Al-Bab, Suriah - Rabeh Salim adalah warga Suriah, ayah lima anak. Konflik yang berkecamuk di negerinya membuatnya kehilangan satu kaki. Walaupun demikian ia terus bertahan hidup untuk menafkahi keluarganya.

"Setelah saya kehilangan kaki saya, saya harus menemukan pekerjaan, profesi yang dapat saya kerjakan dengan tangan saya untuk mengurus keluarga saya," kata Rabeh Salim pada wartawan Kantor Berita Anadolu di Kota Al-Bab di Suriah Utara. 

Selim memutuskan untuk memperbaiki televisi dan membuka kedai di kota itu.

Hari-hari terbaik saya adalah sebelum perang meletus. Kami aman dan bahagia, memiliki pekerjaan dan dapat pergi ke mana saja kami mau.

Ia seorang insinyur listrik, bekerja di satu pembangkit listrik sebelum perang meletus. Ia dipaksa meninggalkan kota kelahirannya Tadmur (Palmyra kuno) di Provinsi Homs di Suriah Barat empat tahun lalu.

"Saya kehilangan kaki saya dalam satu serangan udara oleh pasukan rezim Bashar al-Assad sewaktu saya sedang memperbaiki satu generator di Tadmur," katanya.

"Kenyataan bahwa saya kehilangan satu kaki membuat saya merasa lumpuh, anak-anak saya juga tak pernah memandang saya dengan cara yang berisi kepercayaan besar," kata Selim, Sabtu malam 20 April 2019.Mulanya ia takut anak-anaknya akan memandang dia secara berbeda.

"Kenyataan bahwa saya kehilangan satu kaki membuat saya merasa lumpuh, anak-anak saya juga tak pernah memandang saya dengan cara yang berisi kepercayaan besar," kata Selim, Sabtu malam 20 April 2019.

"Jika datang satu hari saat saya akan kehilangan tangan, saya masih akan menemukan sesuatu untuk saya kerjakan, saya akan tetap kuat sebab saya memiliki keluarga yang harus saya rawat," ia menambahkan.

Sebanyak 1,5 juta orang di Suriah sekarang hidup dengan cacat permanen, termasuk 86.000 orang kehilangan anggota tubuh, kata PBB.

Ratusan ribu orang telah tewas dan lebih dari 10 juta orang kehilangan tempat tinggal, kata PBB, dalam konflik yang memporak-porandakan negeri itu sejak 2011, ketika Pemerintah Bashar menindas demonstran dengan kekuatan yang tak terjadi sebelumnya.

Hari-hari Terbaik

Selim mengatakan meninggalkan rumahnya dalam ketidakpastian mengenai masa depan anak-anaknya. Ini menjadi keprihatinan utamanya.

"Perang itu mengerikan, bergelimang darah. Itu berakhir dengan kematian, air mata dan pengungsian paksa," katanya.

Perang telah merampas banyak anggota keluarga dan hartanya.

"Hari-hari terbaik saya adalah sebelum perang meletus. Kami aman dan bahagia, memiliki pekerjaan dan dapat pergi ke mana saja kami mau," katanya.

Tiga anaknya dilahirkan sebelum perang meletus. Ia menyatakan dulu bisa melayani semua keperluan mereka. Dua anak lagi dilahirkan setelah 2011, ketika kondisi sulit telah melanda.

Ia mengatakan bahwa ketika sekolah dibuka lagi di Al-Bab anak-anaknya mulai bersekolah, tapi itu tidak cukup buat pendidikan mereka.

"Apa yang paling saya takutkan ialah masa depan anak-anak saya sebab tak ada keamanan," katanya.

"Saya tak mau tetap tinggal di Suriah, sebab istri saya dan saya dibesarkan dengan cara yang sangat indah oleh keluarga kami dan saya ingin membesarkan anak-anak saya dengan cara yang sama," katanya.

"Saya hidup hari ini untuk menyediakan masa depan, tapi saya tak bisa berpikir lebih jauh dari ini, kami tak mempunyai masa depan di Suriah," ia menambahkan. []

Baca juga: