Oleh: Denny Siregar*

"Kalau pemerintahan saya korupsi, biarlah rakyat yang menggantung saya."

Begitu dulu kata Soeharto, pada bulan Agustus 1970, ketika menerima perwakilan anti korupsi.

Sebelumnya, sebagai janji untuk menindak pemerintahan Soekarno yang "gagal memberantas korupsi", Soeharto membentuk TPK atau Tim Pemberantas Korupsi.

Sayangnya, TPK giginya ompong, apalagi ketika berbenturan dengan korupsi yang melibatkan pejabat. Bulog, PLN, Pertamina dikorup besar-besaran. Dan Soeharto sama sekali tidak pernah mengumumkan hasil tindakan TPK. Semua hasil laporan disimpannya di laci meja kerja.

Soeharto sendiri akhirnya tahun 2004, dinobatkan oleh majalah Transparency International sebagai diktator terkorup sedunia di abad ke-20. Korupsinya diperkirakan mencapai lebih dari 250 triliun rupiah dengan kurs sekarang.

Mungkin karena perilaku toleran itulah para koruptor senang di belakang Prabowo. Toh dimaafkan nantinya. Dan mereka akan mencoblosnya karena ada konsep pertemanan yang mengasyikkan, asal 'korupnya tidak seberapa'.

Dan gaya-gaya Soeharto ini mirip dengan gaya Prabowo ketika ditanya tentang korupsi. Prabowo seperti meremehkan korupsi di negeri ini dengan bahasa "mungkin korupsinya tidak seberapa" ketika ditanya Jokowi dalam debat tentang calegnya yang mantan terpidana korupsi.

Bahkan dalam pidatonya di kampanye akbar di GBK minggu kemarin, Prabowo berpidato, "Kita akan panggil koruptor itu, kita suruh taubat dan sadar, hei koruptor kembalikan uang kau curi itu. Kita sisihkan sedikit untuk mereka, untuk pensiun."

Dengar pernyataan Prabowo yang tampak toleran pada koruptor itu, Indonesia Corruption Watch ICW langsung bereaksi. "Koruptor kok dimaafkan, sikap toleran seperti itu justru tidak akan mengurangi perilaku korupsi."

Mungkin karena perilaku toleran itulah para koruptor senang di belakang Prabowo. Toh dimaafkan nantinya. Dan mereka akan mencoblosnya karena ada konsep pertemanan yang mengasyikkan, asal "korupnya tidak seberapa".

Beda dengan masa Jokowi yang kejam pada mereka....

Seruput....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: