UNTUK INDONESIA
Ratna Sarumpaet, Post Famous Syndrom
Ratna Sarumpaet post famous syndrom? Berikut ini pemaparan psikolog mengenai perilaku Ratna Sarumpaet.
Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Ratna Sarumpaet memberikan klarifikasi terkait pemberitaan penganiyaan terhadap dirinya di Kediaman Ratna Sarumpaet, Kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu (3/10/2018). Dalam konferensi pers tersebut Ratna Sarumpaet mengaku telah merekayasa kabar terjadi penganiyaan terhadap dirinya pada 21 September 2018 di Bandung, namun sesungguhnya dirinya menemui dokter ahli bedah plastik di Jakarta untuk menyedot lemak di pipi sehingga menimbulkan muka lebam. (Foto: Antara/Galih Pradipta)

Jakarta, (4/10/2018) - Ratna Sarumpaet di satu sisi memposisikan diri sebagai pembela kaum tertindas, di sisi lain ia di usia 70 tahun dengan gaya hidup sedot lemak pipi bisa menghabiskan uang sampai Rp 90 juta. Ia berangkat dari seniman, pemain teater, pengorganisir teater, hidupnya tidak jauh dari panggung dan puji-pujian penonton. 

Ia dalam pernyataan maaf sekaligus pengakuan kebohongannya tentang penganiayaan, Rabu (3/10) menyebutkan bahwa perempuan yang dikagumi banyak orang bisa juga tergelincir. 

Apakah Ratna Sarumpaet mengalami apa yang namanya post famous syndrom

Berikut ini pemaparan psikolog Rose Mini disampaikan pada Tagar News, Kamis (4/10).

Rose Mini: Orang Bicaranya Teriak-teriak Belum Tentu Perilakunya Seperti Itu

Pada waktu Ratna Sarumpaet minta maaf itu sebetulnya sudah suatu tindakan yang baik bahwa dia sudah mengakui kesalahannya. Itu harus dihargai. Berikutnya yang harus dilihat lagi adalah apa motivasinya, itu yang mesti dicari. Dia memberikan pernyataan itu ke anaknya untuk apa, apakah dia malu dengan dia melakukan oplas (operasi plastik) sehingga dia mencari alibinya bahwa dia dipukul atau ada motivasi lain mengapa dia harus ngomong itu ke anaknya.

Saya melihat ia ingin mendapatkan perhatian, dalam arti bahwa agar orang tahu eksistensi dia, kehadiran dia. Dia sangat vokal di mana-mana, jadi dia pikir dengan kasus seperti ini dengan dia seperti babak belur begini orang akan melihat.

Cuma menurut saya, Ratna Sarumpaet itu kayak kurang punya kejelihan, terlalu naif. Kan bisa ditelusuri kalau kayak begitu. Jadi sebetulnya ini niat untuk membohongi orang, atau sebetulnya ini awalnya memang tidak niat benar, tapi hanya untuk iseng-iseng. Kemudian sudah terlanjur ngomong lalu dia malu untuk menarik kembali sampai terbentur ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pernyataan itu hoaks.

Dia pasti tidak berpikir panjang. Cara dia mengambil keputusan itu bukan dengan pemikiran yang jernih. Padahal dia bukan anak kecil lagi, dia vokal menghadapi apa-apa, kok dia bisa melakukan hal ini. Menurut saya sepele banget.

Tadinya melihat sosok Ratna Sarumpaet kadang-kadang membela rakyat yang lemah atau apa. Tapi sekarang melihatnya jadi berbeda karena tercemar dengan apa yang dilakukannya sendiri. Dan yang paling jelas adalah pada waktu dia melakukan hal ini, dia betul-betul tidak melihat dampak kepada keluarganya, lingkungannya. Dia tidak melihat sama sekali. Ini citranya dia dengan sendirinya pasti hancur. Sudah tidak bisa dijadikan orang yang bisa dipandang atau mewakili masyarakat.

Orang yang bicaranya teriak-teriak belum tentu perilakunya seperti itu. Bisa jadi, makin keras berteriak seseorang sebenarnya sedang menutupi masalahnya, keuangannya, dan sebagainya. Tapi yang jelas dia mencemarkan namanya sendiri, membuat orang tidak percaya sama dia.

Semua cita-citanya jelas sudah terkubur dengan cara ini. Untuk orang selevel dia terlalu naif caranya berbohong. Dia ternama, gampangkan dicari, kapan masuk rumah sakit, rumah sakit mana bisa ketahuan. Masa' dia tidak terpikir bahwa dia akan ketahuan. Menurut saya terlalu naif. Apa dia khilaf atau iseng untuk anak-anaknya. Tapi tiba-tiba sudah terlanjur tersebar ke mana-mana, terus dia lanjutkan bohongnya. Ternyata ketahuan, baru dia sadar. Orang selevel dia bisa buat hoaks, terus dia bilang ini hoaks terbaik.

Saya melihat dia khilaf, kemudian dia sadar dan minta maaf. Dia tahu salah, bisa dituntut habis-habisan karena membohongi publik. []

Berita terkait
0
Pengamat Sebut Kebijakan Susi Langgar Regulasi
Menteri Kelautan dan Perikanan Eddy Prabowo diminta tidak melanjutkan kebijakan penenggelaman kapal karena melanggar banyak regulasi.