UNTUK INDONESIA
Pocong Perempuan di Rumah Tua Kotagede Yogyakarta
Ada ratusan hantu di rumah tua itu. Ada yang jahat dan baik. Satu yang sering iseng adalah hantu pocong bernama Sumi.
Halaman depan dan pintu utama rumah tua di Kotagede, Yogyakarta yang dikenal dengan rumah pocong Sumi, Rabu, 27 November 2019. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Sebuah rumah berusia ratusan tahun. Terletak di Jalan Mondorakan, Gang Soka, Kotagede, Yogyakarta. Rumah tersebut dihuni ratusan makhluk astral, termasuk pocong.

Pintu pagarnya hijau tua. Warna tembok rumah juga sudah memudar. Jendela kayu kuno terlihat terbuka pada satu sisinya. Di bagian halaman, ada pohon kamboja

Dan pemandangan dari luar tersebut sudah mengesankan nuansa seram. Membuat orang-orang memilih untuk tidak terlalu lama memandang rumah itu.

Terlebih kabar yang beredar dari mulut ke mulut, bahwa rumah itu dihuni oleh hantu pocong perempuan bernama Sumi. Kerap memunculkan diri sedang duduk di pagar rumah.

Saat memasuki halaman rumah, suasana mistis makin terasa. Meski halaman itu bersih, tanaman merambat yang dibentuk menyerupai pintu dan beberapa pohon bersulur cukup mampu membuat bulu kuduk berdiri. 

Di halaman, tepat di depan pintu masuk rumah, terdapat satu set meja kursi, lengkap dengan beberapa cangkir di atas meja. Cangkir-cangkir itu dipasang oleh penjaga rumah, Nono 57 tahun, sebagai hiasan.

Pendar keemasan cahaya mentari sore menyeruak melalui sela dedaunan. Menyinari atap rumah tua yang dikenal sebagai rumah pocong Sumi. Hangat sinarnya juga menghangatkan canda beberapa pengunjung rumah itu, Rabu, 27 November 2019.

Nono, mempersilakan Tagar untuk masuk ke dalam rumah. Dari luar, ruangan di dalam rumah terlihat samar, sesamar kejadian aneh yang mungkin saja dialami oleh siapa pun yang memasukinya.

Dalam kamar depan ini, ada Mbak Ayu. Wujudnya cantik tapi mukanya penuh luka.

Rumah Tua2Salah satu ruangan yang diyakinj dihuni oleh hantu Ayu. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Di sebelah kanan pintu masuk, terdapat kamar yang digembok dari luar. Kata Nono, kamar itu sudah tergembok sejak dirinya mulai menjaga rumah pada 2006 lalu. Di bagian dalam ruangan terdapat laci berisi perhiasan emas milik si empu rumah.

Meski pintu tergembok, pengunjung bisa melihat ke dalam kamar melalui jendela yang letaknya cukup tinggi. Tapi dibutuhkan kursi atau alat bantu lain untuk mencapai jendela kayu.

Di depan kamar, Nono meletakkan meja sebagai tempat puluhan batu akik jualannya. "Dalam kamar depan ini, ada Mbak Ayu. Wujudnya cantik tapi mukanya penuh luka. Dia korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Seluruh wajahnya berdarah-darah. Kalau Mbak Sumi di jendela yang terbuka di depan," jelas dia.

Saat memasuki pintu ruang utama rumah, suasananya tidak jauh berbeda dengan di luar, hanya sedikit lebih seram. Mungkin karena suasana temaram di dalam.

Hanya ada jendela dengan lubang pada bagian atasnya di sisi barat ruangan. Sinar matahari yang merangsek melalui lubang menjadi sumber cahaya di ruangan tersebut.

Cahaya dari situ tidak cukup mampu menerangi lorong di sebelah utara ruangan. Lorong yang menghubungkan ruang utama dengan dua kamar di dalam. Pintu masuk kamar terdapat di kiri dan kanan lorong.

Kamar di kanan lorong juga nyaris kosong, hanya ada wastafel yang menempel di dinding. Di kamar ini, satu-satunya kamar yang bisa dimasuki, suasananya lebih seram. Entah apa yang membuat terasa menjadi tidak nyaman.

Kamar yang satu lagi, berhadapan dengan kamar berisi wastafel, pintunya tertutup. Nono mengatakan, kamar itu dihuni oleh dua raksasa. Keduanya sangat agresif kepada siapa saja yang memasuki kamar tersebut.

"Kalau mau masuk, silakan tapi saya tidak tanggung resikonya, apalagi menjelang magrib begini. Isinya negatif, dua raksasa. Orang yang masuk bisa langsung pusing, muntah dan kemasukan," papar Nono.

Rumah Tua3Nono, sang penjaga rumah tua. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dibangun Tahun 1860

Rumah tua itu dibangun oleh seorang saudagar kaya di Kotagede bernama Atmo Sudigdo pada tahun 1860. Keluarga Atmo Sudigdo memiliki enam anak, salah satunya menjadi Menteri Agama pada masa Presiden pertama RI Soekarno.

