Presiden Macron Serukan Agar Uni Eropa Bicara dengan Rusia

Seruan Macron agar Uni Eropa mengusahakan pembicaraan dengan pihak Kremlin memunculkan kekhawatiran adanya perpecahan yang berkembang
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam sebuah kesempatan di Paris, Prancis, pada 20 Januari 2022 (Foto: voaindonesia.com - Pool via AP/Christian Hartmann)

Jakarta – Seruan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, agar Uni Eropa mengusahakan pembicaraan dengan pihak Kremlin memunculkan kekhawatiran adanya perpecahan yang berkembang dalam tanggapan Barat terhadap ancaman invasi Rusia di Ukraina.

Macron di masa lalu mengalami kesulitan untuk meyakinkan mitra-mitranya di Uni Eropa agar mengelola sendiri keamanan kawasannya dan tidak terlalu bergantung kepada Amerika Serikat (AS). Pidato yang disampaikannya di hadapan anggota parlemen Eropa pada Rabu, 19 Januari 2022, di mana ia menyerukan agar blok itu merundingkan sebuah pakta keamanan dan stabilitas dengan Kremlin, disambut baik oleh media milik pemerintah Rusia.

Tetapi beberapa pemimpin Eropa Tengah dan Negara Baltik mengatakan pernyataan Macron tidak tepat waktu dan berisiko mendorong Kremlin untuk mengadu-domba Amerika dan Uni Eropa, serta menyebabkan sebuah perpecahan saat Amerika sedang menyerukan kesatuan di antara negara-negara Barat.

Mantan Perdana Menteri Swedia, Carl Bildt, mengatakan dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Macron tentang menciptakan “sebuah tatanan keamanan dan stabilitas yang baru.”

“Beberapa bulan kedepan ini, seharusnya ada seruan bagi pertahanan kuat terhadap tatanan pasca 1989 yang sudah ada,” demikian cuitnya di Twitter.

twit carlTweet Carl Bildt @carlbildt (Foto: voaindonesia.com)

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, telah mengatakan Rusia dapat “menyerang dalam tempo yang singkat.” Juga ada laporan bahwa Rusia telah memindahkan misil balistik Iskander jangkauan pendek ke perbatasan, dan menempatkannya dalam jarak yang mampu mencapai Kyiv.

Rusia telah mengerahkan sekitar 127 ribu pasukan di sepanjang perbatasan dengan Ukraina, demikian kajian intelijen Ukraina. Beberapa detasemen Rusia kini ada di Belarus, sekutu Rusia, dan ditempatkan semakin dekat ke perbatasan Ukraina, demikian menurut Conflict Intelligence Team (CIT), sebuah kelompok peneliti Rusia yang independen.

Menurut mereka, perangkat keras Rusia juga dilacak di kawasan Gomel, Belarus, yang tidak jauh dari Ukraina. Pejabat Rusia membantah bahwa mereka punya maksud untuk menyerang Ukraina, dan kehadiran pasukan Rusia di Belarus adalah untuk melakukan latihan militer gabungan (jm/em)/voaindonesia.com. []

Konsekuensi Berat Bagi Rusia Jika Invasi Ukraina

Menlu Jerman Kunjungi Rusia Usai Melawat ke Ukraina

Tindakan Terhadap Rusia Jika Moskow Serang Ukraina

Situasi Terkait Rusia-Ukraina Sangat Berbahaya

Berita terkait
Menlu Amerika Bertemu Menlu Rusia Bahas Ukraina
Ini keempat kalinya dalam sepekan terakhir di mana para pejabat AS dan Rusia terlibat dalam pembicaraan langsung
0
Kementerian Agama Siapkan Pengaturan Hewan Kurban di Tengah Wabah PMK
Menjelang dan pada Iduladha dan tiga hari tasyrik di Iduladha pasti kebutuhan hewan ternak terutama sapi dan kambing itu akan tinggi