Jakarta, (Tagar 7/2/2019) - Permadi Arya alias Abu Janda dan tim pengacara melayangkan somasi ancaman, gugat Facebook Rp 1 triliun dan mempolisikan Facebook atas tuduhan serius menyebut Abu Janda bagian dari produsen fitnah Saracen.

Hal itu disampaikan Permadi Arya kepada Tagar News, Senin (4/2). Somasi dan gugatan kepada Facebook akan dilayangkan besok, Jumat (8/2).

"Ada yang buat laporan palsu Abu Janda ini bagian dari Saracen dan Facebook percaya. Ini sungguh tuduhan keji," ujar Permadi Arya.

Gugatan ke polisi ditempuh, kata Permadi Arya, karena korespondensi melalui surat elektronik mengalami kebuntuan, tidak sampai pada titik temu.

Baca juga Disebut Saracen Oleh Facebook, Abu Janda: Itu Tuduhan yang Serius, Keji

Sebelumnya, Facebook Inc menghapus ratusan akun Indonesia yang disebut terhubung dengan sindikat berita palsu, Saracen.

Secara keseluruhan, ada 207 halaman, 800 akun Facebook, 546 grup dan 208 akun Instagram yang dihapus, termasuk akun milik Permadi Arya alias Abu Janda.

"Seluruh halaman, akun, dan grup ini memiliki hubungan dengan Saracen-grup sindikasi online di Indonesia," ungkap Nathaniel Gleicher, Head of Cybersecurity Policy lewat keterangan resminya.

Melalui halaman resminya, mereka memberikan beberapa contoh halaman dan grup yang dimusnahkan terkait akun penyebar hoaks ini.

Beberapa contoh halaman dan grup yang dihapus yaitu Permadi Arya (halaman), Kata Warga (halaman), Darknet ID (halaman), berita hari ini (Grup), ac milan indo (Grup).

Facebook Inc telah menghapus ratusan akun, halaman, dan grup Indonesia dari jejaring sosialnya setelah mengetahui mereka ditautkan dengan grup online yang dituduh menyebarkan ujaran kebencian dan berita palsu.

Polisi Indonesia mengungkap keberadaan kelompok itu, yang disebut Saracen, pada tahun 2016 dan menangkap tiga anggotanya karena dicurigai sebagai bagian dari sindikat yang dibayar untuk menyebarkan bahan pembakar secara online melalui media sosial.

"Akun dan halaman ini secara aktif bekerja untuk menyembunyikan apa yang mereka lakukan dan dihubungkan dengan Grup Saracen, sebuah sindikat online di Indonesia," ujar Nathaniel Gleicher.

"Mereka telah menggunakan pesan yang menipu dan jaringan halaman dan akun yang disembunyikan untuk mendorong narasi yang sering memecah-belah atas isu-isu utama dari debat publik di Indonesia," kata Gleicher.

Jejaring sosial terbesar di dunia ini mendapat tekanan dari regulator di seluruh dunia untuk memerangi penyebaran informasi yang salah pada platformnya. Pada bulan Januari, ia mengumumkan dua pusat operasi regional baru yang berfokus pada pemantauan konten terkait pemilu di kantornya di Dublin dan Singapura.

Indonesia saat ini menjelang pemilihan presiden yang akan berlangsung pada bulan April, dengan pengawas internet menandai dampak berita palsu sebagai keprihatinan.

Indonesia diperkirakan menjadi pasar terbesar ketiga Facebook, dengan lebih dari 100 juta pengguna.

Unit kejahatan cyber kepolisian Indonesia sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa Saracen memposting materi yang melibatkan masalah agama dan etnis, serta berita dan pos palsu yang memfitnah pejabat pemerintah.

Negara ini memiliki populasi 260 juta orang dengan beragam etnis, dengan mayoritas besar muslim tetapi dengan minoritas agama yang signifikan, dan memastikan persatuan di seluruh nusantara telah menjadi prioritas pemerintah. []