Jakarta, (Tagar 3/10/2018) - Tanda pagar atau hashtag #KoalisiPlastik menjadi trending di Twitter hari ini. Hashtag ini trending bersamaan dengan beberapa hashtag lainnya yang seluruhnya mengenai Ratna Sarumpaet.  

Empat topik yang trending di Twitter hari ini dikuasai oleh kasus Ratna Sarumpaet. 

Trending di TwitterTrending di Twitter, Rabu (3/10). (Foto: Twitter)

Seperti diketahui, Ratna Sarumpaet akhirnya mengakui bahwa penganiayaan yang menimpa dirinya adalah kebohongannya semata. 

Berikut ini pengakuan Ratna Sarumpaet selengkapnya:

Bismillahirohmanirohim. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Salam sejahtera bagi kita semua.

Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran wartawan di sini.

Pada saat saya merasa telah melakukan kesalahan, kalian tidak menjauh. Saya mohon apa pun yang saya sampaikan hari ini. Sesuatu yang berguna yang membuat kegaduhan dalam dua hari terakhir ini mereda. Dan membuat kita semua saling memaafkan.

Tanggal 21 September saya mendatangi rumah sakit khusus bedah, menemui dokter Sidik, ahli bedah plastik. Kedatangan saya ke situ karena kami sepakat beliau akan menyedot lemak di pipi kiri kanan saya. Dokter Sidik adalah dokter ahli bedak plastik yang saya percaya, sudah tiga atau empat kali saya ke sana.

Tetapi setelah operasi dijalankan pada tanggal 21 September, tanggal 22 September pagi saya bangun, saya melihat muka lebam-lebam berlebihan, tidak seperti yang saya alami biasanya.

Kata dokter Sidik, saya tanya ini kenapa begini, dia bilamg itu biasa. Intinya begitu. Apa yang saya katakan ini akan menyanggah bahwa ada penganiayaan. Bahwa betul saya ada di dokter Sidik pada hari itu dan pulang. Saya dijadwalkan pulang, lebam-lebam masih ada. Seperti ada apa ya? kebodohan, yang saya nggak pernah bayangkan, bisa lakukan dalam hidup saya. Saya pulang seperti membutuhkan alasan kepada anak saya di rumah. Kenapa muka saya lebam-lebam? Dan memang saya ditanya dan jawab saya dipukul orang.

Jawaban pendek itu dalam satu minggu ke depan akan terus dikorek terus, namanya juga anak, muka ibunya lebam-lebam, kenapa?

Saya nggak tahu kenapa, saya nggak pernah membayangkan bahwa saya akan terjebak dalam kebodohan seperti ini. Saya terus mengembangkan ide pemukulan itu dengan beberapa cerita.

Jadi selama semingu sebenarnya cerita itu  hanya berputar-putar di keluarga saya. Dan hanya untuk kepentingan berhadapan dengan anak-anak saya. Tidak ada hubungan dengan politik. Tidak ada hubungannya luas. Tapi setelah sakit mereda, dan saya berhubungan dengan pihak luar. Saya nggak tahu bagaimana memaafkan ini kepada diri saya.

Tetapi saya kembali melakukan kesalahan itu, saya kembali dengan cerita itu, bahwa saya dipukuli. Tolong jangan dikira saya mau mencari pembenaran. Enggak.

Ini salah, apa yang saya lakukan adalah sesuatu yang salah. Dan sampai ketemu Pak Fadli Zon datang ke sini, cerita itu sampai ke dia. Iqbal saya panggil dia ke sini, cerita itu juga berkembang dalam percakapan.

Dan hari Selasa (2 Oktober) foto-foto saya beredar di seluruh media. Saya nggak sanggup baca itu. Saya ada beberapa peristiwa yang membawa saya ke Pak Djoksan, lalu membawa ke Pak Prabowo.

Bahkan di depan Pak Prabowo, orang yang saya perjuangkan, orang yang saya cita-citakan memimpin bangsa ini ke depan. Mengorek apa yang terjadi, saya juga masih melakukan kebohongan itu. Sampai kita keluar dari lapangan polo kemarin. Saya tetap diam. Saya biarkan semua bergulir dengan cerita itu.

Di lapangan polo sebenarnya saya merasa betul itu salah. Waktu saya berpisah dengan Pak Prabowo dan Amien Rais, saya sebenarnya tahu di dalam hati kecil saya salah, tapi saya nggak mencegat mereka.

Itulah yang terjadi. Jadi tidak ada penganiayaan. Itu hanya cerita khayal. Entah dari setan mana ke saya dan berkembang seperti itu, saya tidak sanggup melihat bagaimana Pak Prabowo membela saya di dalam sebuah jumpa pers. Saya nggak sanggup melihat sahabat-sahabat saya yang membela saya dari sebuah pertemuan di Cikini.

Saya salat malam tadi malam berulang kali dan tadi pagi saya mengatakan pada diri saya, setop. Saya panggil anak-anak saya, saya minta maaf kepada anak-anak saya dan saya meminta maaf kepada orang yang membantu saya di rumah ini. Selama sekian hari ini saya bohong. Bohong itu merupakan perbuatan yang salah. Dan saya tidak mempunyai jawaban bagaimana mengatasi kebohongan kecuali mengakui dan memperbaikinya.

Mudah-mudahan dengan itu, semua pihak yang terdampak oleh perbuatan saya ini mau menerima bahwa saya hanya manusia biasa. Perempuan yang dikagumi banyak orang itu juga bisa tergelincir. Untuk itu, melalui forum ini saya dengan sangat memohon maaf kepada Pak Prabowo Subianto. Terutama kepada Pak Prabowo Subianto yang kemarin dengan tulus membela saya. Membela kebohongan yang saya buat. Saya nggak tahu rencana Tuhan dari semua ini. Tapi Saya berjanji akan memperbaiki dan meneruskan perjuangan kami yang sekarang sedang terhenyak.

Saya memohon maaf kepada bapak Amien Rais, yang juga dengan sabar mendengarkan kebohongan saya kemarin dan ikut jumpa pers.

Saya minta maaf kepada teman-teman seperjuangan di koalisi 02. Saya melukai hati kalian. Sekarang ini saya membuat kalian marah. Demi Allah saya tidak berniat seperti itu. Dan saya berharap Tuhan memberikan saya kekuatan kepada kita semua agar kejadian ini tidak mempengaruhi perjuangan kita.

Saya juga minta maaf kepada ibu-ibu, emak emak yang selalu menyebut nama saya dalam perjuangannya. Aku tahu kalian kecewa. Tapi begitulah hidup, kita lihat, bukan bagaimana Anda melihat aku, tapi bagaimana kita melihat rakyat.

Saya ingin tetap emak-emak berjuang di garis itu. Kalian emak-emak Indonesia yang akan terus berjuang.

Aku juga meminta maaf kepada semua pihak yang terkena dampak dari apa yang saya lakukan. Saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang selama ini mungkin dengan suara keras saya ,kritik keras dan kali ini berbalik kepada saya. Kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata, menghebohkan sebuah negeri.

Mari kita semua mengambil pelajaran dari kejadian ini, kawan-kawan, bangsa kita saat ini sedang dalam keadaan tidak baik. Seperti apa yang saya lakukan selama ini, seperti apa yang kita hebohkan selama ini, yang tidak penting mari kita hentikan. []