Produktivitas Sektor Pertanian Indonesia Masih Rendah

Perluasan lahan tidak menjamin peningkatan produktivitas pangan nasional.
Ilustrasi sektor pertanian (Foto: Tagar/Dok.UNP)

Jakarta - Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menilai, perluasan lahan tidak menjamin peningkatan produktivitas pangan nasional. Sebaliknya, malah berpotensi merusak lingkungan serta memperparah krisis iklim, sehingga tidak boleh dijadikan solusi utama dalam menjawab tantangan pangan Indonesia. Selain belum tentu bisa membantu kekurangan stok pangan yang terjadi di Indonesia, karakteristik lahan yang dibuka untuk pertanian juga belum tentu cocok.

“Jumlah penduduk terus meningkat. Namun jumlah lahan yang tersedia akan tetap sama dan harus berbagi dengan kebutuhan infrastruktur dan industrialisasi. Sehingga, kemampuan produktivitas di lahan pertanian yang ada harus ditingkatkan untuk bisa mengikuti pertumbuhan permintaan makanan,” kata Felippa kepada awak media di Jakarta, Selasa, 12 Oktober 2021.

Menurut Feliippa, produktivitas sektor pertanian di Indonesia masih rendah karena kurangnya riset dan inovasi untuk asupan yang unggul, serta keterbatasan adopsi praktik budidaya yang baik dan penggunaan teknologi pertanian. Contohnya, dalam komoditas padi, pencetakan sawah baru apalagi di lahan gambut akan menghabiskan waktu yang lama. 



Sebaiknya pemerintah tidak mengulang kesalahan dengan menciptakan program pencetakan sawah secara masif, tapi memperkuat produksi pangan yang ada dengan mendukung riset dan inovasi asupan dan teknologi pertanian.



“Proyek mencetak lahan sawah baru tidak tepat untuk meningkatkan ketahanan pangan. Jika dilakukan secara tergesa-gesa, proyek pencetakan lahan sawah baru yang memakan modal besar ini malah menimbulkan risiko gagal panen yang merugikan petani dan risiko kerusakan lingkungan yang lebih besar,” ungkapnya.

Felippa menjelaskan, program cetak sawah dengan membuka lahan juga berisiko mengancam ekosistem yang ada hingga merusak keseimbangan lingkungan. 

''Sebaiknya pemerintah tidak mengulang kesalahan dengan menciptakan program pencetakan sawah secara masif, tapi memperkuat produksi pangan yang ada dengan mendukung riset dan inovasi asupan dan teknologi pertanian,'' ujarnya.

Felippa menambahkan, pemerintah juga harus berupaya meningkatkan kapasitas petani agar lebih produktif, termasuk melalui kerja sama dengan pihak swasta. Penelitian CIPS merekomendasikan peningkatan produktivitas lahan maupun tenaga kerja melalui penggunaan bibit unggul, peningkatan akses pada pupuk, penanganan serangan hama/Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan penggunaan alat mesin pertanian atau mekanisasi.

"Selain itu, juga dapat dilakukan perbaikan teknik budidaya, perbaikan dan perluasan jaringan irigasi, modifikasi cuaca untuk mitigasi perubahan iklim dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor pertanian," pungkasnya. []


Baca Juga






Berita terkait
Jokowi Minta Mentan Tingkat Produktivitas Pertanian di Papua Barat
Presiden Jokowi meminta agar Mentan Syahrul Yasin Limpo meningkatkan produktivitas sektor pertanian di Papua Barat
Jokowi Minta Produktivitas Pertanian di Papua Barat Ditingkatkan
Presiden Jokowi mendorong Papua Barat untuk menjadi produsen komoditas pertanian di wilayah Indonesia bagian timur
Electrifying Agriculture, Pertanian Modern di Era Digital
124 ribu petani di Indonesia telah bergabung dalam program Electrifying Agriculture untuk meningkatkan produktivitas dan memangkas biaya.
0
Produktivitas Sektor Pertanian Indonesia Masih Rendah
Perluasan lahan tidak menjamin peningkatan produktivitas pangan nasional.