Oleh: Eko Kuntadhi*

Menjelang debat Capres 2019, pasangan Capres dan Cawapres akan menemui mantan Presiden yang kini ketua Partai. Partai sang mantan kini masuk dalam koalisinya. Wajar kalau mereka minta arahan dari seniornya. Mereka sehingga bisa memenangi debat melawan Jokowi nanti.

Saya membayangkan, apa yang akan disarankan mentornya pada pasangqn Capres dan Cawapres itu?

Pertama, keduanya harus mulai memakai pomade pada rambutnya. Agar rambut Capres lengket dan berkilap seperti dilumuri lem. Belahannya juga harus terkesan tegas, seperti dibelah mengunakan kapak. Ini bisa disiasati membelah rambut bukan menggunakan sisir. Tapi serit.

Kenapa? Karena gigi serit lebih rapat dibanding sisir. Ini akan membuat rambut tertata lebih rapi. Tidak ada anak rambut yang berlarian seperti murid TK. Singkatnya kepala Capres dan Cawpares harus seperti prajurit baris. Teratur dan tertib.

Kedua, yang juga penting adalah soal pakaian. Pakaian seorang Capres harus berbahan tebal seperti kulit singkong. Agar terkesan berwibawa. Kalau perlu digosok dengan setrika uap. Sedangkan soal model, terserah. Bisa berkantong satu, dua atau empat.

Sekarang giliran sepatu. Kalau pakaiannya model safari, cocoknya menggunakan sepatu berwarna hitam, jenis pantofel. Bukan sepatu senam. Pasti diingatkan jangan sesekali memakai kaos kaki pemain bola. Apalagi kaos kaki berwarna pink atau garis-garis hijau.

Khusus buat Cawapres, diwanti-wanti jangan menggunakan leging. Apalagi lupa pakai daleman. Nanti ada yang menonjol. Malu sama ibu-ibu.

Mungkin disadari, Capres dan Cawapres yang mau maju harus perlente. Polesan pertama menyasar penampilannya. Sebab penampilan itu adalah hal yang paling penting dalam sebuah acara televisi. Wajah harus berseri, tidak boleh ada flek apalagi komedo.

Kalau bisa potongan muka jangan terlalu cubby. Bisa disiasati dengan memilih bronzer yang warnanya lebih gelap dari kulit pipi. Pulas bronzer ke cekungan pipi sampai dahi. Pastikan menggunakan kuas yang tepat.

Ingat. Penampilan itu nomor satu. Itu yang perlu diperhatikan.

Selanjutnya, yang paling penting adalah intonasi suara. Tekanan suara harus diusahakan agak mendayu-dayu dengan penekanan pada kata-kata tertentu.

"Mendayu seperti lagu Rhoma Irama?"

"Iya, yang judulnya Syahdu. Jangan pilih lagu Soneta yang judulnya Santai. Nanti kayak orang cegukan. Dungtolet, eeuu...."

Ketika bicara nanti, usahakan jangan menggebrak-gebrak meja. Sebab yang dihadapi pada debat Capres nanti adalah para penelis. Bukan peserta Ijtima Ulama. "Kamu harus lebih sopan."

"Ada lagi, Pak?"

"Ohh, ada. Sering-seringlah sampaikan kalau kamu prihatin. Misalnya, ketika menyampaikan visi-misi, kamu bilang saja. "Visi saya memprihatinkan Indonesia. Dan misi saya mengindonesiakan prihatin. Agar semua yang nonton pada prihatin."

"Baik, Pak. Terima kasih. Ada nasihat terakhir, Pak?"

"Ada. Saya prihatin sama kamu...."

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial