Jakarta, (Tagar 7/8/2018) - Relawan Jokowi lintas kelompok meminta respons yang memicu kontroversi terkait pidato Presiden Joko Widodo dalam rapat umum relawan di Sentul International Convention Center, dihentikan.

"Beberapa pihak memberi respons dan memicu kontroversi yang keliru dan tidak proporsional. Kami relawan Jokowi lintas kelompok meminta kontroversi itu segera dihentikan," ujar Ketua Seknas Jokowi Muhammad Yamin dalam konferensi pers bersama di Jakarta, Selasa (7/8).

Muhammad Yamin mengatakan, demokrasi yang baik membutuhkan kritik dan kompetisi. Namun, seluruhnya harus dilandasi aturan main yang sehat dan adil.

Dia menegaskan, bangsa Indonesia harus membangun narasi demokrasi yang produktif dan bermanfaat.

Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menegaskan, pihak yang mempersoalkan pidato Jokowi adalah orang-orang yang hanya berpikir tentang kekerasan.

Menurut Budi, kata "berantem" yang disebutkan Jokowi dalam pidatonya bermakna bertarung secara sportif.

"Kalau pikirannya selalu kekerasan, maka dipikirnya berantem itu berkelahi fisik. Tapi kalau pikirannya perdamaian, persatuan pasti memaknai kata berantem itu adalah pertarungan," tegas Budi.

Dalam konferensi pers bersama tersebut seperti dirilis Antara, puluhan relawan Jokowi lintas kelompok mengeluarkan pernyataan bersama, yaitu:

1. Pidato Jokowi dalam acara relawan adalah acara menyejukkan, menganjurkan persatuan, persaudaraan dan kerjasama seluruh komponen bangsa. Pesan utama yang dikandung dalam orasi ini adalah sebuah pesan yang membangkitkan semangat para relawan untuk bekerja lebih giat lagi.

2. Salah satu kata kunci yang ada dalam orasi ini adalah kata "berani", di mana dalam konteks kalimatnya, kata ini bukan untuk mendorong kaum relawan untuk "berantem" dalam pengertian fisik atau konflik. Ia lebih mendekati makna sebagaimana yang terkandung dalam ungkapan universal seperti: berani karena benar, atau berani membela kebenaran. 

Bahkan jika mengutip dalam ungkapan Bugis-Makassar ewako. Secara harfiah, kata ewako berarti lawan, namun ia bukan sebuah kata yang menganjurkan konflik atau kekerasan, tetapi lebih untuk membesarkan hati dan mendorong semangat dalam menyambut sebuah peristiwa penting. Dalam pengertian seperti ini orasi Jokowi harus dipahami.

3. Suasana yang diciptakan oleh orasi ini di kalangan gabungan relawan pendukung Jokowi adalah suasana festival yang gembira, bersemangat, penuh tekad untuk memenangkan beliau dalam Pilpres 2019. Tidak ada suasana kemarahan, kebencian, apalagi permusuhan terhadap siapa pun. 

Jokowi dan seluruh kaum relawan mengerti bahwa dalam demokrasi, pihak sana bukan musuh, melainkan lawan tanding. Kita berbeda posisi, namun kita semua bersaudara, kita mencintai Tanah Air yang sama. Karena itu, persaingan yang tajam kita sambut bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kegembiraan dan antusiasme. We are happy and passionate. We are not angry.

4. Dengan penjelasan ini, kami berharap bahwa kontroversi pasca rapat akbar di Sentul kemarin, segera dihentikan. Masih banyak hal lain yang memang perlu kita perdebatkan dengan tajam dan bermanfaat bagi rakyat banyak, seperti pola pembangunan ekonomi, tahapan industrialisasi, kebijakan pengentasan kemiskinan, dan sebagainya. Dalam isu-isu penting seperti ini sebenarnya energi intelektual kita harus diarahkan.

Dalam konferensi pers itu hadir puluhan perwakilan relawan Jokowi yakni Rizal Mallarangeng (Go-Jo), Muhamamd Yamin dan Dedy Mawardi (Seknas Jokowi), Budi Arie Setiadi (Projo), Viktor S Sirait dan Sihol Manulang (Bara JP), Martin Siregar dan Amarsjah (KAPT), Anny Simanjuntak (AKGI), Pitono Adhi (RPJB), David A Fitri (Foreder), Andy GN Wea (Buruh Sahabat Jokowi), Mudhofir (Rejo).

Selain itu Bayutami (Sekber Jokowi), Silver Matutina (Solmet), Sukmadji Indro Cahyono (Getar), Yohanes Joko (Duta Jokowi), Kris Budiharjo (RKIH), Kelik Wirawan (GK-JO), Hendrik Sirait (Almisbat), Wignyo dan Pitono (RPBJ), Ferdi Semaoen (Pos Raya), Yudith (Bravo 5), Herlan Masrio (Sumsel untuk Jokowi).

Sebelumnya, Presiden dalam pidato di acara relawan, Sabtu (4/8), meminta kepada para relawan untuk menahan diri ketika mendapat serangan politik dari kubu lawan.

"Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani," kata Jokowi.

Kata "berantem" itu kemudian dipersoalkan sejumlah politisi dari partai oposisi. Mereka menilai Presiden memprovokasi relawan. []