"Beliau bernama Prof Haji Rasidi, lahir dan besar di sini. Setelah menjadi menteri, keluarganya diboyong ke Jakarta semua. Sejak saat itu tidak ada yang menghuni rumah ini," ucap Nono.

Dulunya Rasidi kuliah di Kairo untuk memperdalam ilmu agama Islam. Rasidi meninggal dunia pada tahun 2001 dan dimakamkan di Kotagede, tepatnya di belakang HS Silver.

Beliau bernama Prof Haji Rasidi, lahir dan besar di sini. Setelah menjadi menteri, keluarganya diboyong ke Jakarta semua. Sejak saat itu tidak ada yang menghuni rumah ini.

Rumah Tua4Seorang pengunjung berada di ruang utama rumah pocong Sumi. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Setelah rumah kosong, beberapa orang pernah menyewa dan menempatinya. Tapi mereka tidak pernah lama tinggal di rumah itu. "Saya juga kurang tahu kenapa kok di sini kayak tidak kerasan. Mungkin karena rumah kosong banyak makhluk astral yang masuk di sini," paparnya.

Saat ini rumah tersebut dimiliki oleh seorang pengusaha bakpia terkenal. Hanya saja, sejak Nono menjaga rumah itu 13 tahun lalu ia baru sekali bertemu dengan sang pemilik.

Dihuni Ratusan Makhluk Astral

Selain hantu pocong bernama Sumi, hantu wanita dengan wajah penuh darah bernama Ayu dan dua raksasa di dalam kamar, lanjut Nono, rumah itu juga dihuni oleh ratusan makhluk astral lainnya.

"Selain Mbak Sumi dan Mbak Ayu masih ada ratusan makhluk di sini, tak bisa dihitung. Paling banyak di halaman belakang," tutur Nono.

Pocong Sumi sering muncul di teras rumah atau duduk di pagar depan rumah. Tapi, menurut Nono, warga sekitar sudah terbiasa melihat penampakan itu sehingga mereka tidak takut.

"Kalau tetangga di sini sudah terbiasa, tidak takut. Tapi kalau orang belum pernah lihat ya takut juga," tutur dia

Selain memunculkan diri, Sumi juga sesekali ikut mengantar pengunjung pulang ke rumah, termasuk mereka yang melakukan foto prewedding atau pranikah di rumah itu.

"Yang foto-foto juga sering diantar pulang. Jadi ikut sampai di rumahnya baru balik lagi ke sini. Atau misalnya Mas sudah sering ke sini, nanti sekali waktu Mbak Sumi akan ikut antar tapi Anda tidak tahu bahwa dia mengantar Anda. Yang tahu atau melihat itu teman Anda. Bisa juga dia ikut membonceng di motor," kisahnya.

Selain Mbak Sumi dan Mbak Ayu masih ada ratusan makhluk di sini, tak bisa dihitung. Paling banyak di halaman belakang.

Rumah Tua5Teras depan rumah tua. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bukan hanya memunculkan diri dan mengantar tamu, sesekali Sumi juga berbuat iseng, termasuk memesan kuliner melalui aplikasi ojek online (ojol).

Beberapa pengemudi ojol pernah merasakan keisengan Sumi. Baik pesanan kuliner maupun order jemputan.

"Setelah mencari-cari dan ketemu rumahnya, tanya orang di sebelah sini, baru dikasih tahu bahwa Mbak Sumi itu bukan manusia tapi penunggu rumah kosong ini. Akhirnya orangnya maklum dan menerima," lanjut Nono.

Sekali waktu pernah juga Sumi mengirim kopi pada tamunya. Saat itu Sumi berubah wujud menjadi manusia dan memesan ojol, lalu mengirimkan kopi.

"Kopi beneran, Mas. Kan tamu sering ke sini, terus tamunya itu dikirimi kopi sama Mbak Sumi. Dia panggil gojek ke sini, dia kan membo-membo (berubah) menjadi manusia, setelah itu dia kirim untuk diantar ke si A, langsung dibayar juga ongkos ojeknya," paparnya.

Pengunjung Kesurupan

Rumah tua itu sekarang sering didatangi oleh pengunjung, mulai dari yang hanya berniat memotret hingga yang ingin berfoto pranikah.

Nono pun melanjutkan ceritanya. Para penunggu rumah tidak akan marah jika tamunya hanya berniat untuk memotret. Tapi mereka akan tersinggung jika pengunjung sengaja datang untuk mencoba menemui.

"Jangan mencoba di sini. Maksudnya kalau mengusik yang ada di dalam. Yang di dalam itu tidak senang diusik manusia. Misalnya ada tamu yang ingin ketemu makhluk yang ada di dalam, sebelum ketemu biasanya tamu itu sudah kabur ketakutan. Di sini bukan untuk coba-coba," ujarnya mengingatkan.

