesuksesan program vaksinasi ini.

Dia melecehkan Jokowi, yang disebutnya 'semakin tidak jelas'. Dia melecehkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi karena sang menteri bukan dokter, dan sekadar Wamen BUMN.

Tagar JokowiDiVaksinCuitan akun resmi Kementrian LHK mengenai penyuntikan vaksin. (Foto : Twitter/@KementrianLHK)

Misalnya saja, soal Jokowi sebagai orang pertama yang memperoleh vaksin. Pada awalnya kaum nyinyir sok menantang agar Jokowi menjadi orang pertama untuk divaksin, karena mereka rupanya percaya vaksin ini tidak aman. Ternyata Jokowi bersedia. Kemudian narasi diubah, menjadi: Pemberian vaksin kepada Jokowi harus disiarkan live ke seluruh rakyat Indonesia, agar bisa dipastikan vaksinasi memang terjadi. Ternyata vaksinasi Jokowi dilangsungkan siaran live. Narasi diubah lagi menjadi: Harus dipastikan vaksin itu sungguhan, bukan pura-pura. Dan terakhir berubah menjadi: Harus dipastikan vaksin yang diberikan kepada Jokowi adalah sama dengan yang diberikan kepada rakyat. Jadi, memang tidak ada habisnya.

Dulu dipersoalkan berapa harga yang harus ditanggung setiap penerima vaksin. Ternyata pemerintah memutuskan vaksin diberikan secara gratis. Tiba-tiba saja narasinya berubah menjadi apa layak uang rakyat digunakan untuk membeli vaksin dari perusahaan-perusahaan asing, apalagi dari China. Dahsyat, kan?

Bahkan beredar gosip hoaks yang pokoknya ingin menjadikan vaksinasi ini adalah hal yang harus dilawan. Saya buat daftar setidaknya sepuluh hoaks dungu yang beredar. Satu, vaksinasi ini modus operandi dari PKI (Partai Komunis Indonesia) atas perintah Negara Komunis China untuk menghabisi rakyat Indonesia. Dua, Sinovac ini membahayakan, buktinya: Pemerintah China sendiri tidak menggunakan Sinovac pada warga China. Tiga, reaksi senyawa vaksin Sinovac akan memicu virus membuat antibodi sendiri, membelah diri menjadi senyawa kimia virus baru yang lebih banyak dan semakin ganas.

Empat, penerima suntikan vaksin covid, Sinovac China, meninggal dunia. Lima vaksin covid Sinovac yang dikirim ke Indonesia sebenarnya ditujukan untuk uji klinis, bukan untuk pasien sesungguhnya. Enam, vaksin covid Sinovac mengandung sel kera hijau. Tujuh, vaksin covid mengandung virus corona hidup yang dilemahkan. Delapan, vaksin covid mengandung boraks, formalin, dan merkuri. Sembilan, vaksin merek Sinovac adalah vaksin paling lemah dibanding vaksin merek-merek lain. Sepuluh, relawan uji coba vaksin Sinovac mengalami gangguan syaraf sehingga menimbulkan gangguan pada tangan.

Itu semua bohong, bohong, bohong. Tapi terus disebarkan. Terus terang saya tidak paham apa yang sebenarnya ada di kepala orang-orang yang menyebarkan kebohongan itu? Apakah mereka ingin kita semua berserah diri saja kepada Allah? Atau mereka memang ingin jumlah korban terus meningkat. Tentu saja tidak ada jaminan setelah vaksinasi dilakukan, penyebaran covid hilang total. Tapi inilah cara terbaik yang tersedia saat ini.

Karena itu wahai Ribka dan kawan-kawan, kalau Anda memang takut, ya silakan tinggal di rumah dan jangan terima vaksin. Saya doakan Anda dan keluarga Anda sehat dan selamat. Tapi tolonglah jangan sebarkan kedunguan itu kepada banyak orang.

*Akademisi Universitas Indonesia

Berita terkait
Anggota DPR Komisi IX, Ribka Tjiptaning Tolak Divaksin Covid-19
Anggota DPR RI Komisi IX dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ribka Tjiptaning menolak divaksin. Ini alasannya
Nasihat Denny Siregar untuk Ribka Tjiptaning
Denny Siregar mengatakan sebagai wakil rakyat Ribka Tjiptaning harus memberikan contoh yang baik bagi masyarakat.
Denny Siregar: Orang Egois Perusak Pikiran Awam
Anda itu egois, tahu enggak? Dan orang egois itu tidak lebih dari seorang pecundang, pecundang dalam hidupnya, dalam segala-galanya. Denny Siregar.
0
Ribka Tjiptaning Kader PDI Perjuangan Melecehkan Jokowi
Ribka Tjiptaning kader PDI Perjuangan ini melecehkan Presiden Jokowi yang ia sebut semakin tidak jelas, melecehkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi.