Indonesia
PSI vs PKS, Pertarungan Abadi Dua Narasi
PSI vs PKS, Pertarungan Abadi Dua Narasi. Tulisan opini Eko Kuntadhi.
Ilustasi - Bendera PSI dan Bendera PKS. (Tagar/Regita Putri)

Oleh: Eko Kuntadhi*

Ketua Umum PSI Grace Natalie sudah mengeluarkan pernyataan. Berangkat dari hasil QC, PSI tidak bisa mengumpulkan suara sampai 4%. Artinya tidak lolos ke Senayan. Suara PSI diperkirakan hanya sekitar 2% saja. Atau meraup 3 juta suara.

Sebagai partai baru yang digawangi anak-anak muda, pencapaian itu masih lumayan. PSI bisa melewati suara Hanura, PBB dan beberapa partai baru lainnya.

Kalau diperhatikan suara PSI banyak terkonsentrasi di kalangan perkotaan. Di Jakarta posisi PSI menempati peringkat empat. Di Surabaya juga signifikan. Semarang atau Medan juga lumayan. Artinya partai ini akan menempatkan orang-orangnya di kursi legislatif daerah.

Wajar saja. Narasi yang dibangun PSI memang baru bisa ditangkap kalangan perkotaan. Soal intoleransi. Soal antikorupsi sampai isu poligami. Selain karena infrastruktur partainya juga belum matang sampai ke pelosok.

Pasar PSI dan PKS sama-sama kota besar. Kalangan kelas menengah terdidik. Tapi yang membelahnya adalah ideologi. PKS mengandalkan politisasi agama. PSI justru menolak hal itu.

Saya jadi ingat PKS dulu. Ketika awal ikut Pemilu menggunakan nama Partai Keadilan. Mereka juga gak bisa masuk Parlemen pusat. Suaranya kurang. Sebagian besar berada di kota besar. PSI dan PK dibangun oleh anak-anak muda terpelajar.

Bedanya PK mengandalkan narasi keagamaan. Jaringan tarbiyah yang sudah dibangun lama dikonversi menjadi kekuatan partai. Isu yang mereka bangun sejak awal juga mirip: bersih, profesional, peduli. Meski pada perjalanannya ulah orang PKS sama saja. Tukang korup juga. Penjahat demokrasi juga. Tapi mereka terus memainkan narasi agama untuk mempertahankan keberadaannya. Makanya pada Pemilu berikutnya setelah berganti menjadi PKS, mereka berhasil meraih suara.

Sedangkan PSI relatif tidak sempat membuat jaringan seperti itu. Tapi mereka sadar, ada lapisan masyarakat terdidik yang muak dengan ulah politisi yang menunggangi Islam. Justru narasi yang dikembangkan PSI adalah antitesa dari narasi PKS. Anti intoleransi. Anti politisasi agama. Anti poligami.

Pasar PSI dan PKS sama-sama kota besar. Kalangan kelas menengah terdidik. Tapi yang membelahnya adalah ideologi. PKS mengandalkan politisasi agama. PSI justru menolak hal itu.

Untuk memperkuat posisitioningnya, Sekjen PSI Raja Juli Antoni bahkan mengatakan partainya tidak akan pernah berkoalisi dengan PKS. Sebab kehadiran PSI justru untuk melawan narasi yang dikibarkan PKS.

Jika kita baca pertarungan politik di Indonesia belakangan ini diwarnai oleh dua narasi besar ini. Pilkada DKI Jakarta adalah contoh konkret pertarungan dua wacana politik. Yang satu membawa jargon agama. Satunya lagi menolak agama dibetot ke dalam pusaran politik.

Kelompok yang membawa jargon agama diwakili PKS, HTI, FPI, GNPF, FUI dan sejenisnya. Di sana bergabung juga Gerindra dan PAN. Meskipun partai nasionalis tetapi sudah ketularan politisasi agama. Kelompok-kelompok Islam garis keras berada pada barisan yang sama.

Perlawanan dilakukan oleh anak-anak muda. Sebagian besar mereka akhirnya bergabung dalam PSI. Semangat perlawanan pada Pilkada Jakarta itulah yang menjadi modal mereka.

Sayangnya, waktu begitu pendek. Sebagai partai PSI belum sempat membangun infrastruktur partai sampai ke pelosok. Narasi besar mereka tidak didengar orang-orang di desa. Makanya suara PSI hanya terkonsentrasi di perkotaan saja.

Bagi PSI, 3 juta suara adalah modal yang tidak kecil. Mereka akan mewarnai pertarungan di level daerah. Artinya partai anak muda ini punya kesempatan untuk menunjukkan jati dirinya di DPRD. Itulah momen yang tepat untuk terus-menerus membangun narasi perlawanan.

Ke depan PSI perlu membangun infrastruktur partai lebih serius. Membangun narasi keindonesiaan sebagai antitesa dari politisasi agama yang dimainkan PKS. Jika diteruskan, PSI punya masa depan yang lebih baik.

Sebab sebagian rakyat mulai gerah dengan politisasi agama. Kita sudah muak Tuhan dipaksa ikut kampanye. PSI harus tampil menjadi lawan tangguh dari mereka yang menunggangi Islam hanya demi keuntungan politik semata.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Baca juga:

Berita terkait
0
Sikap GAMKI, Ansor, dan 9 Organisasi Terkait Papua
GAMKI, GP Ansor dan 9 organisasi kepemudaan menyatakan sikap terhadap peristiwa di Malang dan Surabaya terkait persekusi mahasiswa Papua.