Makhluk astral penunggu rumah itu juga tidak suka jika pengunjungnya berisik. Jika teriak-teriak atau berbicara keras tak beraturan, biasanya tidak lama sesudah itu ia akan kesurupan.

"Misalnya sore seperti ini, dia teriak di dalam, akan tahu akibatnya nanti. Di sini setiap lima hari sekali pasti ada yang kesurupan. Kebanyakan putri dan menjelang magrib," imbuhnya.

Jika hal semacam itu terjadi maka Nono sebagai penanggung jawab rumah akan berupaya mengobatinya.

Terkait kesurupan itu, Nono mengisahkan, pernah ada delapan siswa SMP yang datang ke rumah itu pada siang hari. Mereka ingin masuk ke halaman tapi pintu pagar tergembok karena Nono sedang tidak ada di tempat.

"Mereka cari aku tapi nggak ketemu. Karena dia rumahnya jauh, wis diselakke rene ra ketemu aku (sudah disempatkan ke sini tapi tidak ketemu saya). Padahal ngepit (bersepeda), kepanasan. Akhirnya anak-anak itu lompat pagar, pas sampai di halaman sini, kesurupan massal. Ada videonya di Youtube," jelasnya.

Tapi jika pengunjung hanya berniat untuk memotret, sesekali mereka beruntung kameranya menangkap sosok makhluk yang dimaksud.

"Kalau pas motret kemudian ada tambahan obyek, ya itu untungnya dia. Yang penting niatnya bukan sengaja memotret untuk memburu makhluk yang ada," kata dia.

Nono juga menceritakan bahwa dalam kamar yang dihuni oleh hantu Ayu, juga terdapat tangan berukuran besar yang menjuntai dari atas. Tempatnya di sudut kanan kamar.

Jangan mencoba di sini. Maksudnya kalau mengusik yang ada di dalam. Yang di dalam itu tidak senang diusik manusia.

Rumah Tua6Boneka yang tergantung pada kusen yang menghubungkan jalaman depan dan belakang rumah tua. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Jika dalam kamar itu difoto melalui jendela, orang indigo dapat melihat tangan yang terjuntai tersebut.

"Ada tangan besar, kukunya sepanjang siku, jarinya sebesar itu. Padahal di situ cuma Mbak Ayu tok tapi ada tangan menjulur dari atas. Pas di pojok ruangan," ceritanya sambil menunjuk pohon pepaya berdiameter 10 sentimeter di luar rumah.

Sementara, seorang pengunjung, Inung, 44 tahun, mengaku dirinya merasakan hal aneh saat berada di dalam satu-satunya kamar yang bisa dimasuki di rumah tua. Dia mencium aroma yang sangat wangi di dalam kamar itu. 

Inung juga mengaku melihat sesosok nenek di sebelah kanan pintu kamar. "Memang di kamar aku mambu (cium aroma) wangi (harum) banget dan nang mburine mas e mau ono (di belakangnya mas tadi ada). Makane aku terus metu (makanya saya langsung keluar). Wujudnya kayak simbah-simbah (nenek-nenek)," ucapnya.

Tagar sendiri juga mencium sekelebat bau wangi saat berada di halaman depan rumah tapi aroma itu cepat menghilang. Saat menuju halaman belakang rumah, satu boneka kecil tampak tergantung pada kusen pintu.

Di halaman belakang, terdapat beberapa barang-barang seni yang ditata dengan cukup apik oleh Nono. Termasuk patung-patung dan seni instalasi dari batang kayu.

Pengunjung lain, Wiwik, 38 tahun mengaku tidak merasa merinding saat berada di rumah itu, baik di halaman depan, di dalam ruangan, maupun di halaman belakang.

"Tidak merinding, Mas. Mungkin karena niatnya cuma mau foto-foto. Tadi Pak Nono kan bilang kalau niatnya cuma foto-foto tidak apa-apa," ucapnya. []

Baca juga:

Lihat foto:

Berita terkait
Masjid Kotagede Mataram, Masjid Tertua di Yogyakarta
Masjid Kotagede Mataram usianya kini sudah hampir empat setengah abad. Masjid dibangun oleh Panembahan Senopati Sutowijoyo
Jumat Soren, Ngepit Wanci Longgar di Yogyakarta
Komunitas pecinta sepeda ontel, Jumat Soren, kegiatannya tidak sekedar bersepeda. Di komunitas ini juga menjadi ajang paseduluran antar anggota.
Miris, 21 Difabel di Yogyakarta Terinfeksi HIV
Kasus HIV/AIDS di Yogyakarta jumlahnya terus bertambah. Bahkan ada fenomea baru, di mana 21 penyandang disabilitas terpapar penyakit ini.
0
Nazar Hanung Bramantyo Lewat Film Mekah I'm Coming
Produser film Hanung Bramantyo mengucapkan nazar akan membantu korban penipuan biro travel untuk Umroh jika penonton Mekah Im Coming capai 1 juta.